
“saya mau nasi ayam cah jamur, fruit salad, sama iced lemon tea” pesanku kepada mbak waitress yang sibuk mencatat pesananku.
Setelah hampir 3 jam kami melakukan fitting baju pengiring pengantin untuk Ines dan Devan, kami memutuskan untuk makan siang di restoran yang berada di seberang butik. Sembari menunggu Alfi dan Bian melaksanakan solat dzuhur di musholla butik, aku dan Jihan yang sedang berhalangan serta Ines dan Devan pergi ke restoran lebih dulu untuk mencari tempat karena di jam makan siang restoran ini akan penuh.
“eh Alfi sama Bian kita pesanin sekalian aja kali ya? Biar pas mereka datang tinggal makan” usul Devan sambil membolak-balik halaman menu.
Aku menyetujui usulan Devan, “boleh tuh…trus mereka mau dipesanin apa?”
“samain aja lah menunya” usul Jihan yang gak mau ambil pusing masalah pemilihan menu.
“yaudah kalo mau disamain, menunya Alfi samain sama Jihan, kalo Bian samain aja sama Demi” usul Ines yang membuatku mengernyit, “dah mbak yang pesanan dua cewek ini dijadiin 2 ya mbak” pesan Ines kepada mbak waitress yang setia menunggu di meja kami.
“eh kok gitu? Kenapa gak disamain aja menu mereka?” protesku saat mengetahui menuku dijadikan dua porsi untuk Bian.
“dahlah biar cepet…nih loh kasian mbaknya nungguin kita. Lagian gue juga udah laper” kata Devan yang menutup buku menu yang dipegangnya dan menyerahkan ke mbak waitress itu.
Alfi dan Bian yang sudah selesai solat datang menghampiri meja kami dan duduk di tempat yang masih kosong. Entah ini memang sudah direncanakan atau memang kebetulan, Alfi mengambil tempat duduk di depan Jihan sedangkan Bian menempati sisanya yang tepat berada di depanku.
“eh mbak…yang fruit salad nya 1 aja mbak jangan 2….itu hanya menu tambahan saya aja” kataku kepada mbak waitress yang hendak membacakan ulang pesanan kami.
“kenapa emangnya Dem? Lo mau seporsi dimakan berdua sama Bian ya??” Devan tersenyum menggoda kepadaku. “ciyeee Demi…..modusnya bisa aja tuhh” Jihan dan Ines akhirnya ikut-ikutan meledekku. Alfi dan Bian hanya memasang wajah bingung melihat kami, terutama Bian yang sampai menautkan kedua alisnya karena namanya disebut oleh Devan.
Aku akhirnya memberi tanda kepada mbak waitress itu untuk melanjutkan pesanan awal karena terlanjur kesal dengan ucapan Devan. Setelah mbak waitress pergi, Alfi menanyakan maksud ucapan Devan tadi. Devan menceritakan bahwa pesanan Alfi disamakan dengan Jihan dan pesanan Bian disamakan dengan Demi. Paham akan maksud dari cerita Devan, Alfi akhirnya ikut-ikutan menggodaku dengan Bian. Bian yang ikut menjadi korban hanya diam sambil memandangku dengan tatapan yang sulit diartikan. Hal ini yang membuatku merasa canggung dan salah tingkah. Untuk menutupi kondisiku, aku mengeluarkan HP dan menyibukkan diriku.
Jihan yang akhirnya tidak tega melihatku menjadi korban ledekan yang lain akhirnya mengalihkan pembicaraan. Topik pembicaraan kemudian beralih menjadi cerita kegiatan kita selama 4 tahun belakangan ini. Dimulai dari aku yang selama 4 tahun terakhir fokus membangun cake shop yang sudah menjadi impianku saat kuliah. Mendengar Devan dan Ines yang akan menikah, aku berencana memberi hadiah berupa kue pengantin dengan 5 tingkat yang melambangkan usia perjalanan cinta mereka yaitu 5 tahun terhitung dari pertemuan awal mereka.
Kemudian cerita dari Jihan yang akhirnya berhasil membangun bisnis jasa wedding organizer di kampung halamannya di Malang setelah lulus kuliah karena aku mengetahui sejak kuliah dirinya menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan. Jihan turut membantu Ines dan Devan dalam mempersiapkan segala hal yang terkait dengan pernikahannya. Jihan hanya membantu secara personal tanpa melibatkan staffnya karena memang Devan sengaja tidak menggunakan jasa WO untuk penyelenggaraan pernikahannya. Ines dan Devan sepakat untuk menyelenggarakan pernikahan secara sederhana, yaitu pemberkatan dan family gathering di salah satu villa yang berlokasi di Puncak. Karena Jihan ikut terlibat dalam persiapan pernikahan, Jihan akan stay di rumah Ines hingga hari H pernikahan.
