Demian

Demian
BAB 18 - Rencana Mas Bagas


__ADS_3

Warning


Part 21+


***************


Aku berjalan mengendap-endap menuju belakang rumah tempat dimana Mas Bagas telah menungguku. Ketika melihatku, Mas Bagas langsung menggiringku keluar rumah melalui pintu belakang dan berjalan menuju dapur di dalam warung.


“motor Mas Bagas dimana?” tanyaku celingukan mencari keberadaan motor Mas Bagas.


“aku parkir di rumah temanku, dekat kok…paling jalan 100 meter” jawab Mas Bagas.


Aku berjalan disamping Mas Bagas menuju rumah temannya. Kondisi jalanan masih sepi karena saat ini masih jam 4 pagi, 20 menit menjelang waktu subuh. Akhirnya kami sampai di rumah teman Mas Bagas yang terlihat gelap dan sepi.


“loh kamu gak bilang ke temanmu kalau mau ambil motor mas?” tanyaku ketika melihat Mas Bagas langsung mengambil motornya tanpa memanggil temannya terlebih dahulu.


“temanku gak dirumah, dia ada di rumah kami dekat bukit. Nanti kamu juga ketemu sama dia disana kok” aku terkejut mengetahui jika Mas Bagas memiliki rumah sendiri.


Mas Bagas langsung menyuruhku untuk naik ke atas motor. Aku meletakkan goodie bag yang kubawa di antara kami agar aku tidak terlalu dekat dengannya.


“sini tasnya biar aku gantung di depan” Mas Bagas langsung mengambil goodie bagku sebelum aku menjawab. Aku sempat sedikit menahannya tapi tarikan Mas Bagas lebih kuat.


Sekarang aku bingung harus bagaimana untuk menutupi tubuh bagian depanku. Saat ini saja suhu mencapai 13⁰ celsius. Aku tidak mau membeku sepanjang perjalanan dan tidak ingin terlalu dekat dengan Mas Bagas. Saat ini hanya tersisa tas selempang yang kupakai sebagai pembatas kami, tapi itu tidak mungkin cukup menahan tubuhku agar tidak terdorong ke depan nantinya.


Tiba-tiba tanganku ditarik oleh Mas Bagas dan dimasukkan kedalam kedua saku jaketnya. Aku yang terkejut dengan tindakannya mencoba untuk mengeluarkan tanganku dari dalam saku jaketnya, namun Mas Bagas menahanku dan berkata jika nanti kami akan sering menanjak dan suhu akan semakin rendah seiring perjalanan nanti. Akhirnya aku mengalah dan mulai menyenderkan kepalaku di punggungnya. Aku yang hanya menggunakan kupluk untuk menutupi kepala melindungi diri di balik punggungnya. Cukup nyaman sebenarnya bersandar di punggung Mas Bagas yang cukup lebar, namun tiba-tiba aku membayangkan saat dimana Bian memelukku. Aku langsung menepis bayangan itu sambil memantapkan diri dengan tujuanku saat ini.


Benar apa yang diucapkan oleh Mas Bagas jika jalan yang ditempuh lebih banyak tanjakannya, bahkan ada yang sedikit curam dan aku merasa beku karena dinginnya udara selama perjalanan. Rasanya sweater dan jaket tebal yang kugunakan tidak mampu menghalangi dinginnya udara menembus dalam kulitku.


Perjalanan dari desa menuju rumah Mas Bagas yang berada di balik bukit membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit. Kami sampai disana bertepatan dengan adzan subuh yang berkumandang.


Sebenarnya rumah tersebut lebih tepat seperti pondok kecil karena hanya terdiri dari satu ruangan yang cukup luas, namun tidak memiliki kamar mandi. Rumah tersebut hanya berisi meja sebagai tempat untuk meletakkan perlengkapan masak seadanya dan dipan yang cukup lebar untuk beristirahat. Kalau butuh air atau ingin buang air harus berjalan menuju mata air kecil yang terletak 500 meter dari rumah tersebut. Aku yakin rumah tersebut hanya sebagai rumah singgah sebagai tempat istirahat Mas Bagas dan temannya yang bernama Mas Wisnu karena letaknya cukup jauh dari desa terdekat.


