Demian

Demian
BAB 30 - Tiga Permata Indah


__ADS_3

Perlahan mataku terbuka dan hal yang pertama kali terlihat adalah orang yang kucintai sejak 9 tahun lalu sedang menenangkan seorang bayi perempuan yang menangis seakan ingin menyampaikan sesuatu. Kesadaranku mulai terkumpul ketika aku mengingat bahwa sebelumnya aku menjalani proses persalinan untuk yang kedua kalinya, namun karena terlalu lelah aku langsung memejamkan mata sesaat setelah persalinan.


“m-mas…” lirihku memanggil Bian yang mulai panik karena bayi kami tidak kunjung menghentikan tangisannya. Mata Bian melebar saat melihatku sudah sadar.


“ah syukurlah sayang akhirnya kamu sadar juga…sepertinya dia sudah tidak sabar untuk meminum ASI-mu” ucapnya lega. Perlahan aku mulai menegakkan badanku dengan dibantu Bian sambil menggendong bayi kami.


“cup cup cup…sayang…nunggu mama bangun ya??” aku mengeluarkan milikku tanpa ragu dan langsung disambut oleh mulut bayi mungilku. “anak mama udah kehausan ya…” ucapku tersenyum melihat dia sangat kuat menghisap milikku.


“berapa jam tadi aku tidur mas? Trus anak-anak dimana?” tanyaku kepada Bian yang tidak langsung dijawab olehnya. Bian malah fokus memandangi milikku yang sedang dinikmati oleh bayiku. Aku memukul pelan lengan Bian untuk menyadarkannya karena aku mengetahui maksud tatapannya.


“pervert banget sih kamu mas…” sungutku kesal. Bian kelabakan saat aku memergoki tatapan darinya.


“mas juga pengen yang…boleh yaa yang satunya buat mas” kata Bian dengan tatapan mesumnya. Aku mendelikkan mataku saat Bian dengan frontalnya menggodaku.


“kamu gausah aneh-aneh ya mas” ancamku, “jawab dulu pertanyaanku tadi ihh” lanjutku yang mulai merajuk karena Bian mengalihkan pembicaraan untuk menggodaku.


“tadi kamu tidur selama dua jam…Rico sama Zio sampai ikut pulang mama dan papa gara-gara nungu kamu gak sadar-sadar. Paling nanti sore mereka kesini sama Sarah” jawabnya yang membuatku lega karena Rico dan Zio aman bersama kakek dan neneknya.


“oiya jadinya siapa namanya?” tanyaku ketika aku teringat jika aku belum mengetahui nama anak ketigaku.


“namanya Endita Alfanisa Demian. Tadi yang lain udah setuju kok” jawab Bian yang memberitahu nama bayi perempuan pertama kami. “oiya Mama Retha sama Papa Arwin belum bisa kesini karena mereka masih ada urusan di rumah. Mungkin nanti mereka akan datang saat aqiqah Dita” lanjut Bian yang membuatku menganggukkan kepala. Aku mengetahui urusan apa yang sedang terjadi di rumah karena menyangkut dengan Tisha, adikku.


“welcome to the world my beautiful princess…Dita” ucapku sambil mencium kedua pipi gembulnya yang memiliki lesung pipi.


*****


“MAMA!!!” teriak Rico dan Zio yang menyambut kepulanganku dari rumah bersalin. Ya, untuk kelahiran anakku yang ketiga aku memilih tempat di rumah bersalin karena aku kembali bertemu dengan dokter Gina yang ternyata membuka praktek disana. Lagipula aku tidak mengalami masalah apapun selama kehamilanku yang kedua ini, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk proses persalinan dan pemulihan.


“hello boys...kalian nakal gak selama ditinggal mama?” tanyaku sambil mencium mereka secara bergantian, kemudian menggiring mereka untuk duduk di sofa tamu. Bian lebih dulu masuk ke kamar untuk meletakkan barang-barang milikku dan Dita.


“enggak dong…Rico kan udah punya dua adek…kata papa, Rico harus bisa menjadi kakak yang baik buat Zio dan dedek Dita” jawab Rico dengan bangga.


“adeknya Rico kan dedek Dita…Zio kan lahirnya sama kayak Rico. Jadi Zio bukan adeknya Rico” protes Zio yang tidak mau dianggap adik oleh Rico. Aku sudah biasa mendengar perdebatan mereka siapa yang menjadi adik maupun kakak.

