Demian

Demian
BAB 12 - Mas Bagas


__ADS_3

“bu gapapa biar kita aja yang beresin semua” kata Jihan berusaha mengambil tumpukan piring kotor yang sudah dibawa Bu Rima.


“eh gapapa mbak, kalian ngobrolin aja agenda kalian hari ini mau ngapain. Tadi juga kan mbak-mbak udah pada masak, gantian ibu yang beresin” cegah Bu Rima kemudian berjalan keluar rumah menuju warung dengan membawa peralatan bekas sarapan kami.


Jihan kembali duduk bergabung dengan kami yang mulai membicarakan agenda hari ini. Mas Bagas mengusulkan agar kami jalan-jalan ke taman hutan pinus di belakang rumah dan lanjut ke curug yang ada di ujung desa, sedangkan sorenya pergi ke Guci untuk berendam. Kami langsung menyetujui usulan Mas Bagas karena kemarin sudah seharian berjalan keliling desa (tanpa aku dan Bian tentunya). Akhirnya kami semua langsung menyiapkan diri untuk jalan-jalan ke taman hutan pinus.


“ini pasti Jihan yang terakhir mandinya…” tebakku ketika kami menyusun daftar urutan mandi.


“yak selamat anda benar” kata Devan menjawab tebakanku sambil bertepuk tangan.


Aku menertawakan Jihan yang hanya tersenyum malu. Ketika KKN, Jihan memang paling lambat jika menyangkut urusan kamar mandi. Dulu Jihan sempat membuat Bian mengamuk akibat tidak tahan menahan sakit perut sampai akhirnya dia harus pergi ke masjid karena Jihan terlalu lama di kamar mandi. Bian yang terkenal paling diam dan cuek membuat kami takut karena amukannya dulu sampai-sampai Jihan harus sampai mengekori Bian seharian untuk mendapatkan maafnya.


Urutan antrian mandi dimulai dari Alfi, Bian, Devan, Ines, aku, dan terakhir Jihan. Kamar mandi di warung sengaja tidak kami gunakan karena akan digunakan Bu Rima dan Mas Bagas.


Setelah semuanya siap, kami yang ditemani oleh Mas Bagas berjalan menuju taman hutan pinus yang ada di belakang rumah Bu Rima. Sesampainya di tempat tujuan, aku melihat tata letak taman masih terlihat sama seperti 5 tahun lalu. Hanya saja rumah pohon, ayunan, saung, dan bangku-bangku taman yang dulunya polos, saat ini di cat berwarna-warni, begitu pula dengan warung yang ada di bawahnya.


Aku berjalan menuju rumah pohon ketika yang lain asyik dengan kegiatannya masing-masing. Rumah pohon disini dulunya merupakan tempat favoritku untuk menyendiri. Melihat pemandangan desa dari atas membuatku merasa tenang dan damai. Ketika sampai di atas, aku langsung duduk di pinggiran papan, membiarkan kedua kakiku menggantung, dan mulai memejamkan mata menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku dan mengibaskan rambut panjang yang kugerai.


“ternyata Mbak Demi gak berubah ya…masih suka duduk disini sendirian” kata seseorang yang datang tiba-tiba dan langsung duduk disampingku.


Aku membuka mataku dan sedikit bergeser menjauh dari seseorang yang tiba-tiba duduk terlalu dekat denganku. Aku sedikit merasa terganggu dengan kehadiran Mas Bagas yang sengaja menyusulku ke rumah pohon.


“hehe iya mas” jawabku berusaha tersenyum sopan.


“kamu masih canggung sama aku karena obrolan kita terakhir disini ya?” tanya Mas Bagas memanggilku dengan sebutan “kamu” dan “aku” untuk memanggil dirinya seperti waktu itu.


Flashback On

__ADS_1


Sehari sebelum kepulanganku ke Bogor, aku menyempatkan diri untuk jalan-jalan di taman hutan pinus belakang rumah Bu Rima. Aku sengaja tidak mengajak yang lain karena aku ingin melakukan me time. Saat aku duduk di salah satu rumah pohon yang ada di taman itu, tiba-tiba Mas Bagas menghampiriku dan duduk di sampingku.


“eh Mas Bagas…kok tadi saya gak lihat ada mas ya?” tanyaku yang sedikit terganggu dengan kehadirannya.


