Demian

Demian
BAB 11 - Nasi Goreng


__ADS_3

Aku terbangun setelah mendengar kumandang suara adzan subuh, “Jihan, bangun Ji…udah subuh” aku mencolek lengan Jihan yang masih tertidur di sampingku.


“eugh…iya Dem…” aku langsung beranjak duduk setelah mendengar suara parau Jihan yang sudah bangun.


“ayo jangan lama-lama ngumpulin nyawanya, kita ambil wudhu bareng, aku takut kalau sendirian” pesanku sambil mengumpulkan kesadaran dengan duduk.


Aku menyalakan lampu kamar agar bisa melihat lebih jelas. Untungnya Ines tidak merasa terganggu tidurnya dengan lampu yang menyala. Kulihat Jihan langsung duduk ketika lampu kamar kunyalakan. Aku mengusap kasar wajahku untuk menghilangkan rasa kantuk dan segera mencepol rambut secara asal menggunakan ikat rambut yang kuletakkan di meja rias. Melihat diriku di cermin meja rias, aku tersenyum ketika melihat plester kompres yang menempel di dahiku.


Flashback On


“nih minum dulu wedang jahenya biar enakan badanmu” kata Bian sambil menyerahkan cangkir berisi wedang jahe yang diambil dari meja rias setelah menghabiskan makan malam kami.


Aku merasakan manis, pedas, dan hangat dari wedang jahe yang kuminum ketika masuk kedalam mulutku dan turun ke perut. Aku langsung menghabiskannya karena jika dibiarkan terlalu lama, wedang jahenya akan cepat dingin mengingat suhu di sini menembus angka 14⁰ celsius. Aku menyerahkan cangkir kosong ke Bian dan dia langsung menyerahkan obat pereda demam untuk kuminum.


“aku mau solat dulu aja Bi…aku belum solat isya soalnya. Nanti aku minum obat setelah solat” Bian kembali meletakkan obat dia pegang ke meja rias.


“mau aku anterin ambil wudhu?” tawar Bian ketika aku akan beranjak dari ranjang.


“gausah Bi…aku sama Jihan aja. Jihan mana ya?” aku membuka pintu dan tidak melihat adanya orang di ruang tengah.


“mereka kayaknya di kamar sebelah buat main kartu. Alfi bawa Uno dari rumah soalnya” jawab Bian, “ayo aku anterin sekalian aku naro piring sama cangkir di meja belakang” lanjutnya.


Akhirnya aku ke kamar mandi untuk sikat gigi, cuci muka, dan mengambil wudhu ditemani oleh Bian. Dengan setia Bian menungguku di depan kamar mandi sampai ketika aku solat dia masih mengikutiku masuk ke dalam kamar. Ingin rasanya aku mencegah Bian untuk tetap mengikutiku, tapi pasti ada saja alasan yang dia berikan.


“kamu pakai kayak gitu ntar plesternya nempel gak?” tanya Bian yang saat ini duduk disamping meja rias sambil melihatku melakukan skin care routine selesai solat.


Aku tertawa kecil mendengar pertanyaannya yang lucu menurutku. Dasar cowok…semuanya sama aja, tidak paham apapun soal cewek, gumamku dalam hati. “ya nempel lah Bi…ini water based kok, jadi cepat nyerap” kataku sambil mengoleskan gel di wajah.


Bian tidak merespon ucapanku. Dia hanya melihatku sambil sesekali mengambil peralatan skin care milikku untuk dilihat. Bahkan sekarang peralatan make upku yang berada di dalam pouch yang sama namun beda compartment juga diberantakin olehnya.


“awas ya Bi kalau gak diberesin lagi. Harus balik ke tempat awal loh. Aku capek natanya” ucapku dengan nada memperingatkan, sedangkan yang diperingatkan malah asik membuka tutup lipcream milikku.


Sesekali kulihat alis Bian berkerut memandangi alat make up milikku. Bahkan saat ini dia mengangkat kedua alisnya dan sedikit melebarkan matanya melihat brush make upku dengan model mermaid. Dia mencoba mengaplikasikan brush itu di wajahnya.


“berasa seperti megang ikan” meledaklah tawaku mendengar ucapan Bian yang kelewat polos itu.


“udah ah Bi…beresin lagi barang-barangnya. Kasihan itu Jihan sama Ines kelamaan nunggu di sebelah. Ntar malah ketiduran disana nanti mereka” ucapku setelah selesai dengan urusan wajah, kemudian mulai membersekan peralatanku yang diberantakin oleh Bian.


