
Perlahan kubuka mataku setelah tertidur cukup lama. Aku merasakan kondisi tubuhku malah semakin buruk dari sebelumnya dan mataku semakin perih akibat terlalu lama menangis.
“eughh…” rintihku karena tidak tahan dengan mataku yang perih, sakit yang menyerang kepala, dan juga tenaga dalam tubuhku yang tiba-tiba hilang sehingga aku merasa lemas.
“Eh Demi…kamu udah bangun? Apa yang sakit Dem? Kata Bian kamu sakit pas sampai sini?” tanya Jihan yang ternyata berada di dalam kamar bersamaku.
“hiks Jihan…” aku kembali menangis saat bertatapan dengan Jihan setelah berhasil membalikkan badanku yang sebelumnya tidur dalam kondisi menyamping membelakangi Jihan.
“Demi??? Kamu kenapa??? Ini kenapa mata kamu bengkak kayak gini???” tanya Jihan yang terkejut melihat mata bengkakku.
Jihan langsung memelukku ketika aku mencoba merentangkan kedua tanganku. Perlahan Jihan menuntunku untuk bangun dan menyandarkanku. Dia hanya mengusap kepalaku sambil berusaha menenangkanku. Setelah tidak mendengar suara isakanku, perlahan Jihan melepaskan pelukannya.
“Ines dimana?” tanyaku dengan suara parau ketika aku menyadari hanya aku dan Jihan yang berada di dalam kamar.
“tadi abis ashar dia dan Devan keluar lagi buat take video sama photoshoot dengan Alfi” kata Jihan yang menjawab pertanyaanku, “so?” tanya Jihan yang menyuruhku untuk bercerita.
Mengalirlah ceritaku dengan Bian dimulai dari kedatangan Bian ke rumah sampai perempuan yang berhubungan dengan Bian bernama Sarah. Jihan tercengang mendengarnya karena mengira aku sudah berhasil melupakan perasaan itu selama 3 tahun terakhir.
“jadi kamu mau gimana sekarang? Jujur aku gabisa memberi saran bagaimana cara kamu menghilangkan perasaan itu Dem, tapi setidaknya untuk saat ini yang harus kamu lakukan adalah mengendalikan perasaan itu. Kamu ngelihat Bian berhubungan dengan perempuan lain yang belum tentu pasangannya aja bisa sampai drop kayak gini, gimana nanti kalau Bian tiba-tiba memberitahu tentang kehidupan asmaranya” ucap Jihan yang menasihatiku.
“iya Ji, teorinya gampang kalau aku harus menerima apapun nanti kenyataannya, tapi ternyata praktiknya susah banget…waktu itu Luna asistenku malah ngasih saran buat nanyain langsung ke Bian tentang perasaannya. Gila kali kalau aku berani sampai nanya langsung” aku mengingat perbincanganku dengan Luna pasca reunian di Depok.
“nah…aku setuju itu sama asisten kamu. Kalau kamu kepo ya mending tanya langsung aja. Lagian nih Dem pas ngedengerin kamu cerita tentang Bian, kok aku malah mikir Bian itu juga ada rasa ya sama kamu…soalnya nih pas kita ketemu pertama kali di butik dia tuh masih kayak dulu tau…pendiem, kaku, kalo ngomong seadanya aja pas ditanyain, kayak robot deh pokoknya. Trus tadi kamu cerita pas di perjalanan tadi yang dia nyetir dari Solo sampai Semarang, kamu bilang dia ketawa terus selama ngobrol sama kamu. Itu bukan Bian yang aku kenal loh Dem. Apalagi ditambah dia ngeringin rambut kamu??? Kalo aku lihat langsung mungkin aku bakal heboh sendiri Dem…” aku terdiam mendengar ucapan Jihan, ternyata tidak hanya aku yang merasakan perubahan Bian saat sedang bersamaku.