Aku dan Mas Bagas langsung berjalan menuju puncak bukit setelah melaksanakan solat subuh agar bisa melihat sunrise, sedangkan temannya Mas Wisnu melanjutkan tidurnya sambil menjaga barang-barang yang kutitipkan kepadanya.


Setelah sampai di puncak bukit, aku hanya melihat sebuah batu raksasa yang digunakan sebagai tempat duduk. Kulihat di sekitarnya hanya terdapat hamparan rumput liar yang tidak terurus. Aku berjalan menuju batu tersebut untuk mengistirahatkan diri. Ketika berjalan menuju bukit, langit masih gelap sehingga aku dan Mas Bagas berjalan dengan mengandalkan penerangan dari senter yang kebetulan ada di rumah Mas Bagas.


“ini emang jarang dikunjungi orang ya mas?” tanyaku setelah memandangi lingkungan sekitar.


“iya…dulu sih ada beberapa tempat duduk buat nongkrong, tapi setelah longsor beberapa tahun yang lalu, tempat ini jadi tidak terjamah karena tempat duduknya hilang ikut terbawa longsor. Aku sama Wisnu kalau lagi ingin begadangan ya nginep di rumah itu sekalian ngeliat sunset atau sunrise” jelas Mas Bagas.

__ADS_1


“itu rumah, yang bangun berarti Mas Bagas sama Mas Wisnu sendiri?” tanyaku kembali.


“iya itu kami bangun sendiri. Lagian lahan itu juga gaada pemiliknya, jadi ya bebas aja. Kalau nanti mau dirobohkan juga gak masalah. Itu kan hanya tempat singgah kami” jawab Mas Bagas, “jadi?? Masih gamau cerita tentang semalam?” tanya Mas Bagas yang ternyata masih penasaran dengan permasalahanku.


Aku akhirnya memberanikan diri untuk bercerita kepada Mas Bagas tentang hubunganku dengan Bian yang kurang baik. Aku berharap dengan aku cerita, Mas Bagas yang lebih dewasa bisa memberi masukan yang tidak perlu menguras emosi.


“maaf ya mas kalau nama mas terbawa dalam masalah ini” ucapku yang menyesal.


“hahaha santai aja. Mungkin karena kedekatan kita yang berbeda dengan kedekatanku yang lain makannya Bian jadi seperti itu. Trus bagaimana dengan kelanjutan hubungan kalian?” tanya Mas Bagas yang penasaran.


“mungkin aku akan berbicara dengannya sebelum kami nanti pulang ke rumah masing-masing dan aku akan mengembalikan semuanya seperti semula. Aku tidak ingin nanti ada masalah baru dengan perempuan yang bernama Sarah itu kalau aku tetap memaksa kedekatan kami yang terus berlanjut” jelasku.


“yahh sebagai teman aku hanya bisa mendukung keputusan kamu. Mungkin kamu juga bisa mempertimbangkan aku sebagai gantinya Bian” aku langsung memukul pelan pundak Mas Bagas yang menggodaku.


Setelah sesi curhatku berakhir, aku dan Mas Bagas tenggelam dalam pikiran masing-masing sambil menunggu sunrise. Tiba-tiba aku teringat untuk menyiapkan HP sebagai alat dokumentasi momen ini. Aku langsung menyalakan HP yang kunonaktifkan sejak keberangkatanku dari rumah Bu Rima. Aku sudah bersiap menerima notifikasi yang banyak dari yang lain ketika menyadari aku dan Mas Bagas menghilang. Namun setelah lama menunggu, tidak ada notifikasi apapun di HP-ku. Ternyata setelah kucek, tidak ada sinyal di HP. Aku buru-buru melakukan block sementara terhadap kontak Alfi, Jihan, Bian, Devan, dan juga Ines. Aku tidak ingin mereka dapat menghubungiku ketika aku mendapatkan sinyal. Aku ingin benar-benar menggunakan waktuku ini untuk merenung tanpa adanya gangguan dari mereka.


