
“pa…ma…aku berangkat ya. Jangan lupa sampaikan salamku ke eyang dan adek juga” pamitku sambil memeluk mereka setelah memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.
“Om Arwin, Tante Retha...makasih udah mengizinkan Bian untuk bermalam disini. Bian dan Demi pamit untuk berangkat ke Tegal” ucap Bian yang berpamitan kepada mama dan papa setelah aku melepaskan pelukanku dengan mereka.
“iya…hati-hati ya kalian di jalan. Kalau capek jangan maksain buat lanjut, istirahat dulu aja gausah buru-buru” pesan mama, “kamu gaada yang lupa bawaannya kan sayang? Semua udah dicek? Mobil juga aman kan?” tanya mama yang memastikan semua persiapan.
“udah kok ma…aman semuanya” jawabku sambil mengacungkan kedua jempol.
“nak Bian hati-hati nyetirnya ya…kalau ngantuk bilang Demi. Jangan maksain buat tetap nyetir. Kok kayaknya tante lihat kamu kurang tidur ya semalam?” tanya mama sambil menatap Bian dengan raut wajah khawatir.
“iya tante...Bian fit kok buat nyetir, nanti kalau capek Bian akan bilang ke Demi” jawab Bian yang meyakinkan mama.
Setelah puas melakukan salam perpisahan, aku dan Bian segera masuk ke dalam mobil yang sudah dipanaskan sebelumnya oleh papa. Aku memang melihat wajah Bian agak sedikit pucat dan terlihat kantong mata yang menunjukkan jika Bian kurang istirahat semalam. Mungkin nanti aku akan menyuruhnya untuk bertukar posisi.
“dah siap?” tanya Bian kepadaku setelah memasang seat belt.
Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban. Perlahan mobil yang kami kendarai berjalan keluar rumah menuju jalan raya. Sebelum menonaktifkan HP, aku mengirim pesan ke Jihan yang mengatakan jika aku dan Bian sudah dalam perjalanan menuju Tegal. Tidak menunggu lama, Jihan mengirim balasan pesanku. Melihat pesan Jihan yang menyelipkan pesan menggodaku dengan Bian, aku langsung menonaktifkan HP tanpa memberikan balasan. Aku memandangi wajah Bian yang sedang fokus menyetir. Sebenarnya aku masih canggung dengan kejadian semalam, tapi aku sudah bertekad untuk melupakannya. Aku berdehem untuk memulai percakapan.
“Bi…mampir ke SPBU dulu ya buat nge-full-in tanki, kemarin aku lupa soalnya” kataku saat melihat SPBU di kejauhan.
“oh oke” jawab Bian datar.
Kami memasuki area SPBU untuk mengisi bensin. Sembari menunggu, aku mengambil tas selempang yang kuletakkan di jok belakang untuk mengambil dompet didalamnya.
“biar aku aja” kata Bian yang mencegahku mengeluarkan dompet dari dalam tas.
“eh tapi…” Bian langsung memotong ucapanku, “buat transport dari aku semuanya. Dompet kamu disimpan aja di dalam tas. Kamu gaboleh ngeluarin uang selama perjalanan” aku membuka mulutku untuk mengajukan protes tapi Bian langsung memberikan isyarat kepadaku untuk diam. Aku langsung memasang raut wajah kesal melihat Bian.
“nanti kita berhenti dulu di depan situ sebelum jalan lagi” kataku kepada Bian ketika akan menghidupkan kembali mesin mobil setelah selesai isi bensin.
“kenapa Dem?” tanya Bian setelah memarkirkan mobil di samping ATM Galeri sebelum keluar SPBU.
“ayo tukar posisi” Bian melihatku dengan wajah bingung, “aku gamau nanggung resiko di jalan kalo kamu tetap maksain nyetir” jelasku yang menjawab kebingungannya.
“aku gapapa kok Dem, aku kuat nyetir sampai Tegal” ucapnya yang berusaha meyakinkanku.
__ADS_1
“engga Bi…kamu itu ngantuk. Lihat itu mata kamu kayak orang abis kena tinju. Semalam kamu ngapain sih kok kurang tidur gitu?” Bian memalingkan wajahnya menatap setir mobil yang digenggamnya dan menghela napas panjang.