“ah terserah deh Ji, kepalaku makin pusing mikir terus…btw sekarang jam berapa?” aku melihat HP dan ternyata sudah hampir jam 5, “aku belum solat nih…mau ambil wudhu dulu deh” aku berusaha untuk berdiri tapi seketika pandanganku kembali berputar. Aku berpegangan pada pintu kamar yang terletak di samping ranjang.
“eeehhh Dem…sini aku anterin kamu ambil wudhu” Jihan langsung merangkulku untuk menopang tubuhku yang masih lemas, “Bian nyusul Alfi tadi keluar pas aku selesai mandi…di rumah cuman kita berdua” kata Jihan seolah mengerti apa yang ingin aku tanyakan.
Aku langsung membuka pintu kamar secara perlahan dan melihat kondisi rumah dalam keadaan sepi. Aku mulai berjalan menuju kamar mandi dibantu dengan Jihan. Aku langsung menggigil saat kulitku dibasuh oleh air. Aku tahu jika aku harus segera minum obat agar demamku ini segera hilang. Selesai wudhu, Jihan dengan setia mendampingiku kembali ke kamar untuk melaksanakan solat ashar. Awalnya Jihan menyuruhku untuk melakukan solat dengan duduk, tapi aku menolaknya karena aku merasa masih mampu untuk melakukan solat sambil berdiri.
“kamu tidur lagi aja Dem…nanti pas maghrib aku bangunin lagi buat solat dan makan malam. Oiya kamu ada bawa obat buat jaga-jaga gak?” tanya Jihan setelah aku selesai solat.
“aku cuman bawa vitamin sama minyak angin aja Ji…kalo obat aku gak bawa” jawabku sambil melipat mukena yang tadi kupakai.
“nanti aku coba tanya ke Bu Rima, mungkin beliau punya persediaan obat. Yaudah, aku mau ke warung dulu ya Dem…bantu-bantu Bu Rima kan bentar lagi tutup warung” Jihan kemudian beranjak dari ranjang untuk keluar kamar.
__ADS_1
“oke…bilangin maaf ke Bu Rima aku belum bisa bantu ya…nanti jangan lupa bangunin aku” ucapku sambil kembali berbaring di atas ranjang.
“okee” jawab Jihan sebelum menutup kembali pintu. Setelah mendengar suara pintu yang ditutup, aku membuka tutup minyak angin yang telah kuambil setelah meletakkan mukena di koper dan menuangnya di atas perut, kemudian kuoles sampai ke atas dada agar aku merasa hangat. Kemudian aku kembali memejamkan mata agar lebih fresh untuk malam nanti ketika berkumpul.
*****
“Dem…Demi…bangun Dem…udah maghrib” aku mendengar suara Jihan yang membangunkanku untuk melakukan solat maghrib.
“iya Ji” jawabku yang memberitahu pada Jihan bahwa aku sudah bangun.
Aku membuka mataku dan diam sejenak untuk mengumpulkan kesadaranku. Pelan-pelan aku bangun dan duduk. Syukurlah rasa sakit di kepalaku sudah hilang dan suhu tubuhku kurasakan sudah mulai kembali normal, hanya saja badanku masih sedikit lemas.
“mau aku antar lagi ambil wudhunya?” tanya Jihan yang menawarkan bantuannya.
“engga usah…aku udah kuat kok Ji” tolakku secara halus, “oiya kamu udah solat?” tanyaku.
“belum…ini tadi abis wudhu mau ambil mukena. Mau jamaah sama Alfi dan Bian. Kamu mau ikut gak?” tawar Jihan kepadaku.
“mmm boleh deh, nanti tolong bawain mukenaku sekalian” jawabku sebelum keluar kamar, “oiya mereka kok gak solat di masjid?” tanyaku yang teringat tiba-tiba.
