
“hoaaamm…mau sarapan apa nih?” tanya Ines sambil menguap kepadaku dan Jihan.
Saat ini aku, Jihan, dan Ines sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan. Ketika aku dan Jihan akan mengambil wudhu, kami berpapasan dengan Alfi, Bian, dan Mas Bagas yang hendak berangkat ke masjid untuk melaksanakan solat subuh. Sebelum berangkat, Mas Bagas tiba-tiba memberitahu jika pagi ini ia harus pergi ke kota. Awalnya kami bertanya apakah Mas Bagas pergi ke kota untuk menjemput Bu Rima, namun ternyata Mas Bagas pergi karena ada urusan lain. Mas Bagas berkata jika Bu Rima akan kembali Minggu sore akhirnya.
Awalnya Mas Bagas berkata ingin sarapan diluar saja, namun aku dan Jihan melarangnya dan berkata bahwa Mas Bagas diizinkan pergi setelah sarapan. Akhirnya aku dan Jihan memutuskan untuk menyiapkan sarapan selepas solat subuh dan Ines terpaksa mengakhiri mimpi indahnya karena kami paksa bangun.
“bentar lagi mereka kan balik tuh abisnya kajian selesai, biar gak nunggu lama mending bikin sandwich aja deh…kemarin gue sempat beli roti tawar agak banyak sih” kataku sambil mencari keberadaan roti tawar tersebut, “kita bikin dua lapis biar sesuai sama porsi cowok, ntar abisnya sarapan sama bersih-bersih rumah gue bikin kue buat camilan sebelum makan siang kalau anak cowok udah lapar lagi” lanjutku.
“bebas deh. Oiya Dem, nanti buat Mas Bagas dibikin dua porsi ya…buat bekal dia di jalan” usul Jihan.
“boleh, tapi nanti kamu yang kasih ya…takutnya kalau aku yang kasih dan ketahuan Bian, ntar kayak semalam lagi…ribet” Jihan dan Ines tertawa kecil mendengar jawabanku. Memang mereka sudah mengetahui cerita antara aku dan Bian semalam.
“iya deh ya…beda emang kalau udah ada pemiliknya” ledek Jihan sambil tersenyum penuh arti kepadaku. Aku hanya memutar bola mataku.
Akhirnya kami mulai menyiapkan bahan untuk membuat sandwich dan teh sebagai menu sarapan kami pagi ini. Menu sandwich kali ini berisi kornet pada lapisan bawah dan telur mata sapi pada lapisan atas. Ines kebagian memanggang roti tawar agar terasa crunchy dan membuat teh, Jihan memasak telur mata sapi serta memanaskan kornet, sedangkan aku menyiapkan sayuran dan keju sebagai pelengkap serta menyusun sandwich. Aku memberi selada beserta irisan timun, tomat, juga taburan keju parut serta tidak lupa menuang mayones dan saus di setiap lapisannya.
“woahhh sandwichnya gemuk…pasti kenyang ini kita” ucap Ines yang berbinar melihat sandwich yang sudah kususun.
Kami selesai membuat sarapan bertepatan dengan pulangnya Alfi, Bian, dan Mas Bagas dari masjid. Setelah berganti pakaian, Mas Bagas langsung menuju ruang tengah tempat kami melakukan sarapan disusul dengan Alfi, Bian, dan Devan yang terlihat masih belum sadar sepenuhnya.
Ines langsung mengambil sandwich milik Devan dan menempelkannya di bibir Devan. Devan yang belum mau membuka matanya mengernyit merasakan benda asing yang menempel di bibirnya. Lidah Devan mulai menjilat bibirnya sendiri karena saus dari sandwich yang menempel di bibirnya. Aku menggelengkan kepala melihat tingkah Ines dan Devan. Saat melihat Bian, aku langsung mengambil jatah sandwich miliknya dan memindahkannya ke piring kecil.