Alfi saat ini sibuk mengurus perusahaan milik keluarganya yang bergerak di bidang advertising karena papanya akan menyerahkan tanggung jawab kepemimpinan perusahaan kepadanya. Selain itu, dia juga mengembangkan hobinya di bidang fotografi untuk membangun studio yang cukup besar di Depok. Devan dan Ines juga menggunakan jasa studio Alfi sebagai penanggung jawab dokumentasi pernikahan mereka, dimulai dari prewedding hingga hari H pernikahan nanti.
__ADS_1
Ines yang juga merupakan orang Depok saat ini sukses dengan bisnis cateringnya dan sudah menjalin kerja sama dengan beberapa EO dan perusahaan ternama. Sejak kuliah, aku memang mengetahui jika Ines memiliki hobi memasak. Tak heran jika setelah lulus Ines mendalami dan menjadikan hobi tersebut sebagai peluang usaha. Dulu ketika kuliah, aku dan Ines memang tidak terlalu dekat karena aku suka menghabiskan waktuku di perpustakaan atau di kosan saat senggang. Kami baru dekat sejak aku mengenalkannya dengan Devan yang kebetulan satu tim KKN denganku.
Waktu itu Devan kebingungan karena tidak memiliki teman saat akan beribadah di hari minggu. Lokasi gereja yang cukup jauh dari desa tempat KKN kami membuat dia berpikir untuk melewatkan ibadahnya. Aku teringat dengan Ines yang seiman dengan Devan. Kebetulan Ines mendapatkan lokasi KKN yang masih satu kecamatan denganku. Aku mengusulkan mereka untuk berangkat ibadah bersama. Sejak saat itulah Devan dan Ines menjadi dekat hingga seperti sekarang ini.
Devan yang baru menyelesaikan S2 di Jepang, setelah menikah akan menjadi dosen di kampus tempat kuliah kami dulu. Devan memang paling ambisius diantara kami untuk melanjutkan S2 setelah lulus S1. Dia mencari peluang beasiswa untuk mewujudkan impiannya. Kebetulan dosennya memberikan rekomendasi beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di negeri matahari terbit itu.
Terakhir dari cerita Bian, aku mengetahui jika selama 4 tahun ini dia fokus mengembangkan perkebunan cokelat milik papanya di Kediri. Selain fokus di perkebunannya, Bian juga merintis kedai cokelat yang saat ini tersebar di beberapa kota di Jawa Timur. Mendengar ceritanya, aku berasumsi jika inilah alasan Bian memutuskan komunikasi kami karena ingin fokus dengan karirnya. Tapi mengapa dia tidak menceritakan apa-apa kepadaku? Apa dia memang hanya menganggap kedekatan kami selama setahun itu sebagai hiburan sementara? Ingin rasanya aku berteriak didepannya untuk memberitahu jika aku selama ini tersiksa karena memendam perasaan kepadanya. Tanpa sadar aku menunjukkan ekspresi kekesalanku saat mengetahui ceritanya. Namun, aku buru-buru mengubah ekspresi itu agar tidak dipertanyakan oleh yang lain.
Ditengah-tengah obrolan kami yang membahas tentang kesibukan selama 4 tahun terakhir, salad milikku dan Bian akhirnya tiba juga.
“aku tadi pesan salad buah, karena pesanan kamu disamakan denganku ya itu salad buah buat kamu” ucapku saat melihat raut wajah Bian yang bingung memandangi salad buah dihadapannya. “mmm…kamu..gasuka salad ya?” tanyaku hati-hati ketika melihat Bian hanya diam memandangi salad buah itu.
“ehh…a-aku suka kok. M-makasih ya udah dipesanin salad” jawab Bian sambil tersenyum kecil kepadaku.
Sesaat aku terdiam melihat Bian memberikan senyum kecil kepadaku. Damn…what’s wrong with me?? teriakku dalam hati. Mengapa aku merasa diriku terhipnotis melihat mata cokelatnya. Entah mengapa jantungku tiba-tiba berdetak begitu cepat dan hatiku berdebar-debar ketika melihat matanya. Tidak…ini salah, seharusnya aku tidak boleh seperti ini. Aku memutuskan pandanganku dan mengalihkannya ke salad buah yang ada di hadapanku.