Aku melihat Bian, Mas Bagas, dan Bu Rima sedang bersiap-siap untuk melakukan solat maghrib berjamaah di ruang tengah (istilah dari Bu Rima yang merupakan gabungan dari ruang tamu dan ruang keluarga). Mereka tidak melihatku yang keluar dari kamar karena dia berdiri menghadap ke arah jendela yang terletak di samping pintu utama. Aku langsung berjalan menuju kamar mandi dan berpapasan dengan Alfi yang baru saja selesai ambil wudhu.
“mau ambil wudhu Dem?” tanya Alfi setelah membuka pintu kamar mandi, “iya” jawabku.
Alfi langsung mempersilahkanku untuk masuk setelah dia keluar. Aku langsung masuk ke dalam dan tak lupa menutup pintu kamar mandi. Aku berjalan menuju ke ruang tengah selesai mengambil wudhu. Terlihat Bian yang berdiri paling depan mengambil posisi imam, Alfi dan Mas Bagas yang berdiri berdampingan di belakang Bian disusul dengan Bu Rima dan Jihan. Aku melihat sajadah yang sudah disiapkan oleh Jihan di sampingnya. Sambil memakai mukena, kudengar Alfi mulai mengumandangkan iqomah dan disusul dengan Bian yang mulai mengumandangkan takbir awal.
Selesai solat dan berdoa, aku dan Jihan langsung masuk ke dalam kamar untuk merapikan mukena. Aku duduk di atas ranjang dan membuka HP selesai merapikan mukena sambil menunggu Jihan yang belum selesai.
“kamu mau kemana Ji?” tanyaku ketika melihat Jihan akan keluar kamar.
“mau ke dapur lagi bantuin Ines. Tadi abis tutup warung, aku, Ines, sama Bu Rima masak buat makan malam trus Ines yang ngelanjutin sama Devan karena kita maghriban dulu” aku langsung berdiri mengetahui Jihan akan ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
“kamu gausah ikut Dem…istirahat lagi aja” Jihan menahanku yang akan ikut keluar dengannya.
“tapi…” kataku yang langsung dipotong oleh Jihan, “udah…nurut deh sama aku. Biar cepet sembuh Dem” aku ingin protes tapi Jihan melototkan matanya ke arahku yang membuatku cemberut.
__ADS_1
Aku hanya bisa berdiam diri dalam kamar, padahal sebenarnya aku merasa tidak enak dengan Bu Rima yang baru sampai hanya diam di dalam kamar tanpa membantu apa-apa. Akhinya aku berbaring di atas ranjang sambil menunggu Jihan atau Ines yang memanggilku untuk makan. Rasa kantuk kembali menyerangku padahal sebelumnya aku sudah tertidur lama. Mungkin tidak apa-apa jika aku memejamkan mataku 10-15 menit sambil menunggu panggilan makan malam.
Kurasakan seseorang mengusap pelan pipi chubbyku. Perlahan aku membuka mata dan melihat Bian duduk di pingir ranjang. Kulihat Bian tersenyum kearahku.
“makan dulu yuk…abis itu minum obat” ucapnya sambil membantuku untuk bersandar kemudian mengambil piring berisi makanan di atas meja rias.
“eh…itu makanannya kenapa dibawa ke kamar? Aku makan di luar aja Bi, gaenak yang lain makan bareng-bareng ini aku malah di kamar” kataku sambil berusaha untuk bangun, tetapi kurasakan sakit kepalaku kembali muncul. Aku reflek memegang kepalaku yang terasa sakit.
“udah kamu makan di sini aja sambil aku suapin. Lagian coba lihat itu udah jam berapa…” aku langsung mengambil HP yang kuletakkan di sampingku dan terkejut jika sekarang sudah jam 9 malam.
“yahh…kok gaada yang bangunin aku sih…” air mataku perlahan keluar saat aku mengetahui telah melewatkan makan malam bersama.