“ini sarapannya” kataku lembut yang langsung diterima Bian sambil tersenyum dan mengucap terima kasih.
“kamu gamau kayak Ines dan Demi, my baby Jihan??” celetuk Alfi yang iri melihat keromantisan Ines dan Devan juga aku dan Bian.
“gausah manja, punya tangan kan? Kalau mau diambilin tuhh minta sama Mas Bagas sana” ucap Jihan ketus.
Mendengar namanya disebut, Mas Bagas langsung mengambil sandwich untuk Alfi. Alfi menerimanya dengan cemberut sehingga kami menertawakan ekspresi Alfi.
“oiya Mas Bagas…ini tadi kita buatkan sandwichnya dua untuk Mas Bagas ya…nanti yang satu lagi buat bekal di jalan” kata Jihan sambil memasukkan sandwich milik Mas Bagas yang satunya kedalam kotak makan.
__ADS_1
“oh iya Mbak Jihan…makasih udah repot-repot disiapkan” ucap Mas Bagas ketika menerima kotak makan dari Jihan. Jihan hanya mengangguk sambil tersenyum.
“emang mau kemana mas?” tanya Devan yang belum mengetahui berita tersebut.
“ada urusan ke kota. Paling nanti pulangnya pas makan malam. Nanti aku kabarin ke Demi aja kalau pulangnya telat” jawab Mas Bagas sambil tersenyum menatapku. Kurasakan Bian menegang disampingku melihat sikap Mas Bagas, “kamu masih nyimpan nomorku kan?” tanya Mas Bagas santai, menghiraukan tatapan Bian yang mulai tidak ramah.
“oh…eh…i-iya masih mas…nanti kabarin aja” balasku sambil tersenyum canggung.
Dulu setelah aku kembali ke Bogor, Mas Bagas berhasil menemukan akun instagramku dan mengirim pesan melalui DM untuk meminta nomorku. Aku yang awalnya menolak akhirnya memberikan nomorku setelah Mas Bagas mengatakan jika dirinya juga mengirim pesan DM ke teman-temanku yang lain untuk meminta nomor HP-nya. Ketika aku tanya di grup cemara, tidak ada yang dihubungi oleh Mas Bagas melalui DM untuk diminta nomor HP-nya. Ternyata itu hanya alibi dari Mas Bagas yang kemudian menerorku karena masih belum menerima jika aku telah menolak perasaannya. Untungnya Mas Bagas berhenti menghubungiku setahun kemudian setelah aku tidak kunjung meresponnya dengan baik.
Bian langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengucapkan apapun setelah menyelesaikan sarapannya. Mas Bagas yang tetap terlihat santai setelah membuat Bian cemburu juga langsung bergegas menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Setelah kepergian Bian dan Mas Bagas, suasana menjadi canggung.
“gue coba ngomong sama Bian ya Dem” kata Alfi setelah menyelesaikan sarapannya dan langsung menuju kamar menyusul Bian.
“sabar ya Dem…Bian lagi bucin-bucinnya sama lo jadi dia belum bisa ngontrol rasa cemburunya” aku tersenyum lemah sambil menganggukkan kepala ketika Devan mencoba menghiburku.
Setelah menepuk pelan pundakku, Devan juga mengikuti masuk ke dalam kamar untuk membantu Alfi berbicara dengan Bian. Aku, Jihan, dan Ines langsung membereskan sisa sarapan kami setelah kepergian para cowok dan mulai berbagi tugas untuk membersihkan rumah Bu Rima.
“Dem…kamu serius gamau dibantu bikin bolunya?” tanya Jihan yang memunculkan kepalanya di jendela dapur.
“aku bisa sendiri kok Ji” jawabku lesu, “oiya aku sedang ingin sendiri dulu Ji. Biasanya kalau bikin kue moodku nanti bisa membaik” Jihan yang paham dengan kondisiku langsung pergi meninggalkanku.