Apa karena kejadian semalam yang membuat Bian jadi seperti ini? Duh kalau benar aku harus gimana ini? gumamku dalam hati.
“aku bawa sampai Semarang, abis itu gantian kamu” putus Bian akhirnya, kemudian kembali menghidupkan mesin mobil dan perlahan berjalan meninggalkan SPBU.
Aku kemudian menyalakan lagu untuk menghilangkan rasa canggung diantara kami. Aku mencari snack di dalam ecobag yang kuletakkan di jok belakang untuk menemani perjalanan ini. Entahlah setiap melakukan perjalanan jauh, aku harus selalu menyiapkan snack yang banyak karena aku tidak betah jika selama perjalanan aku tidak makan. Aku mengambil Pringles sebagai snack pertama yang akan kumakan. Melihat Bian yang fokus menyetir dan tidak berminat untuk membuka pembicaraan, aku mengambil 2 keping Pringles dari dalam wadah dan menyodorkan langsung ke mulutnya tanpa bersuara.
Awalnya Bian sedikit memundurkan kepalanya saat Pringles itu menempel di bibirnya, “biar gak ngantuk kamu” mendengar ucapanku akhirnya dia mau menerima suapanku.
“itu jajanan semuanya kamu abisin di perjalanan?” tanya Bian setelah berhasil menelan Pringles yang kuberi ketika melirik ecobag yang berisi snack diatas pangkuanku.
Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban karena mulutku penuh dengan Pringles. Aku kembali memasukkan Pringles yang kupegang ke dalam mulut Bian dan akhirnya Pringles itu habis dimakan oleh aku dan Bian yang kusuapin. Selesai makan, aku menyodorkan air putih dalam botol yang telah kuberi sedotan kepada Bian.
“ntar 30 menit lagi aku buka snack yang baru” kataku sambil menutup botol setelah selesai minum.
“kamu emang suka makan selama perjalanan?” tanya Bian yang akhirnya membuka pembicaraan. Syukurlah aku tidak akan mati bosan dalam keheningan selama perjalanan.
“iya…gatau kenapa aku suka lapar kalo lagi perjalanan. Mungkin karena cuman duduk dan gak melakukan aktivitas lain kali ya selain nyetir….jadi cepat bosan trus akhirnya laper deh” jelasku.
“kamu gak takut sakit perut apa?” tanya Bian dengan alis bertaut menatapku heran kemudian kembali fokus ke depan.
Bian hanya mengganggukkan kepala mendengar penjelasanku, “kamu pernah masuk angin pas perjalanan berarti?”
“pernah…dulu pas masih kuliah waktu aku mau pulang ke Solo. Waktu itu aku pulang naik kereta. Dulu aku mikirnya kalo naik eksekutif bakal nyaman, makannya aku sengaja cuman beli roti sobek yang aku makan gak lama setelah kereta jalan. Setelah ngelewatin daerah Cirebon perutku mulai terasa kembung, trus akhirnya aku muntah-muntah selama perjalanan. Dari situ aku belajar kalo perjalanan jauh aku harus sering makan karena perutku gabisa kosong” jelasku yang menceritakan pengalaman perjalananku.
“trus kalau masalah HP yang harus mati selama perjalanan?” tanya Bian yang masih penasaran dengan kebiasaan unikku yang satu itu selama perjalanan.
“oh itu…aku itu kalau perjalanan ingin menikmati suasananya. Kalau HP-ku tetap nyala, mau aku letakkin di tas pun pasti nanti bakal tetap kubuka. Kan kalo perjalanan pasti kita cepat bosan, salah satu pengalihnya itu ya HP. Aku kalau lagi bosan trus mainan HP bisa lupa sama sekitar. Lebih baik kalau HP itu kumatikan jadi kalau mau main HP buat ngilangin bosan bakal ingat 'oiya HP nya kan mati' gitu…” jelasku yang membuat Bian membulatkan mulutnya.
“kalau mama sama papa kamu khawatir gimana?” Bian terlihat kurang setuju dengan alasanku.
