Demian

Demian
BAB 26 - New Life Chapter


__ADS_3

“apa ini bentuk janji pertanggungjawaban yang kamu sampaikan waktu menemui saya?” tanya Papa tegas kepada Bian yang sedari tadi menundukkan kepala, “tatap saya!!” titah papa yang membuat Bian mengangkat kepalanya menatap papa.


“Semua ini terjadi karena kesalahan kalian berdua. Orang tua kamu akan memaafkanmu ketika kamu berhasil mempertanggungjawabkan semuanya, begitupun dengan saya. Kalau kamu mau bertanggung jawab, kamu ajak anak saya untuk ikut bersamamu mempertanggungjawabkan ini semua. Saya akan merestui kamu jika anak saya bersedia ikut bersamamu” jawab papa yang membuat Bian membalikkan badannya ke arahku.


“Demi, kamu sudah mengetahui semua kebenarannya. Sekarang keputusan ada di tanganmu. Aku harap kamu mempertimbangkannya baik-baik dan melihat dari sudut pandang semua pihak yang terlibat” ucap Bian lugas yang menatapku dalam dan penuh harapan.


“Demetra, bersediakah kamu menerima pinanganku dan memulai hidup baru bersamaku?” lanjut Bian yang bertanya dengan wajah penuh harap.


Kulihat semua orang yang berada di dalam ruang rawat inapku menunggu jawaban dariku. Aku mulai mempertimbangkan lamarannya dengan melihat dari berbagai sudut pandang. Bian yang sudah meluruskan kesalahpahaman kami, orang tuaku dan Bian yang akan memaafkan kami jika bisa mempertanggungjawabkan kesalahan kami, calon buah hatiku yang pasti membutuhakan sosok papa, dan yang paling penting yaitu aku mencintainya. Tidak ada alasan yang membuatku menolak lamarannya.


Kurasakan tanganku digenggam semakin erat oleh mamanya Bian. Aku memejamkan mata dan menarik napas dalam untuk meyakinkan diriku.


Bismillahirrahmanirrahim, ucapku dalam hati.


“aku bersedia”


Bian terlihat lega saat mendengar jawabanku begitu pula dengan yang lain. Papa bergerak untuk memeluk Bian singkat dan mamanya Bian segera memelukku setelah mendengar jawabanku.


“Bian...” panggil papanya setelah Bian berpelukan dengan mama.


“ini cokelat titipanmu. Tadi asistenmu nemuin papa di lobby membawa cokelat ini” ucap papanya Bian sambil mengacungkan beberapa cokelat dengan berbagai rasa favoritku.


Seketika mataku berbinar dan aku melupakan kesedihanku sebelumnya saat melihat cokelat itu. Mengetahui jika aku sedang mengidam, mamanya Bian segera mengambil salah satu cokelat dari tangan suaminya dan segera memberikannya padaku.


“ini makanlah...jangan sampai saat lahir nanti anakmu jadi ileran” ucap mamanya Bian sambil membuka bungkusan cokelat dengan rasa matcha.


Dengan rakus, aku memakan cokelat tersebut dan langsung habis dalam waktu sekejap. Bian yang teringat akan ngidamku langsung bergerak mengelus perutku dan memberikan ciuman disana.


“akhirnya ngidam bumil satu ini terwujud sudah setelah melewati berbagai drama” celetuk Jihan yang mengundang tawa seluruh penghuni ruang rawat inapku.


*****


“saudara Fabiansa Restu Mahendra bin Agam Fabian, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Demetra Vinda Chairani, dengan maskawin seperangkat alat solat dan emas 50 gram, Tunai”


“saya terima nikah dan kawinnya Demetra Vinda Chairani binti Arwin Gustav dengan maskawin tersebut, Tunai”


Aku berpelukan dengan mama dan Tisha mendengar kata “sah” dari para saksi di acara akad nikahku dengan Bian. Ijab kabul yang diucapkan Bian menunjukkan papa telah menyerahkan tanggung jawabku kepada Bian sebagai suamiku yang sah di mata agama.

__ADS_1


Tidak mudah perjalananku dan Bian untuk sampai di tahap ini. Aku bahagia ternyata perasaanku kepadanya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Meskipun kami bersatu karena suatu kesalahan, tapi kami berharap kesalahan itu menjadi pelajaran berharga untuk kehidupan kami nantinya.