Aku senang ternyata Bian benar-benar menyayangiku yang dibuktikan dengan dia cemburu ketika Mas Bagas secara terang-terangan menunjukkan perasaannya padaku, tetapi aku juga kesal melihat sikap Bian yang berlebihan menujukkan rasa cemburunya. Aku takut jika kedepannya Bian akan memiliki sikap posesif padaku yang berimbas pada interaksiku dengan orang lain di kehidupanku sehari-hari. Aku sebenarnya ingin berbicara dari hati ke hati agar Bian bisa mengontrol emosi dan perasaannya, tapi Bian masih tetap pada keegoisannya. Baru hari pertama kami menjalani hubungan ini tapi benih-benih permasalahan mulai tumbuh subur.
Perasaanku membaik setelah aku berhasil membuat bolu. Hanya membuat bolu kukus sederhana saja bisa mengobati kesedihanku. Aku mulai memindahkan bolu tersebut ke piring dan langsung membawa masuk ke dalam rumah. Kulihat Alfi, Devan, Jihan, dan Ines sedang tiduran santai di ruang tengah. Mereka langsung bangun ketika mencium aroma bolu kukus yang kubawa.
“asikk…akhirnya bisa nyicipin kue langsung dari chefnya” ucap Alfi yang langsung mengambil satu buah bolu dan memakannya.
“euummm” gumam Alfi sambil mengunyah bolu tersebut, “kayaknya kalau beli di toko harus ngeluarin duit banyak ini…soalnya pasti mehong harganya. Orang enak kayak gini” komen Alfi setelah menelan bolu pertamanya.
“iya weh…kapan lagi coba bisa makan kue mahal gratis” lanjut Devan yang ikut berkomentar.
__ADS_1
“alhamdulillah…senang gue kalau kalian suka. Oiya Bian masih dikamar?” tanyaku ketika melihat pintu kamar Bian masih tertutup.
“masih Dem…kalau mau ngasih bolu ketuk aja” jawab Devan sambil mengunyah.
Aku mengambil tiga buah bolu yang kulapisi dengan tisu, kemudian aku berjalan menuju kamar Bian.
“Bian” panggilku sambil mengetuk pintu, “ini aku tadi bikin bolu…aku masuk ya??” lanjutku.
Saat aku hendak membuka pintu kamar, terdengar suara pintu yang dikunci dari dalam. Mulutku terbuka lebar karena terkejut melihat perlakuan Bian kepadaku saat ini. Alfi, Devan, Ines, dan Jihan yang juga mendengarnya ikut terkejut dengan tingkah Bian. Aku langsung meletakkan bolu yang kubawa ke tempat semula secara kasar, kemudian segera berlari keluar rumah. Aku menghiraukan Ines dan Jihan yang berteriak memanggilku.
Aku berlari menuju rumah pohon di taman hutan pinus dan langsung menangis sepuasnya. Mengapa aku meragukan hubungan kami? Apa diantara aku dan Bian atau kami tidak siap dalam menunjukkan perasaan kami saat ini? Telah lama aku menantikan momen ini, momen dimana aku mendapatkan jawaban dari apa yang kuharapkan selama ini. Namun ketika aku mendapatkan apa yang kuharapkan, mengapa justru aku menjadi ragu dengan semuanya? Apakah aku dan Bian memang tidak ditakdirkan sebagai pasangan?
Perlahan aku mulai bisa mengendalikan diriku agar lebih tenang. Tiba-tiba terdengar suara langkah seseorang yang menaiki tangga rumah pohon. Aku langsung menghapus sisa air mata di pipi dan mengusap wajahku kasar.
“kalau melihat kalian saat ini, jadi inget awal gue jadian sama Devan dulu” aku melihat sekilas ke samping ketika Ines duduk disampingku.