Aku puas bisa mendapatkan beberapa momen saat matahari mulai menampakkan dirinya. Sesekali aku berdiri di tepi bukit sambil merentangkan tangan dan menutup mata untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Setelah puas melihat sunrise, Mas Bagas mengajakku untuk kembali ke rumahnya. Awalnya aku masih tidak rela meninggalkan tempat ini karena masih ingin memandangi pemandangan di bawah bukit yang terlihat cantik, tapi mengetahui bahwa Mas Bagas sudah lapar akhirnya aku mengalah dan berjalan mengikutinya kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, aku melihat Mas Wisnu sedang mempersiapkan sarapan kami. Ternyata Mas Wisnu tadi sempat keluar untuk membeli bubur ayam. Aku duduk di atas dipan kembali membuka HP sambil menunggu Mas Wisnu selesai menyeduh teh untuk kami. Ternyata sinyal HP-ku kembali muncul dan terlihat cukup kuat ketika berada di dalam rumah ini.


“oh iya Mas Wisnu, makasih ya…maaf merepotkan” jawabku yang merasa tidak enak karena sudah dilayani seperti ini.


“gapapa mbak” aku tersenyum melihat Mas Wisnu yang melemparkan senyum kepadaku.


Akhirnya kami bertiga melakukan sarapan dalam diam. Aku cukup lahap memakan sarapan kami karena rasa bubur yang sangat lezat. Tidak membutuhkan waktu lama untukku menghabiskan bubur dan teh yang sudah disiapkan.


Selesai sarapan, tiba-tiba aku merasa ingin buang air kecil. Akhirnya aku meminta izin untuk pergi menuju mata air terdekat. Awalnya Mas Bagas ingin mengantarku, tapi aku menolaknya karena Mas Bagas belum menghabiskan sarapannya. Akhirnya dengan sedikit berlari aku mulai menuruni bukit menuju mata air. Sesampainya disana, aku melihat sebuah bilik kecil yang diberi sekat oleh bambu. Setelah kucek, ternyata itu merupakan toilet darurat agar tidak terlalu terbuka. Aku langsung menggunakan bilik itu untuk menuntaskan hajatku.


Setelah merasa lega, aku bergegas kembali ke rumah Mas Bagas. Ketika aku sedang berjalan untuk kembali ke rumah, tiba-tiba aku merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhku. Aku merasakan gerah dan gelenyar aneh yang muncul tiba-tiba dalam tubuhku. Aku juga merasa diriku tiba-tiba lemas seperti habis melakukan perjalanan jauh, padahal aku hanya berlari kecil sejauh 500 meter. Aku beristirahat sejenak dibawah pohon untuk memulihkan diri. Bukannya semakin membaik, justru rasa panas itu semakin menjadi dalam tubuhku. Aku seperti ingin menanggalkan semua pakaianku dan tunggu dulu…mengapa aku seperti ingin merasakan seseorang menyentuh diriku?


Saat aku sedang meringkuk di bawah pohon, aku mendengar suara motor yang berhenti di depanku. Aku berharap orang tersebut merupakan orang baik yang mau menolongku saat ini.


“Demi??? Kamu kenapa???” tanya seseorang yang kukenal memanggilku. Ternyata Mas Bagas menyusulku.


“gatau mas, tiba-tiba aku lemas dan merasakan panas yang berlebihan dalam diriku” lirihku lemah.


Mas Bagas langsung menggendongku dan meletakkan aku diatas motor. Kemudian Mas Bagas mulai mengendarai motor sambil tetap memegangku dari depan. Aku yang bersentuhan dengan Mas Bagas tiba-tiba langsung memeluknya erat karena tubuhku seperti ingin bersentuhan dengan orang lain.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Mas Bagas, aku kembali digendong oleh Mas Bagas kemudian direbahkan di atas dipan.


“Mas Wisnu dimana mas?” tanyaku yang tidak melihat keberadaan orang lain selain kami berdua.


“tadi selesai sarapan dia pulang karena dicari ibunya” aku langsung panik mendengar jawaban Mas Bagas mengingat saat ini kami hanya berdua dalam satu rumah.