“ya aku kan selama ini kalau perjalanan jauh selalu sama Tisha. Kalau pas lagi sendiri ya aku sebelum jalan udah ngasih kabar duluan dan ngasih estimasi kira-kira jam berapa aku akan sampai. Nanti kalau misal meleset dari estimasi awal aku bakal nyalain HP dan ngasih kabar lagi kok…jadi gak full aku ngilang”
“waktu itu kamu ngilang” guman Bian pelan yang masih terdengar olehku.
__ADS_1
Aku tertawa mendengar ucapannya, “gak ngilang kok…emang biasanya aku kalau udah sampai rumah suka lupa sama HP. Gimana ya…aku kalau pulang ke rumah itu emang komitmen untuk “mengistirahatkan” HP sih…kan aku niatnya pulang mau family time. Paling aku bakal megang HP pas malam saat dirumah karena Luna selalu ngasih daily report ke aku” jelasku setelah berhenti tertawa, “aku kalau dirumah emang slow respon tapi setelah balik ke Jakarta aku sebisa mungkin fast respon karena kadang ada pelanggan yang ngehubungin aku buat mesan kue” lanjutku.
“perasaan waktu aku nyari kontak di web cake shopmu aku cuman nemu kontaknya Luna” tanya Bian yang bingung karena nomorku dijadikan kontak bagi pelanggan untuk memesan kue.
“cuman beberapa kok…istilahnya “pelanggan VIP” lah…yang ngehubungin aku itu emang yang tiap bulan suka mesan kue dan yang udah aku kenal banget. Rata-rata dari kalangan atas…kayak sosialita gitu dehh yang suka ngadain acara gitu” jelasku.
Setelah berbicara mengenai kebiasanku selama perjalanan yang berujung pada pekerjaanku mengelola cake shop, giliran aku yang bertanya-tanya kepada Bian terkait bisnis cokelat yang dikelolanya dimulai dari pengelolaan kebun, pabrik, dan juga kedai. Ternyata aku baru mengetahui fakta jika pabrik yang memproduksi cokelat yang sudah memiliki nama dan kedai cokelat yang dikelolanya merupakan bisnis yang dirintisnya dari nol. Sedangkan kebun cokelat merupakan peninggalan dari papanya yang merupakan seorang petani cokelat. Sebenarnya, pabrik cokelat itu sudah ada sejak lama namun hanya sebatas mengelola cokelat pascapanen dan selanjutnya cokelat mentah tersebut dijual ke beberapa pabrik cokelat. Setelah Bian ikut membantu papanya mengelola kebun, Bian mengembangkan bisnisnya dengan membuat brand cokelat sendiri dan memasarkannya melalui kedai-kedai yang dibangunnya juga media online.
Dibawah kepemimpinan Bian, sedikit demi sedikit Bian mengurangi penjualan cokelat mentah ke beberapa pabrik. Untuk pengelolaannya, kebun cokelat masih tetap dipegang oleh papanya sedangkan Bian mengelola bisnisnya sendiri yaitu pabrik CokelatKu (brand cokelat milik Bian) dan kedai cokelat yang menjual CokelatKu juga beberapa minuman olahan cokelat. Bian juga terkadang membantu papanya mengelola kebun.
“ngomong-ngomong soal CokelatKu, itu cokelat favoritku tau” kataku setelah mendengar cerita Bian sambil membuka bungkusan *Or*eo.
“oiya?? Kok bisa? Kamu kenal darimana?” tanya Bian yang terkejut mendengar ucapanku.
Aku memberikan satu keping Oreo ke Bian karena dia menolak untuk disuapin kembali “siapa sih yang gak kenal CokelatKu Bi…walaupun tergolong baru, keren juga kamu bisa ngembangin sampai sukses seperti sekarang” Bian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapanku.
“aku tau dari Luna. Awalnya Luna duluan yang tau, dia dibawain sama teman kuliahnya yang orang Kediri. Trus dia nawarin ke aku tuh…eh akunya yang juga maniak cokelat jadi ketagihan. Akhirnya aku nyari-nyari toko yang jual secara online. Untungnya ada distributor yang jual untuk wilayah Jakarta. Akhirnya tiap bulan aku rutin beli dengan berbagai varian buat stok bulanan” jelasku sambil memakan Oreo.