“duh yang mau nikah sebenarnya siapa sih? Kayaknya aura calon pengantin lo kalah sama Bian deh Dev” celetuk Alfi dengan wajah tanpa dosa. Aku yang tadinya merasa canggung karena tatapan mata Bian dibuat semakin salah tingkah ketika mendengar ucapan Alfi.
“udah wee…kasian itu Demi sama Bian udah merah mukanya. Malu-malu kucing itu mereka” aku mendelikkan mataku tajam ke arah Jihan yang ikut memanas-manasi aku dan Bian. Salad buah sialan, umpatku dalam hati yang merutuki kekesalanku pada makanan tersebut.
Untungnya tidak lama setelah itu, pesanan kami mulai datang satu per satu. Merasa dongkol setelah digoda habis-habisan dengan yang lain, aku langsung menghabiskan salad buah dengan rakus, dilanjutkan dengan memakan nasi ayam cah jamur dengan lahap untuk menutupi rasa maluku. Bian yang memerah wajahnya juga langsung makan dalam diam. Disela-sela kegiatan makan kami, aku dan Bian harus menebalkan telinga karena mereka semakin gencar menggoda kami.
“kalo kalian masih ngeledekkin aku sama Bian, aku abis makan mau pulang” kataku datar karena risih mendengar ocehan mereka yang tidak kunjung berhenti.
“ini nihh yang bikin gue kangen kalo kita kumpul….pasti ada aja bahan ledekan” ucap Alfi menghiraukan ancamanku. Aku mendecakkan lidah saat ancamanku tidak mempan untuk mereka.
“eh guys, gue punya ide nih” celetuk Devan tiba-tiba disela kegiatan makan kami. “kan kita baru ketemu full team nih setelah 4 tahun. Gue gamau lah ngelewatin momen ini gitu aja, apalagi gue sama Ines kan mau married juga. Gimana kalo kita nostalgia lagi ke tempat desa KKN dulu di Tegal? Kapan lagi coba kita bisa kayak gini. Itung-itung juga sebagai liburan dan pesta melepas masa single gue dan Ines” lanjutnya.
“nah ini nih….demen gue kalo kayak gini. Fix gue ikut” ucap Alfi langsung tanpa basa-basi.
__ADS_1
“kapan emang rencananya?” tanya Bian
“Rabu malam kita berangkat gimana? Kan Kamis depan tanggal merah, trus Jumat hari kejepit kan..gas aja lah kita disana dari Kamis sampai Minggu” usul Devan.
“gue ikut” ucap Jihan yang juga menyetujui usulan Devan, “kangen banget gue sama suasana disana” tambahnya. Bian hanya menganggukkan kepala tanda setuju.
“gimana nih Dem?? Lo doang yang belum respon” tanya Devan yang membuat lainnya memandangku menunggu persetujuanku.
“ini kalian mau berangkat bareng dari Depok?” tanyaku kepada yang lain.
“iya nanti meeting pointnya di rumah gue aja, kita berangkat naik mobil gue” jawab Alfi menawarkan diri.
“gue ikut tapi gue gak berangkat bareng kalian” kataku.
“yah…kenapa?” tanya Jihan yang terlihat agak kecewa dengan keputusanku.
“sebenarnya aku tiap bulan selalu balik ke Solo buat liburan seminggu beb…dan bulan ini jadwalnya minggu besok mumpung long weekend. Ntar aku omongin dulu deh sama orang rumah, kalo boleh ya berarti besok pagi aku berangkat ke Solo. Kamis paginya baru aku nyusul kalian ke Tegal dari rumah” jelasku pada Jihan panjang lebar.
“oh yaudah gapapa ntar lo berangkat Kamis pagi aja dari Solo” ucap Devan yang menyetujui ucapanku.
“emang kamu naik apa pas nyusul kita?” tanya Bian.
“ya naik mobil lah…kan aku kalo pulang ke rumah biasanya bawa mobil sendiri. Gak mungkin dong mobil aku tinggal di rumah pas aku mau nyusulin kalian, ntar aku pas balik kesini gapunya kendaraan dong” jawabku santai.
“nyetir sendiri?” tanya Alfi yang agak terkejut mendengar jawabanku.
“ya iyalah…emang mau disetirin siapa? Tenang aja, Demetra kan strong woman” balasku santai sambil tersenyum menaik-turunkan kedua alisku.
Menghiraukan tatapan heran dan terkejut dari mereka, aku mengalihkan pembicaraan dengan mengajak mereka foto bersama selesai makan siang sebelum pulang.
__ADS_1
...****************...