
Samar-samar aku mendengar suara yang berasal dari HP-ku yang berada diatas nakas. Aku sudah hafal bahwa itu suara nada dering panggilan. Tanpa melihat caller ID, aku langsung menggeser tombol hijau dan menjawab panggilan itu.
“halo…” sapaku dengan suara serak khas orang baru bangun tidur
“selamat pagi tukang tidur…gak berubah ya lo dari dulu hobinya molor terus” balas orang tersebut yang terkekeh mendengar sapaanku. Wait…kayaknya aku kenal dengan suara ini. Kesadaranku terkumpul sepenuhnya saat melihat caller ID di layar HP yang menunjukkan angka 9.00 untuk jam pagi ini. Holy shit, lirihku dalam hati.
“s-s-sorry Dev, gue kesiangan…gue….awww…shit shit shit….” aku yang terburu-buru beranjak dari ranjang mengerang kesakitan saat lututku terbentur oleh pinggiran ranjang akibat tersandung oleh bed cover yang menjuntai sebagian di lantai.
“duh…sorry ya Dev. Pokoknya sejam lagi gue dah di sana okey. I’ll see you there, bye” aku langsung memutuskan panggilan secara sepihak dan melempar HP-ku ke atas ranjang. “damn it” umpatku sambil berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.
Aku mengemudikan mobil di jalan tol dengan kecepatan penuh menuju butik Tante Asna yang berada di Depok. Akhirnya aku baru keluar dari apartemen jam 9.15. Butuh waktu 15 menit untukku bersiap-siap secara kilat. Benar-benar bukan diriku yang sesungguhnya yang biasanya membutuhkan waktu 30-45 menit untuk bersiap-siap.
Sesuai dengan estimasi awal, jam 10.15 aku tiba di parkiran butik. Sebelum keluar dari mobil, aku mengirim pesan kepada Devan jika aku akan masuk ke dalam 10 menit lagi. Tanpa menunggu balasan, aku segera melakukan touch up di wajah yang belum sempat kulakukan di apartemen. Aku memastikan bahwa tidak ada yang aneh dengan wajahku dan melakukan sentuhan terakhir dengan merapikan lipstick warna merah bata menggunakan jari telunjuk serta menyisir rambutku yang sedikit berantakan
__ADS_1
Aku membuka pintu mobil dan melihat butik yang ada di depanku dengan pandangan sedikit ragu. Tidak lama lagi aku akan bertatapan langsung dengannya setelah 4 tahun. Kututup pintu mobil dan kutekan tombol lock pada kunci sampai terdengar bunyi "bip" pada mobilku. Perlahan aku mulai berjalan menuju pelataran butik. Sekali lagi kupandangi penampilanku hari ini, atasan dengan model sabrina berwarna hitam yang dipadukan dengan rok selutut dengan motif kotak-kotak perpaduan warna merah-hitam, ankle boot dengan hak 5 cm berwarna hitam, tas selempang berwarna maroon, dan rambut yang kugerai. Dengan langkah pasti, aku mendorong pintu utama dan masuk ke dalam butik. Saat aku berjalan masuk ke dalam, tiba-tiba aku mendengar suara Devan.
“ini dia yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga…”
Aku menoleh ke kanan tempat dimana Devan dan yang lainnya menunggu kehadiranku. Kulihat semua teman-teman KKN dan Ines teman kuliahku yang juga calon istri Devan melihatku. Dengan ragu, aku berjalan menghampiri mereka. Aku yang merasa risih ditatap seperti itu akhirnya menundukkan kepalaku. Aku merasa seperti akan diadili karena melakukan suatu kesalahan besar. Rasanya aku ingin balik badan dan keluar dari butik ini. Entah mengapa mereka melihatku dengan tatapan intens seperti itu.
Tiba-tiba seseorang memelukku. Kuangkatkan kepala untuk melihat siapa yang memelukku. Saat mengetahui yang memelukku adalah Jihan, aku membalas pelukannya. Sudah lama komunikasiku dengan Jihan terputus karena kesibukan kami masing-masing. Aku yang fokus dengan cake shop di Jakarta dan Jihan yang fokus dengan bisnis WO-nya di Malang. Faktor kesibukan dan jarak yang jauh membuat komunikasi kami menjadi renggang seiring berjalannya waktu. Aku dan Jihan memang akrab karena dia merupakan teman perempuanku satu-satunya saat KKN dulu. Walaupun kedekatan kami terbilang cukup singkat, kami sangat terbuka satu sama lain. Sambil berpelukan, aku mendengar isakan kecil dari Jihan.