Dua minggu setelah acara lamaran yang penuh air mata, aku menetap di rumah orang tua Bian karena kondisiku yang tidak memungkinkan untuk ikut pulang bersama mama dan papa. Bian dibantu dengan kedua orang tua kami serta Jihan, Alfi, Ines, dan Devan mempersiapkan pernikahan kami yang sangat mendadak. Keputusan menikah dilakukan secepat mungkin mengingat kondisi perutku yang mulai membesar dan Bian meminta agar hubungan kami segera diresmikan agar dia bisa mendampingiku selama kehamilan.


Selama menetap di rumah orang tua Bian, setiap hari Bian rutin mengunjungi rumah orang tuanya untuk memastikan kondisiku. Papa mengijinkanku tinggal sementara di rumah orang tua Bian asal aku tidak tinggal satu rumah dengan Bian. Alhasil Bian mengalah untuk pergi sementara. Bian tidak mengatakan dimana dia tinggal untuk sementara waktu.


“kamu tenang aja, gausah mikirin aku tidur dimana, yang penting kalian aman dan nyaman disini” katanya saat itu yang menenangkanku saat aku khawatir dengan kondisinya.


Saat keluar dari rumah sakit, secara khusus aku meminta mama Bian yang bernama Tante Hera untuk ditempatkan di kamar Bian, karena semenjak hamil aku seperti ingin berdekatan terus dengannya. Malu rasanya saat aku mengucapkan permintaanku, tapi untungnya Tante Hera memaklumi kondisiku. Aku juga diijinkan untuk memakai barang-barang milik Bian yang berada di kamarnya.


Setiap malam, aku selalu tidur menggunakan baju Bian karena aku ingin merasa Bian memelukku sepanjang malam. Selain itu, aku juga menggunakan sampo dan sabun miliknya saat mandi karena aku ingin aroma Bian melekat di tubuhku. Aku sadar akan sikap anehku yang mendadak posesif kepada Bian semenjak dia meluruskan kesalahpahaman kami. Kadang hatiku mencoba menolak keinginan ini, tapi entah mengapa jika berhubungan dengan Bian membuat moodku membaik dan aku merasa ringan dalam menjalani kehamilanku.


Jihan memegang kendali penuh dalam persiapan pernikahanku yang diselenggarakan di halaman rumah orang tua Bian. Aku dan Bian juga hanya mengundang keluarga dan kerabat terdekat karena kondisiku. Aku tidak ingin mengundang orang lain yang nantinya menjadi gosip karena papa Bian, Om Agam merupakan salah satu pengusaha terkenal dan orang paling berpengaruh di kota ini.


Ines, Devan, dan Alfi juga turut serta membantu persiapan pernikahanku. Aku sempat kesal dengan Alfi dan Devan yang tidak berhenti menertawaiku ketika mengetahui aku akhirnya menikah dengan Bian. Kami berenam kembali mengadakan reuni dadakan di rumah orang tua Bian pasca aku keluar dari rumah sakit. Gabby juga ikut serta karena merindukanku dan calon adik kembarnya.


“jadi Tante Demi dan Om Bian akan seperti mama dan papa? Om Bian nanti jadi papanya dedek bayi?” tanyanya kepada Ines ketika mendengar pembicaraan pernikahan kami.


“iya sayang…kalau menurut Gabby, Om Bian cocok gak jadi papanya dedek bayi?” tanya Devan yang merespon pertanyaan Gabby.


“nggak pa…kasian dedek bayinya nanti ketakutan lihat wajah Om Bian yang gapernah senyum” jawab Gabby polos. Ines, Devan, Jihan, dan Alfi tertawa mendengar jawaban Gabby. Aku berusaha untuk tidak ikut menertawakannya melihat wajah Bian yang memerah karena jawaban Gabby.


“ini jawaban anakku loh Bi…kamu juga sih mau nikah dan udah mau jadi papa, itu wajah kayak masih mendam cintanya Demi selama bertahun-tahun…datar” Bian hanya diam mendengar jawaban Devan yang masih terus meledek dirinya.


Seperti pernikahan Ines dan Devan, Alfi akan bertanggung jawab untuk dokumentasi pernikahanku dan Bian. Dokumentasi hanya dilakukan saat hari H pernikahan. Aku dan Bian sepakat untuk tidak melakukan foto prewedding. Sebagai gantinya, Alfi akan mengeluarkan fotoku dan Bian saat kami liburan di Tegal.