“iya tadi saya nongkrong tuh di warung bawah” jawabnya sambil menunjuk warung yang dimaksud. Aku hanya menganggukkan kepala melihatnya, “kok gak sama yang lain?” tanyanya.


“lagi pengen sendiri saja mas…lagian juga tadi yang lain pada istirahat sepulangnya dari rumah pak kades untuk pamitan” jawabku.


Mas Bagas hanya menganggukkan kepala sambil melihat pemandangan dari rumah pohon, “gimana kesan Mbak Demi selama KKN di sini?” tanyanya sambil menolehkan kepalanya untuk melihatku.


“seru...banyak hal baru yang belum pernah saya temukan sebelumnya, trus saya kan gapernah hidup di desa jadi merasa excited gitu menjadi masyarakat desa. Apalagi ya?? Intinya berkesan banget deh selama saya tinggal disini…banyak kenangan yang gak akan saya lupakan sampai kapanpun apalagi kenangan bersama teman-teman KKN yang sebelumnya gak saya kenal selama kuliah malah sekarang jadi sangat akrab seperti sudah kenal lama” kataku sambil tersenyum sendiri membayangkan kegiatanku dengan yang lain selama KKN.


“kalau sama saya ada kesannya gak?” pertanyaan Mas Bagas membuatku tersenyum canggung karena melihat Mas Bagas tiba-tiba menatapku dengan tatapan serius.


Aku tertawa untuk menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba menghampiri kami. “mungkin Mas Bagas udah banyak membantu dalam menghubungkan kami dengan masyarakat sehingga seluruh program berhasil terlaksana. Well, kami merasa beruntung tinggal di rumah Bu Rima dan Mas Bagas yang notabene merupakan ketua karang taruna yang ada di desa ini, jadi kegiatan KKN kami bisa berlangsung dengan baik, lancar, dan tentunya menghasilkan hal yang positif bagi semua pihak” jelasku yang berusaha untuk bersikap bijak dihadapannya.


“yah…kami sudah menganggap Mas Bagas dan Bu Rima sebagai keluarga” jawabku yang masih menggunakan kata “kami” dan bukan “saya” sebagai obyek pertanyaan Mas Bagas.


Tiba-tiba Mas Bagas mengubah posisi duduknya mengahadapku, aku yang mulai merasa tidak nyaman dengan posisiku akhirnya mencoba bergeser menjauh darinya.


“kamu tidak peka Demi…aku jatuh cinta sama kamu. Aku harap kamu nantinya bisa menikah denganku dan menjadi istriku” tiba-tiba Mas Bagas memanggilku dengan sebutan “kamu” dan “aku” untuk memanggil dirinya.


Aku memejamkan mata sejenak dan kembali menghela napas panjang. Bukannya aku tidak peka dengan perasaannya, sebenarnya aku sudah mengetahui jika Mas Bagas memiliki perasaan lebih padaku karena aku mengamati sikapnya yang akhir-akhir ini lebih perhatian kepadaku dibanding yang lain. Mas Bagas memang tidak menunjukkannya secara terang-terangan sehingga Jihan, Alfi, Bian, dan Devan tidak mengetahui hal ini. Akhirnya aku ikut mengubah posisi duduk sehingga kami saling bertatapan.


“maaf Mas Bagas…tapi saya rasa hal seperti ini tidak perlu dibicarakan lebih lanjut. Saya menghargai perasaan mas yang menyukai saya, tapi sekali lagi maaf…saya belum berpikir jauh mengenai hal ini. Prioritas saya saat ini adalah menyelesaikan kuliah dan mewujudkan impian yang sudah saya rencanakan selama ini. Selain itu saya hanya menganggap Mas Bagas sebagai teman, tidak lebih ” jelasku yang berusaha memberi pengertian kepada Mas Bagas.