“cup cup cup….udah jangan nangis ya…” ucap Bian sambil menghapus air mata yang mengalir di pipiku menggunakan ibu jarinya, “tadi itu Jihan ngelihat kamu menggigil pas tidur trus dicek ternyata kamu panas lagi, makannya Jihan yang tadinya mau bangunin kamu gajadi” ucap Bian yang menjelaskan alasan tidak membangunkanku.
“oiya tadi aku ke apotek di kecamatan buat beliin kamu obat sama ini…” Bian menunjukkan plester kompres demam dan obat pereda demam, “nanti kamu juga minum wedang jahe ya…tadi Jihan udah mintain obat ke Bu Rima, tapi Bu Rima gak punya obat pereda demam. Akhirnya beliau bikinin ini buat kamu. Aku juga mau minta maaf, harusnya tadi aku maksa kamu buat tukar posisi lagi. Aku gabisa maafin diriku sendiri kalau kamu sakit selama kita di Tegal nanti” lanjut Bian.
“iya gapapa kok Bi…paling ini karena aku kecapekan aja. Aku juga gaenak lah kalau harus nyuruh kamu gantian. Kamunya juga keliatan capek banget gara-gara kemarin kurang tidur” ucapku yang menenangkan Bian agar tidak terus merasa bersalah. Aku mengabaikan perasaanku yang kacau karena obrolan dia dengan seorang perempuan ketika melihat raut wajahnya yang benar-benar merasa bersalah dan terlihat menyesal.
“yaudah sekarang makan dulu ya, aku suapin” Bian mulai menyendokkan makanan berupa nasi dengan sayur sop dan tempe goreng kearah mulutku.
“Bi, kok porsinya banyak banget? Aku gaakan abis loh makannya, jadi mubadzir nanti” protesku saat menyadari jika porsi makan malamku sangat banyak.
“eh…mm-i-itu…” kulihat Bian mengusapk tengkuknya dan terlihat salah tingkah, “nanti aku bantu habiskan kalau kamu sudah kenyang” aku mengangkat sebelah alisku mendengar jawabannya.
“are you sure?” tanyaku memastikan setelah aku selesai mengunyah, “kayaknya bukan karena itu?” Bian terlihat semakin salah tingkah ketika aku bertanya lebih lanjut.
Bian menghela napas panjang sebelum menjawab, “pas tau kamu sakit aku panik Dem…apalagi aku merasa kalau aku ikut andil dengan kondisimu, makannya aku langsung nyari obat buat kamu dan terus kepikiran sampai lupa makan. Tadinya Jihan sama Ines yang mau bawa makanan ini ke kamu, cuman aku paksa mereka buat ngijinin aku yang nemuin kamu. Aku beneran gabisa lihat kamu kayak gini Dem…apalagi matamu sekarang kelihatan bengkak, kamu pasti abis nangis gakuat ngerasain kondisimu yang drop…”
Aku terkejut mendengar Bian yang ternyata sangat mengkhawatirkan kondisiku, walaupun aku harus sedikit merasa dongkol saat Bian tahu aku menangis karena tidak tahan dengan kondisi badanku. Padahal aku menangis sampai mataku bengkak gara-gara kecewa dengan kenyataan bahwa Bian ternyata memiliki seseorang yang spesial baginya dan itu bukan aku. Oke Demetra…jangan terlena dengan perhatian dari Bian, dia khawatir sama kamu karena hanya sebatas rasa bersalah, itu saja.
“so??” tanyaku kembali, “aku makan sambil nyuapin kamu juga” aku melihat telinga Bian memerah ketika mengucapkan kalimat itu.
Akhirnya aku dan Bian makan malam sepiring berdua dengan menggunakan satu sendok yang sama. Kalau dalam kondisi normal mungkin aku akan tersenyum bahagia dan dengan senang hati memanfaatkan momen ini sebaik mungkin, tapi aku hanya bisa tersenyum getir mengingat kembali sosok perempuan yang bernama Sarah itu.
...****************...
__ADS_1