“Bian itu seperti Devan, sama-sama posesif dengan apa yang sudah diklaim menjadi miliknya dan mereka tidak akan segan-segan melakukan sesuatu ketika mengetahui miliknya diusik oleh orang lain. Cuman bedanya Devan masih bisa mengekspresikan dan mengendalikan emosinya. Dia akan berterus terang tentang apa yang dirasakannya kepada orang yang disayanginya, sedangkan Bian akan memendam perasaan itu yang berakhir dengan menyakiti dirinya sendiri maupun orang yang disayanginya” lanjutnya.
“waktu dulu lo awal jadian sama Devan gimana? Bukannya dulu kalian langsung LDR gak lama setelah KKN karena Devan dapet rekomendasi dari dosennya untuk melakukan penelitian di Jepang buat skripsinya?” tanyaku sambil melihat Ines di sampingku.
“Dulu awal kami pacaran juga sama seperti kalian, bahkan mungkin lebih parah karena posisinya saat itu kami sedang LDR, hanya bisa berkomunikasi dan menyelesaikan semuanya via telepon atau video call. Inti dari semua permasalahan yang terjadi yaitu kepercayaan. Kepercayaan itu merupakan dasar yang paling penting dalam membangun sebuah hubungan. Ibarat rumah, kepercayaan itu seperti fondasi. Kalau fondasinya saja sudah terlihat rapuh di awal, rumah itu pasti tidak akan mampu bertahan lama” lanjutnya.
“sorry kalau gue bilang kayak gini, tapi gue melihat hubungan kalian itu cenderung terburu-buru. Gue tau kalian udah kenal lama dari sejak KKN dan setelah KKN juga kalian sering bertemu sampai akhirnya berpisah setelah lulus. Gue anggap kalian disitu sudah saling mengetahui kepribadian masing-masing. Tapi setelah lulus kalian berpisah selama 4 tahun lamanya. Disitu kalian benar-benar lost contact, gaada komunikasi sama sekali dan setelah ketemu kalian langsung jadian. Apa lo gak ngerasain sesuatu yang aneh gitu?” aku terdiam mendengar penuturan Ines.
“ya emang sih dulu kalian sempat akrab, tapi apa kalian dulu pernah membahas atau menyinggung tentang perasaan kalian?” aku hanya memasang raut wajah bingung mendengar pertanyaanya, “kalau melihat raut wajah lo…pasti gak pernah. In the end kalian akhirnya cuman memendam perasaan kalian masing-masing dan itu sangat mempengaruhi diri kalian selama 4 tahun terakhir” lanjutnya.
“gue bukannya gak setuju kalau lo langsung pacaran sama Bian. Lo sendiri juga tau kalau dulu gue jadian sama Devan setelah beberapa kali ibadah bareng, gak lama juga pendekatannya. Kalau gue boleh kasih saran, coba deh lo melakukan pendekatan lagi dengan Bian pasca perpisahan. Seperti yang gue bilang di awal, Bian dan Devan itu memiliki kepribadian yang berbeda walaupun mereka sama-sama posesif. Coba lo pahamin bagaimana kelebihan dan kekurangnnya dan buat dia memahami diri lo yang sekarang setelah 4 tahun lo gak bersamanya. Gue yakin pasti ada perubahan sedikit dalam diri Bian dan lo setelah lulus kuliah. Kalau ada kekurangan yang sekiranya bisa menjadi racun dalam hubungan kalian, coba kalian cari solusinya dalam menutupi kekurangan itu. Memang pasti akan menguras emosi pada awalnya, tapi lambat laun pasti kalian bisa mengendalikannya dan akhirnya kepercayaan itu akan terbentuk dan menguat dengan sendirinya” aku memikirkan saran yang diberikan oleh Ines.
“thanks Nes, lo udah menjawab keraguan dalam diri gue. Mungkin gue dan Bian harus lebih lama merefresh kedekatan kami yang sempat memudar setelah berpisah agar lebih siap lagi dalam menjalani hubungan serius” ucapku mulai tersenyum kembali. Ines langsung memelukku ketika keadaanku membaik.
...****************...
__ADS_1