Untuk busana pernikahan, Tante Asna rela menemuiku secara langsung di Kediri untuk mengukur tubuhku dan berdiskusi mengenai konsep gaun pernikahan. Sebenarnya aku memiliki impian ingin melangsungkan pernikahan dengan nuansa adat Jawa yang kental. Namun, lagi-lagi kondisiku saat ini membuatku harus mengubur dalam-dalam impian itu.


Gaun yang kupakai saat ini benar-benar pas dan nyaman di tubuhku. Tante Asna sangat ahli membuat gaun yang sesuai dengan lingkar perutku saat ini, sehingga kehamilanku tidak terlihat ketika aku mengenakannya.


Tiba saatnya dimana aku berjalan menuju halaman tempat prosesi ijab kabul. Dengan didampingi mama dan Tisha, perlahan aku berjalan menuju tempat dimana Bian berada. Aku melihat tatapan kagum dari para hadirin yang merupakan keluarga dan kerabat dekatku juga Bian. Tidak banyak memang, agar prosesi pernikahan berjalan khidmat. Terlihat Bian di seberang sana tidak mengedipkan matanya ketika melihatku berjalan ke arahnya. Bahkan saat MC memanggil nama Bian untuk mengulurkan tangannya agar bisa kucium, Bian tetap diam karena terlalu fokus memandangiku.


“pssstt Bian” bisikku memanggil dirinya agar segera sadar dari lamunannya. Terdengar suara tawa keluargaku di belakang kami yang mulai menertawakan tingkah Bian. Akhirnya aku mencubit pahanya untuk menyadarkannya.


“e-eh a-apa??” tanyanya yang tergagap saat tersadar dari lamunannya.


“duh Bian…nanti malam bisa puas mandangin Demi kok…sekarang buruan kelarin dulu itu prosesinya…keburu gerah ini kita nunggu” celetuk Devan yang mengundang tawa para hadirin. Aku mengulum senyum untuk menjaga perasaan Bian yang malu karena tingkah konyolnya.

__ADS_1


Kini saatnya aku mencium tangan Bian untuk pertama kalinya sebagai pasangan sah, dilanjutkan dengan Bian mencium keningku dan melantunkan doa untuk keberkahan rumah tangga kami kedepannya. Selanjutnya kami mulai menandatangani buku nikah untuk mengesahkan hubungan kami secara hukum dan mendengar wejangan yang disampaikan oleh perwakilan dari KUA.


Prosesi selanjutnya yaitu sungkeman dengan orang tua. Mama dan papa juga menghadirkan eyang untuk prosesi sungkeman. Eyang menitikkan air mata melihat kondisiku saat ini, aku juga tak kuasa menahan air mata karena aku telah membuat eyang, mama, dan papa sedih karena kesalahanku. Eyang hanya bisa mengusap kepalaku sambil menganggukkan kepalanya mendengar permintaan maafku. Papa dan mama juga memberi wejangan kepadaku agar selalu patuh dengan suami dan menjaga komunikasi kami agar tidak ada kesalahpahaman seperti sebelumnya.


Kemudian aku bergantian dengan Bian untuk melakukan sungkeman dengan kedua orang tua Bian. Aku baru mengetahui jika dibalik tampang sangarnya, papa mertuaku ternyata merupakan orang yang sangat hangat. Hal itu terbukti saat beliau secara pribadi memohon maaf kepadaku. Papa dan mama Bian berpesan kepadaku untuk tetap di sisi Bian dalam keadaan apapun serta bisa menerima kekurangan dan kelebihannya. Aku juga memohon maaf kepada mereka terkait dengan kondisiku yang buruk di awal pertemuan kami.


Saat aku selesai melakukan sungkeman, Bian masih bersimpuh dihadapan orang tuaku. Terlihat papa dengan wajah tegasnya memberikan berbagai wejangan kepada Bian dan sesekali Bian menganggukkan kepalanya. Selesai sungkeman yang cukup menguras air mata, acara dilanjutkan dengan prosesi salam-salaman dengan hadirin. Aku dan Bian berjalan beriringan menuju panggung pelaminan diikuti kedua orang tua kami. Para hadirin secara bergiliran mengucapkan selamat atas pernikahan kami dan memanjatkan doa untuk rumah tangga kami kedepannya. Tidak ada yang membahas mengenai kehamilanku karena kami sepakat bahwa hadirin yang menghadiri pernikahanku tidak akan menyinggung kondisiku.