__ADS_1


“tapi kata papa, Rico lahir lebih dulu dari Zio…jadi Zio itu adeknya Rico. Harusnya Zio manggil Rico dengan sebutan mas…kayak Tante Sarah manggil papa” balas Rico yang tidak mau mengalah dengan ucapannya.


“GAMAU!!! kata mama kita kan lahir di tanggal yang sama…berarti Zio bukan adeknya Rico. Kita kan sama Rico!!” Dita terbangun kaget di gendonganku mendengar teriakan Zio yang terlihat sangat emosi, bahkan wajahnya memerah karena menahan amarah. Untungnya Dita tidak sampai menangis karena terkejut, dia hanya mengerjapkan matanya perlahan.


“Zio sayang…jangan teriak-teriak ya nak…dedeknya sampai kaget ini dengar teriakan Zio…katanya Zio kakaknya dedek, harusnya Zio bisa menjaga dedek agar tidak sedih dan menangis” aku menegur secara halus kepada Zio agar dia bisa mengatur emosinya.


“maafin Zio ma…tapi benar kan apa yang dibilang Zio?? Kata mama, Rico dan Zio dulu barengan di perut mama, trus kita lahirnya bareng kan ma?” tanyanya dengan tatapan penuh harap agar aku sependapat dengan ucapannya.


“benar kok apa yang dibilang Zio…tapi walaupun kalian lahirnya sama, kalian tetap lahirnya satu-satu dari perut mama. Nah, yang lahir lebih dulu itu Rico…Zio baru lahir 5 menit setelah Rico. Jadi kalau ada orang nanya 'wah…ini kakaknya yang mana?' jawabannya Rico lah kakaknya” jelasku yang membuat Zio menunduk sedih karena dari dulu Zio memang tidak ingin dianggap sebagai adiknya Rico.


“dedek Dita adeknya kita berdua kok Zio…kata papa, kita harus bisa jadi kakak yang baik buat dedek Dita” ucap Rico kemudian memeluk Zio sebagai tanda damai mereka. Aku tersenyum melihat sikap yang diajarkan olehku dan Bian benar-benar diterapkan baik oleh mereka yang terlihat sangat cerdas di usianya yang memasuki angka 4.


Bian menyusulku ke ruang tamu bersama Mama Hera dan Papa Agam. Melihat Rico dan Zio yang sedang berpelukkan, Bian memadangku dengan raut wajah bertanya. Aku hanya mengendikkan bahu untuk menjawab pertanyaannya.


“kok papa gak diajak pelukan?” ucap Bian yang menginterupsi kegiatan si kembar untuk mengetahui apa yang terjadi pada mereka.


“kan yang lagi bertengkar Zio dan Rico…makannya Zio pelukannya sama Rico aja” ceplos Zio yang langsung memukul mulutnya pelan dan Rico menyenggol badan Zio karena tidak bisa menahan diri.


“waah…kalian bertengkar karena apa ini?” tanya Bian lembut tapi dengan tatapan menyelidik kearah si kembar.


“kita udah damai kok pa, beneran…ya kan Zio?” Zio menganggukkan kepalanya setuju saat ditanya oleh Rico.


Bian menatap tajam kedua putranya, “kalian tidak bohong kan?” mereka kompak menggelengkan kepala. “udah clear masalahnya?” mereka kompak menganggukkan kepala.


Sekuat tenaga aku dan kedua mertuaku menahan tawa kami melihat ekspresi wajah Rico dan Zio yang ketakutan saat diinterogasi oleh Bian. Walaupun mereka dekat dengan papanya, Bian tidak akan segan-segan marah jika mereka tidak akur. Bian benar-benar tegas dalam menanamkan sikap saling melindungi dan menyayangi sesama saudara.


Walaupun mereka kembar identik dengan tampilan fisik seperti Bian versi junior, Rico dan Zio memiliki perbedaan dari sikap walaupun jika dilihat sekilas mereka akan tampak seperti Bian pada umumnya. Zio terlihat lebih aktif dan ekspresif seperti Bian saat berhadapan denganku, Sarah, maupun Mama Hera. Sedangkan Rico terlihat seperti Bian saat berhadapan dengan orang selain kami bertiga. Rico juga lebih pandai mengatur emosinya dibanding Zio karena mungkin nalurinya sebagai kakak pertama yang tidak mau gegabah dalam bertindak. Akan tetapi sama seperti Bian, saat Rico benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya, dia akan lebih kalap dibanding Zio.