Bian juga ikut membereskan peralatanku yang tadi diberantakin olehnya. Setelah selesai, aku langsung meminum obat yang telah disiapkan oleh Bian dan Bian menempelkan plester kompres penurun demam di keningku. Aku berbaring di atas ranjang setelahnya dan langsung diselimuti oleh Bian.


“tidur yang nyenyak, semoga besok kamu udah fresh lagi” pesan Bian sambil memandangku.


Beberapa saat aku dan Bian saling berpandangan dengan wajah Bian yang tidak jauh dari wajahku yang sedang berbaring. Aku merasa Bian seperti ingin melakukan sesuatu tapi ditahan.


“thanks Bi…good night then” kataku yang kemudian berbaring menyamping membelakangi Bian dan langsung memejamkan mata. Suara terakhir yang kudengar adalah suara pintu kamar yang dibuka dan ditutup oleh Bian.

__ADS_1


Flashback End


“kamu masih sakit Dem?” tanya Jihan setelah sadar sepenuhnya.


“engga…badanku udah seger. Kemarin kan aku banyak istirahat jadi cepat pulih” jawabku sambil melepas plester yang menempel di keningku.


“selain istirahat juga semalam kan dirawat intensif sama pak dokter spesial” kata Ines yang tiba-tiba ikut menimpali pembicaraanku dengan Jihan sambil tetap menutup matanya.


“apasih Nes…udah ah malah gak kelar-kelar kalau udah ngobrolin ini. Ayo Ji…keburu abis waktunya” sanggahku sambil beranjak menuju pintu kamar untuk membukanya.


“ikuuutt” ucap Ines manja sambil bangun dari ranjang dan berjalan mengikutiku dan Jihan.


Akhirnya kami bertiga masuk ke dalam kamar mandi bersama-sama karena takut jika harus gantian dan saling menunggu. Posisi kamar mandi di rumah Bu Rima berada di belakang rumah yang langsung menembus halaman kosong dan tidak diberi penerangan di halaman tersebut. Untungnya kamar mandi Bu Rima sangat luas, kalau kata Alfi bisa untuk main sepak bola, ck ada-ada saja emang itu orang.


Aku, Jihan, dan Ines kembali ke kamar setelah buang air kecil dan ambil wudhu. Aku dan Jihan solat subuh bergantian karena tempat solat di kamar hanya muat untuk satu orang, sedangkan Ines berbaring di atas ranjang sambil memainkan HP. Aku dan Jihan tidak kuat jika harus solat di ruang tengah karena tidak tahan dengan dinginnya suhu udara di pagi hari yang setelah dicek oleh Ines mencapai 13⁰ celsius.


“kalian tidur jam berapa semalam?” tanyaku setelah selesai solat.


“jam 12…eh iya gak sih Ji?” tanya Ines kepada Jihan.


“jam 12 tuh kita baru keluar dari kamar anak cowok, trus kan ke kamar mandi dulu buat bersih-bersih…jam setengah 1an kita baru tidur” ucap Jihan yang mengoreksi jawaban Ines, “aku pas pegang pipi kamu udah mulai turun demamnya. Mungkin obat yang dikasih Mas Bian manjur buat kamu Dem, kan ngasihnya penuh cinta, ya gak Nes?” aku langsung cemberut mendengar Jihan dan Ines yang mulai menggodaku lagi. Ines hanya menanggapinya dengan senyum penuh arti.


“mulai deh…gak suka ah aku kalau udah gini. Lagian nih kok kalian kalah sih sama Bian buat bawain makan malamku?” tanyaku yang penasaran.


“nih ya Dem, Bian tuh khawatir banget pas kamu drop lagi semalam. Trus kamu tau kan dari sebelum maghrib itu udah hujan, nah hujannya itu baru reda pas jam 9an kalo gasalah. Itu Bian keluar beli obat kamu pas lagi deras-derasnya loh…dia keluar pakai mobilnya Alfi, soalnya mobilmu bensinnya off limit. Dia aja bahkan sampai lupa buat makan malam bareng kita gara-gara harus keluar beli obat kamu. Akhirnya dia bilang nanti makan malam sama kamu aja pas bangun. Eh ditunggu-tunggu sampai jam 9 kamu gak bangun, trus dibangunin sama dia deh akhirnya” jelas Jihan yang bercerita tentang semalam.