Acara selanjutnya diisi dengan hiburan sambil menikmati hidangan yang tersedia. Hiburan pertama yaitu pelemparan bunga yang dilakukan oleh aku dan Bian kepada para hadirin yang masih lajang. Terlihat beberapa orang yang kukenal seperti Jihan, Alfi, karyawan cake shop yang turut hadir, adikku Tisha, dan bahkan Sarah yang masih SMA terlihat semangat untuk mendapatkan bunga yang kubawa saat ini.


“oke pengantin akan melempar dalam hitungan…” terdengar suara MC yang memberi aba-aba kepadaku dan Bian.


“3…2…1” aku dan Bian melempar Bunga tersebut. Terdengar suara riuh setelah aku melempar bunga. Saat aku dan Bian membalikkan untuk melihat siapa orang yang beruntung, mataku melebar melihat bunga yang kubawa berada di tangan Jihan dan Alfi. Terlihat tatapan syok dari keduanya saat kompak memegang bunga tersebut.


“horeee…selain Tante Demi dan Om Bian, Gabby juga bakal punya mama papa dari Tante Jihan dan Om Alfi” kata Gabby yang berada di pangkuan Devan sambil bertepuk tangan. Kami tertawa mendengar ucapan Gabby yang membuat Jihan dan Alfi diam tak berkutik.


“mumpung ada Tante Asna tuh Al…gas lahh lamaran” celetuk Devan yang ikut menggoda Jihan dan Alfi yang membuat wajah mereka memerah menahan malu. Tante Asna tertawa menanggapi ucapan Devan.


Acara pernikahanku ditutup dengan sesi foto bersama. Aku juga langsung pergi meninggalkan rumah mertuaku setelah acara selesai karena Bian ingin kami langsung tinggal berdua. Sekali lagi, aku mengeluarkan air mata karena akan berpisah dengan orang tuaku. Perpisahan ini berbeda seperti biasanya karena aku akan memulai hidup baru bersama Bian, suamiku. Hmm…rasanya sedikit asing menyebut Bian sebagai suamiku.


Selama di dalam mobil, tidak ada dari kami yang berniat membuka pembicaraan. Sebenarnya aku bingung ingin memanggil Bian apa, tidak mungkin aku hanya memanggilnya dengan nama saja seperti biasanya. Tiba-tiba aku teringat dengan pesan mama sebelum kami pergi meninggalkan rumah.


“mulai sekarang, biasakan kamu memanggil suamimu dengan panggilan mas. Sekarang kan Bian posisinya sebagai suamimu, bukan teman lagi. Kamu harus bisa menghormati dia” pesan mama. Tapi aku merasa canggung kalau harus memanggilnya dengan embel-embel mas.


Tiba-tiba mobil yang dikemudikan Bian masuk ke dalam komplek perumahan yang cukup elit dan tidak lama kemudian berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis dengan dua lantai. Saat mobil Bian melewati pagar rumah tersebut, terlihat halaman yang cukup luas menyambut kedatangan kami.


Aku mengikuti Bian yang keluar dari mobil sambil melihat keadaan sekitar. Kawasan perumahan tersebut terlihat cukup tenang dan asri karena banyak pohon di sepanjang jalan.


“ini rumah siapa?” tanyaku setelah puas memandangi rumah tersebut dan kawasan di sekitarnya.


“rumah kita” jawabnya singkat sambil tersenyum padaku.


Rumah kita?? Rumah dia kali maksudnya. Aku tidak menyangka jika Bian sudah memiliki rumah sendiri yang cukup besar dengan halaman yang cukup luas. Aku tebak pasti di dalam rumah ada pintu menuju halaman belakang.


“ayo masuk” ucapnya sambil mengulurkan tangannya kepadaku, “saat kamu menerima uluran tanganku, itu berarti kamu siap menjadi ratu di istanaku dan menjalani hidup bersamaku baik suka maupun duka. Rumah ini akan menjadi saksi bagaimana kita membesarkan anak-anak kita dan menghabiskan waktu bersama sampai tua nanti” ucapnya sambil menatapku dalam.


Aku menyambut uluran tangannya yang membuat Bian tersenyum padaku. Aku siap memulai hidup baru bersamanya. Yes...I’m ready to create my new life chapter with him.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2