“aku tahu…tapi jika kita bertemu kembali, apakah kamu mau mempertimbangkan perasaanku? Aku akan tetap menunggumu sampai kamu siap” ucap Mas Bagas yang memandangku dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


“Mas Bagas orang yang baik, pekerja keras, sukses sebagai petani muda, dan menjadi panutan bagi kalangan muda di desa ini. Saya yakin pasti banyak perempuan yang rela mengantri untuk menjadi pasangan mas. Saya harap mas jangan menunggu saya. Kasihan Bu Rima sudah berharap ingin segera memiliki menantu dan menimang cucu dari Mas Bagas. Jangan menunggu saya yang belum pasti kapan siapnya, karena saya sendiri belum ada pikiran kearah sana. Saya takut jika Mas Bagas tetap menunggu, saya tetap tidak bisa membalas perasaan itu. Semoga jika nanti kita bertemu kembali, Mas Bagas sudah memiliki seseorang yang benar-benar mas cintai dan juga mencintai Mas Bagas. Saya yakin perasaan cinta mas ke saya pasti hanya sementara saja” aku langsung berdiri meninggalkan Mas Bagas yang tertunduk lesu mendengar ucapanku.


Flashback End


“hehehe gimana ya mas…” ucapku sambil mengusap tengkukku, “mungkin karena topik obrolan terakhir agak sensitif jadi saya merasa sedikit kurang nyaman apabila saya hanya duduk berdua saja dengan Mas Bagas” aku sedikit meringis ketika berkata jujur mengenai perasaanku. Mas Bagas hanya tersenyum mendengar pernyataanku


“kamu masih ingat gak dengan ucapanmu terakhir sebelum meninggalkanku?” aku mengerutkan kening mencoba mengingat-ingat perkataanku.


“kalau kita bertemu kembali, kamu berharap aku udah punya pendamping” aku langsung tersenyum mendengarnya, “ternyata aku belum bisa mencari pendamping itu”


“apa Mas Bagas masih…” ingin aku menanyakan perasaan Mas Bagas kepadaku saat ini, tapi aku bingung bagaimana cara menanyakannya.


“hahaha gausah takut gitu...” Mas Bagas tertawa melihat ekspresi khawatirku, “kalau boleh jujur sih, sebenarnya perasaan itu masih ada. Apalagi waktu melihat kamu kembali setelah sekian lama, kamu terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, dewasa, dan lebih matang. Tapi aku yakin…pasti kamu masih belum bisa membalas perasaanku dan belum ada pikiran untuk menikah dalam waktu dekat ini. Aku juga dengar dari yang lain saat ini kamu sedang menikmati kesuksesanmu menjadi pemilik toko kue” aku tersenyum malu mengetahui Mas Bagas bisa memahami perasaanku.


“yaahh...saya memang belum bisa membalas perasaan Mas Bagas dan mungkin tidak akan pernah bisa. Selain itu, memang masih ada beberapa hal yang harus saya selesaikan dan persiapkan sebelum memikirkan suatu hubungan yang serius, salah satunya kesiapan mental. Saya masih menikmati hidup saya saat ini mas” ucapku tanpa melihat ke arah Mas Bagas.


“aku tahu kamu tetap akan menolakku jika aku memintamu untuk menjadi pasanganku, tapi kamu gak menolak kan kalau aku memintamu untuk jadi teman?” aku tertawa mendengar ucapan Mas Bagas.


“dari dulu juga Mas Bagas sudah saya anggap teman dan keluarga kali…” jawabku sambil memandangnya geli. Mas Bagas ikut tertawa karena ucapanku.


“yaa maksudnya teman untuk saling bercerita gitu…teman akrab. Soalnya mentang-mentang aku udah umur 30 dan kamu masih 25, kamu ngomongnya masih formal gitu” ucap Mas Bagas sambil mengerucutkan bibirnya.


“oke-oke…sekarang aku gak formal lagi deh ngomongnya” kataku yang mulai mengubah gaya pembicaraan.


Aku dan Mas Bagas akhirnya saling bercerita mengenai kehidupan kami masing-masing. Sesekali kami tertawa bersama ketika membicarakan hal lucu, hingga aku mulai merasa nyaman berbicara dengannya. Meskipun Mas Bagas masih memiliki perasaan padaku, aku tidak merasa canggung jika harus berbicara berdua dengannya. Pembawaan Mas Bagas yang dewasa membuat aku menganggap Mas Bagas seperti seorang kakak.


Aku mendengar Jihan dan Ines berteriak memanggilku dan Mas Bagas dari bawah rumah pohon untuk turun dan berfoto bersama. Aku dan Mas Bagas kemudian bergegas turun setelah aku menjawab panggilan Jihan dan Ines. Mas Bagas tidak melepaskan pegangannya pada tanganku selama kami menuruni rumah pohon. Dari kejauhan aku melihat Bian memandangku dan Mas Bagas dengan tatapan tajam.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2