“ihhh parah banget sih kalian nguping…” kesalku, “gue gak macam-macam sama dia kali Nes…kita cuman makan bareng kok. Mungkin dia giring kalian ke kamar karena malu kali…soalnya gue semalam makan sepiring berdua. Mana sendoknya dia sengaja bawa satu doang lagi. Abis itu minumnya juga berdua. Gatau lah…gue juga pusing mikirin dia yang ajaib gitu” Ines dan Jihan langsung berteriak heboh ketika mendengar ceritaku.


“trus trus, dia ada ngobrol aneh-aneh gitu gak?? Wah, kayaknya abis gue hajatan, lo langsung nyusul deh Dem” ucap Ines terkikik. Aku hanya memutar malas bola mataku.


“gak ngomong apa-apa kok…ya kan kalian tau sendiri Bian gimana orangnya. Datar gitu gabisa buka topik obrolan” balasku cuek.


“tapi Dem, kok semalam aku dengar ketawa kamu kenceng banget ya??” aku menduga yang dimaksud Jihan adalah saat aku menertawakan kepolosan Bian melihat brush make upku. Akhirnya aku menjelaskan semua obrolanku dengan Bian semalam agar Jihan dan Ines tidak menduga yang aneh-aneh tentang diriku dan Bian.


“Dem, apa si Bian itu punya kepribadian ganda ya? Kok gue kayak gak percaya gitu Bian bakal care segitunya sama lo” tanya Ines yang masih tidak percaya dengan ceritaku semalam tentang perlakuan bian kepadaku. Jihan tidak terlalu terkejut mendengar ceritaku karena sebelumnya sudah kuceritakan bagaimana sikap Bian jika hanya bersamaku.


“maybe. Gue aja sampai sekarang gabisa nebak isi pikiran tuh orang. Hanya dia dan Tuhan yang tau bagaimana isi hati dan pikirannya” jawabku.


Tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk oleh Devan yang memanggil kami untuk segera keluar kamar membantu Bu Rima menyiapkan sarapan. Jihan dan Ines kusuruh keluar terlebih dahulu karena aku harus merapikan ranjang kami dan membersihkan kamar. Selesai dengan urusan kamar, aku segera keluar menuju dapur yang terletak di dalam warung depan rumah menggunakan kaus lengan panjang dilapisi hoodie berwarna pink pastel dan celana training panjang berwarna navy. Rambut panjangku sengaja kugerai agar kepalaku tidak pusing lagi dan sebagai gantinya, aku memakai bando agar tidak menutupi wajah.


Saat aku membuka pintu kamar, aku bertemu dengan Mas Bagas yang sedang duduk sambil memainkan HP.


“eh Mbak Demi…gimana mbak, udah baikan?” tanyanya ketika melihatku.


“alhamdulillah udah mas…maaf ya semalam gak sempat gabung” jawabku sambil memasang raut wajah menyesal.

__ADS_1


“gapapa kok mbak…lagian kan masih ada 3 hari lagi Mbak Demi kumpul-kumpul bareng lainnya” jawab Mas Bagas sambil tersenyum.


“hehe iya…yaudah kalau begitu saya ke dapur dulu ya mas, mau bantu-bantu” ucapku sambil menganggukkan kepala sopan dan langsung berjalan keluar rumah menuju warung tanpa menunggu jawaban dari Mas Bagas. Entahlah aku merasa kurang nyaman jika harus berbicara terlalu lama dengannya sejak pertemuan terakhir kami.


Aku langsung bergabung dengan Bu Rima, Jihan, dan Ines di dapur untuk menyiapkan sarapan. Menu sarapan pagi ini yaitu nasi goreng. Kulihat Jihan sedang memotong sayuran dan Ines sedang mensuwir-suwir daging ayam yang digunakan sebagai pelengkap nasi goreng, sedangkan Bu Rima sedang menyiapkan bumbu yang akan digunakan.


“eh Mbak Demi…udah sehat mbak?” tanya Bu Rima ketika melihatku berdiri di depan pintu dapur.


“alhamdulillah udah bu…ini apa yang masih kurang bu? Biar saya bantu” tanyaku menawarkan bantuan.


“ini mbak belum dibikin minumannya. Tolong bikinkan teh ya Mbak Demi…” pinta Bu Rima yang langsung kujawab dengan anggukan.