“hiks…kangen aku sama kamu Dem…hiks…aku…hiks…pangling aku liat kamu…huhuhu” aku terkekeh mendengar ucapan Jihan.
“aku tuh nangis karena terharu ini…gak cengeng lho aku” elak Jihan. “ini lagi…tinggimu nambah ya? Kok aku kayak meluk tiang pas meluk kamu sih” sewot Jihan yang membuat tawaku pecah. Memang kami memiliki perbedaan tinggi yang cukup jauh. Aku yang memiliki tinggi 165 cm dan mengenakan sepatu hak 5 cm bersanding dengan Jihan yang memiliki tinggi 150 cm.
“trus ini apa lagi…kenapa kamu makin cantik sih Dem…dari ujung rambut sampai ujung kaki kamu berubah semua…kenapaa??? Kamu operasi plastik ya??” tuduh Jihan yang histeris melihat penampilanku hari ini.
__ADS_1
“huss ngarang kamu. Ini asli dari aku lahir kali semuanya. Dari kamu liat pas jaman kuliah emang kayak gini kok…ya emang buat rambut aku sekarang suka warna ini pas aku cat terakhir. Aku emang sengaja gak di ekspos di sosmed manapun hehehe” jawabku cengengesan menanggapi protesnya Jihan.
Jihan tetap cemberut setelah mendengar jawabanku. Mengabaikan ekspresinya, aku bertegur sapa dengan yang lainnya. Pertama dengan Ines, aku memeluknya seraya mengucapkan selamat atas pernikahannya. Ines yang tingginya sama dengan Jihan juga memasang wajah cemberut ketika aku memeluknya karena postur tubuhku yang tinggi. Saat memeluknya, aku merasakan aura positif darinya sebagai calon pengantin. Setelah berpelukan dengan Ines, aku melakukan high five dengan Devan dan hanya menyapa ala kadarnya karena kami sudah temu kangen sebelumnya. Kualihkan pandanganku dari Devan ke seseorang yang melihatku dengan tatapan menggodanya.
“ck…ternyata lo emang gak berubah ya, tetep playboy seperti biasanya. Ah…malu gue sebagai sodara lo” sinisku sambil memberikan tatapan mengejek ke orang yang melihatku tadi.
Perkenalkan, Alfian Reska Putra yang akrab disapa Alfi. Apa tadi aku bilang dia saudaraku? Ya, Tante Asna, mamanya Alfi merupakan kakak sepupu mama dari pihak almarhum eyang kakung. Tapi karena dulu eyang uti bercerai dengan eyang kakung, mama yang saat itu masih kecil dibawa pergi oleh eyang uti dan akhirnya tidak pernah bertemu dan mengenal saudara-saudaranya dari keluarga eyang kakung. Aku baru mengetahui jika aku dan Alfi masih satu keluarga ketika orang tua Alfi datang ke desa tempat KKN kami. Ketika foto bersama, Tante Asna menyebarluaskan foto tersebut di grup besar keluarga eyang kakung. Adik kandung Tante Asna yang bernama Tante Asti ternyata merupakan teman SMA mama, memberitahu mama dan Tante Asna jika aku dan Alfi ternyata masih memiliki hubungan keluarga saat melihat fotoku berdampingan dengan Alfi. Mama memang menceritakan anak-anaknya ke Tante Asti. Hahh…mengingatnya kadang membuatku kesal, mengapa harus orang seperti Alfi, si raja playboy yang harus menjadi saudaraku.
Alfi yang mendengar ejekanku hanya tertawa ringan, “lo gak kangen sama mas lo yang ganteng ini? Gini-gini gue kan masih kakak sepupu lo, harusnya lo tuh bersikap sopan sama gue, sapa gue dengan sapaan yang halus, ‘hai mas Alfi, apa kabar… Demi kangen lho sama mas, mas kangen gak sama Demi’ kayak gitu contohnya” aku mendadak mual mendengar ucapannya yang terdengar menggelikan saat menyebut dirinya sebagai kakak sepupuku. Aku hanya meninju pelan bahu kirinya sebagai salam sapaku. Alfi semakin tertawa melihat tingkahku.
Beralih ke orang yang berdiri di samping Alfi, aku sempat menahan napas selama 5 detik ketika tatapan mata kami bertemu. Tatapan itu yang sedari tadi mengikuti pergerakanku menyapa Jihan, Ines, Devan, dan Alfi, namun aku berusaha tidak terintimidasi dengan tatapannya. Aku mencoba mencari arti dari tatapan matanya, tapi aku tidak pernah bisa memahami arti tatapan itu. Memutus pandangan matanya, aku akhirnya memberikan senyumku dan menyapanya.
“hai Bian, long time no see”
__ADS_1
...****************...