“tapi mas…” aku terdiam ketika jari telunjuk Mas Bagas menyentuh bibirku.


“kamu gimana? Mau minta apa biar gak lemas dan gerah?” tanya Mas Bagas yang mengalihkan pembicaraanku.


Aku langsung teringat akan rasa panas di tubuh. Ingin rasanya aku membuka jaket dan sweater yang kukenakan, tapi rasanya aku tidak mampu untuk menggerakkan tanganku.


“Mas Bagas boleh minta tolong lepasin jaket sama sweaterku?” tanpa menunggu lama, Mas Bagas langsung membantuku melepas jaket dan sweater yang kukenakan.


Aku merasakan hawa dingin menyentuh kulitku, tapi hal tersebut tidak mengurangi rasa panas yang ada dalam tubuhku. Melihat aku yang masih menahan panas, Mas Bagas mencoba melepaskan semua pakaian yang ku kenakan. Awalnya aku memberontak melihat perlakukannya yang sedikit memaksaku. Tapi karena tenagaku kalah telak dengan Mas Bagas, akhirnya hanya tersisa pakaian dalam yang masih melekat dalam tubuhku.


Melihat pandangan Mas Bagas yang fokus dengan tubuhku, aku berusaha menutupinya dengan kedua tanganku. Mas Bagas mulai menarik kedua tanganku yang menutupi bagian dada dan tiba-tiba mengikatnya di atas kepalaku.


“Mas Bagas mau ngapain?” tanyaku lemah menahan gejolak panas yang semakin menggila akibat sentuhan Mas Bagas mengenai kulitku.


“tenang aja Demi…aku bakal bantuin kamu menghilangkan rasa panas itu” ucap Mas Bagas yang terdengar mengerikan bagiku.


Aku berusaha untuk memberontak karena perbuatan Mas Bagas yang melecehkanku habis-habisan dengan merobek habis semua pakaian dalamku. Aku menangis akibat perlakuan Mas Bagas yang tiba-tiba terobsesi dengan tubuhku. Tangisanku semakin kencang melihat Mas Bagas yang semakin kurang ajar menyentuh area terlarang tubuhku.


“apa ini rencana Mas Bagas? Kenapa mas? Apa salahku?” tanyaku terisak sambil menahan gairah akibat sentuhan Mas Bagas. Aku benci dengan diriku saat ini yang tidak berdaya melawannya. Mengapa tubuhku seperti tidak ada tenaga sama sekali dan aku sangat mendambakan sentuhan itu?


Mas Bagas berdiri tegak memandangku dengan penuh gairah. “lihatalah Demi sayang, kamu sungguh sangat cantik dan seksi saat ini. Aku tau tubuhmu menginginkan sentuhan dariku, tapi kamu berlagak menolakku. Kamu tau? Inilah momen yang aku tunggu dimana aku bisa memilikimu seutuhnya” aku mendengar mengeluarkan suara tawanya yang terdengar sangat mengerikan bagiku saat ini.


“cup cup cup…jangan nangis ya Demi sayang…nanti kamu juga akan merasakan nikmat dan ketagihan dengan apa yang aku lakukan” ucapnya sambil menghapus air mataku yang terus mengalir di pipi. Aku memalingkan wajah untuk menghindari sentuhan tangannya.


“walaupun aku bukan orang pertama yang menyentuh bibirmu, aku akan pastikan jika aku menjadi orang pertama yang mengambil mahkotamu” bisik Mas Bagas di telingaku kemudian mulai mencium bibirku.


Awalanya aku hanya diam tidak membalas ciumannya yang saat ini terasa sangat memabukkan, tapi pertahananku perlahan runtuh. Air mataku terus mengalir seiring dengan kegiatan “panas” kami. Aku sudah tidak bisa menahan gairah dalam diriku, mulai pasrah dengan apa yang terjadi kedepannya. Aku pasrah jika ini memang takdirku, lirihku dalam hati.


Tidak berselang lama, tiba-tiba Mas Bagas menjauh dariku saat sedang menikmati tubuhku karena ditarik oleh seseorang dan terdengar teriakan seseorang yang kukenal.


“TIDAKKKKK!!!!!”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2