“senang aku kalau ternyata kamu suka sama cokelatnya…ada keluhan gak? Mumpung bosnya nanya langsung ini” tanya Bian dengan nada bercanda.
“adaa…harganya terlalu mehong Bi…si Luna sampai nangis gara-gara cuman mampu beli dua batang yang ukuran sedang tiap bulannya gara-gara cokelatmu gak ramah di kantong mahasiswa. Itu pun dia bilang harus nabung dulu. Sampai dia minta ke aku buat ngasih bonusnya CokelatKu aja yang ukuran gede dengan rasa yang berbeda. Katanya kalo diuangkan udah mencapai bonus yang biasa didapat soalnya. Makannya aku kalau beli tiap bulan selalu dua item tiap rasanya. Aku selalu kasih bonus ke Luna berupa cokelat dan uang biar dia senang” Bian tertawa dengan keras mendengar ucapanku. Aku juga akhirnya ikut tertawa karena mendengar tawa Bian.
“ya gimana ya….udah standarnya segitu. Buktinya dengan harga segitu aja laku keras di pasaran kok…tuh buktinya laporan omzet penjualan selalu meningkat tiap bulannya kalau aku lihat” jawab Bian sambil sesekali tertawa.
“pantes si Luna sampai mau ngasih alamat rumahku ke kamu ya…disogok sama CokelatKu sih…mana itu cokelat favoritnya dia. Jadi lupa ada di pihak mana dia...” aku kembali kesal saat mengingat Luna yang berkhianat padaku demi CokelatKu. Bian kembali tertawa melihat raut wajah kesalku.
Tidak terasa aku dan Bian saling bercerita mengenai pekerjaan kami, akhirnya tiba giliranku untuk bertukar posisi dengan Bian. Awalanya Bian masih kekeh untuk melanjutkan perjalanan sampai Tegal. Tetapi raut wajah lelahnya tidak bisa membohongiku meskipun kami bercerita sepanjang perjalanan untuk menghilangkan rasa bosan dan lelah. Dengan berat hati akhirnya Bian mau tukar posisi asal ketika sampai di Tegal kita mampir ke pusat kotanya untuk beristirahat sebelum lanjut ke desa tempat KKN kami dulu yang berada di kaki gunung, jauh dari perkotaan.
“Dem…serius ini kamu mau lanjutin?” tanya Bian yang masih terlihat berat dengan keputusanku setelah kami bertukar tempat duduk.
“ck Bi…kamu ngomong kayak gitu, gak lihat tuh matamu dah tinggal 5 watt…masih aja sok kuat mau nyetir” ucapku dengan nada mengejek, “mundurin dulu itu sandaran…nurut sama aku” kataku dengan nada memerintah.
Bian menuruti perkataanku untuk memundurkan sandaran jok dan mulai memejamkan mata, kemudian tidak lama terdengar dengkuran halus yang menandakan dia sudah tertidur. Aku tersenyum memandangi wajahnya yang terlelap. Entahlah rasanya sulit untuk mendeskripsikan perasaanku akhir-akhir ini yang intens melakukan interaksi dengannya sejak kita bertemu kembali setelah sekian lama. Memang sikap Bian masih seperti dulu, kaku, pendiam, dan jarang terlibat interaksi dengan orang jika tidak diajak. Aku memperhatikan sikapnya lagi ketika kami reunian setelah melakukan fitting baju untuk pernikahan Devan. Entah mengapa Bian mengeluarkan sikap yang berbeda ketika dia hanya melakukan interaksi denganku. Apa karena aku masih memiliki perasaan kepadanya dan berharap dia memiliki perasaan yang sama, makannya aku melihat dia berbeda? Kugelengkan kepala dan mulai menyalakan mesin mobil untuk melanjutkan perjalanan kami.
Sebelum aku melanjutkan perjalanan, tiba-tiba terdengar suara notifikasi panggilan masuk yang berasal dari HP Bian. Aku seperti mendapat serangan jantung mendadak ketika melihat layar HP Bian yang menampilkan panggilan dari seseorang.
__ADS_1
Sarah ❤ is Calling…
...****************...