Aku langsung mengisi air ke dalam cerek dan memanaskannya di atas kompor. Aku juga mengambil wajan dan meletakkannya di atas kompor ketika melihat peralatan untuk memasak nasi goreng belum disiapkan. Kemudian aku menuang minyak goreng secukupnya di dalam wajan tersebut. Kompor untuk memasak nasi goreng sengaja belum kunyalakan karena bumbu yang masih disiapkan oleh Bu Rima.


Sembari menunggu air mendidih, aku menyiapkan termos dan menuang teh tubruk kedalamnya. Aku segera mematikan kompor ketika air telah mendidih dan mengangkat cerek untuk dituang airnya ke dalam termos. Sembari menunggu teh dalam termos berubah warna, aku menuang gula ke dalam gelas yang telah kusiapkan. Setelah menunggu beberapa menit, aku langsung menuang teh ke dalam gelas yang terletak di atas nampan.


“Mbak Demi, teh nya biar ibu aja yang bawa masuk sekalian ibu mau ke kamar dulu” kata Bu Rima ketika aku akan membawa teh masuk ke dalam rumah.


“oh iya bu…nanti nasi gorengnya biar saya yang masak. Ini bumbunya udah siap?” tanyaku ketika melihat bumbu yang sudah dihaluskan.


“udah mbak…itu tinggal masukin ke wajan aja. Oiya sama nasinya juga udah matang jadi udah bisa dimasak sekarang” jelas Bu Rima.


Aku langsung membuka rice cooker untuk mengeluarkan nasi. Kunyalakan kompor untuk memanaskan minyak dalam wajan. Setelah siap dengan segala sesuatunya, aku langsung memasak nasi goreng dalam porsi yang besar untuk 8 orang. Dibantu dengan Ines, aku mengangkat wajan berisi nasi goreng yang sudah jadi sedangkan Jihan membawa piring juga sendok untuk dibawa masuk ke dalam rumah.


“wii mantap ini nasi gorengnya” ucap Alfi ketika melihatku dan Ines membawa wajan berisi nasi goreng.


“baunya sampai sini weh pas masak tadi” lanjut Devan dengan mata yang berbinar-binar.


Secara bergantian, kami mengambil nasi goreng dari wajan ke dalam piring. Sebelum makan, Bian memimpin doa untukku, Jihan, Alfi, Bu Rima, dan Mas Bagas, sedangkan Ines dan Devan mulai menggerakkan tangan kanannya menyentuh kening, dada, dan kedua bahunya membentuk tanda salib untuk melakukan doa. Selesai berdoa, kami mulai melakukan sarapan.


“ini siapa yang masak deh?? Enak banget…mau deh punya istri yang bisa masak seenak ini” komen Alfi yang memuji masakanku ketika selesai menelan suapan pertamanya, “pedasnya tuh pas banget ini…buat yang gasuka pedas pasti masih bisa makan ini” lanjutnya.


“bener banget…tapi yang jelas bukan Ines sih ini…gue hafal banget soalnya” ucap Devan ikut menimpali komentar Alfi karena Devan sama sepertiku, tidak suka makanan pedas.


“lo mau punya istri yang bisa masak seenak ini, emangnya Demi mau sama lo Al?” tanya Jihan menanggapi pertanyaan Alfi. Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar percakapan ini.


“yaakk ada yang panas tuh Al” celetuk Ines yang mengundang tawa bagi kami. Jihan cemberut mendengar ucapan Ines yang menggodanya, sedangkan Alfi ikut menertawakan Jihan.


“tenang beb…masakan kamu tetap juara bagiku kok” ucap Alfi sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Jihan yang memutar malas bola matanya, “lagian yang bakal terus menikmati masakan Demi sampai tua cuman Bian kayaknya. Tuh buktinya…gausah pakai komen langsung gas aja ngabisin nasgor buatan Demi” Bian langsung tersedak ketika Alfi menyinggung dirinya. Aku yang kebetulan duduk disamping Bian langsung mengambil minum miliknya dan membantunya minum sambil menepuk pelan punggungnya.


“duhh semalam masih belum puas uwu-uwunya” celetuk Alfi yang semakin gencar menggodaku dan Bian.


Aku melototkan mataku kearah Alfi, “ck bisa gak sih mulutnya dipakai buat makan aja!!” sungutku padanya.


Namanya juga Alfi tetap saja menggodaku dengan Bian selama sarapan. Akhirnya aku menghabiskan sarapanku dengan menatap tajam kearahnya. Sempat aku melihat Mas Bagas yang duduk di sebelah Alfi menatapku dan Bian dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2