Ada satu perbedaan fisik dari Rico dan Zio yang diketahui saat orang tersebut sudah mengenal baik mereka. Jika diperhatikan lebih dalam, Zio memiliki warna mata cokelat terang sedangkan Rico memiliki warna mata cokelat gelap. Aku dan Bian juga baru menyadari saat usia mereka satu tahun. Tatapan mereka juga terlihat berbeda dimana Rico memiliki tatapan yang tajam dan dingin sedangkan Zio memiliki tatapan yang lebih hangat dan ramah. Sebenarnya Rico bisa bersikap hangat, hanya saja itu berlaku untuk keluarga inti saja seperti aku, Bian, kedua orang tua kami, Tisha, dan Sarah. Benar-benar perbedaan yang sangat luar biasa. Selebihnya aku yakin orang-orang pasti akan kebingungan membedakan mereka karena sesekali mereka berganti peran untuk mengelabui orang di sekitarnya.


“kalian tidak memberi ucapan selamat datang untuk dedek Dita boys?” tanya Bian yang membuat Zio dan Rico maju dan mendekati diriku yang sedang memangku Dita yang kembali terlelap setelah insiden teriakan Zio. Secara bergantian mereka mencium Dita dengan sangat hati-hati.


“sebagai kakak laki-laki, kalian nanti harus selalu sayang dan melindungi dedek Dita ya…” ucap Bian menasehati si kembar. Mereka mengangguk mendengarkan ucapan Bian. Bian mengusap pelan kepala mereka sebagai tanda sayang.

__ADS_1


“itu pipi dedeknya kenapa ma? Kok ada lubangnya gitu yang suka muncul trus hilang…” tanya Rico yang penasaran ketika Dita sesekali menampakkan lesung pipinya.


“ini namanya lesung pipi sayang…justru kalo dedek punya ini akan terlihat cantik saat sudah besar nanti” walaupun baru mendengar istilah baru mengenai lesung pipi, Rico tetap menganggukkan kepalanya mendengar jawabanku.


“yaudah Rico dan Zio sekarang jagain dedeknya dulu ya sama kakek dan nenek, papa mau antar mama istirahat dulu di kamar” ucap Bian yang langsung memberi kode pada Mama Hera untuk mengambil alih Dita dari pangkuanku.


“sini boys kakek pangku kalo mau main sama dedeknya” Rico dan Zio langsung menghampiri kakeknya untuk bermain dengan Dita.


*****


“kamu mau langsung mandi yang?” tanya Bian saat kami masuk ke dalam kamar Bian yang berada di rumah mertuaku. Aku memang berencana untuk tinggal di rumah orang tua Bian sampai acara aqiqah Dita minggu depan.


“kayaknya aku mau mompa ASI dulu deh mas…udah kerasa basah ini di dalam. Tolong ambilkan air hangat di baskom ya…mau kubersihin dulu dari keringat” Bian langsung melakukan apa yang kuperintahkan.


“pikiran mas gausah travelling” sindirku saat melihat mata Bian tidak berkedip melihat dadaku yang terekspos.


“asli yang…kok semenjak ada Dita punyamu semakin membesar ya? Kamu gak keberatan bawanya yang?” aku memukul lengannya mendengar pertanyaan vulgar Bian.


“ck mulutnya emang udah jebol jadi gabisa di filter kata-katanya” sungutku, “kalo udah tau semakin membesar, mas janji gaakan numbuhin benih mas lagi ya?”


“yah nanggung yang…tambah cewek satu lagi biar seimbang” kata Bian tanpa beban.


“kalo mau nambah mending mas aja yang hamil…aku udah gak sanggup lagi” Bian mengerucutkan bibirnya mendengar keputusanku yang memang sudah tidak ingin menambah momongan lagi.


Aku memang berniat memiliki anak maksimal tiga. Bagiku, kehamilan Dita adalah kehamilanku yang terakhir. Aku melihat Bian sedikit keberatan dengan keputusanku.


“mas…tiga aja udah cukup ya? aku takut kita gabisa adil dengan mereka...lagian udah rencanaku dari dulu jika usia 30 adalah usia maksimal aku untuk mengandung” mau tidak mau Bian mengikuti keputusanku.


“yaudah gapapa…kalau itu keputusan terbaik kamu, mas akan mendukung. Tapi kalau seandainya kita masih diberi rezeki, jangan ditolak ya yang…” aku tersenyum dan mengangukkan kepala menanggapi ucapan Bian.


“makasih udah memberikan tiga permata indah untukku sayang…I love you” ucap Bian kemudian mencium keningku.


“I love you too mas…”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2