
Aku terbangun ketika mendengar suara barang-barang yang dibereskan. Kulihat seseorang sedang menata barang-barangku di koper. Saat orang tersebut membalikkan badan, ternyata dia adalah Bian.
Bian tersenyum lembut kepadaku saat melihatku sudah bangun, “abis maghrib kita pulang ya” ucapnya lembut sambil mengusap rambutku. Aku bergidik ngeri saat melihat sikap lembutnya Bian. Aku tidak menyangka dibalik sikap lembut dan datarnya, Bian bisa terlihat mengerikan saat menghajar seseorang. Aku bahkan sampai tidak percaya jika dirinya hampir membunuh seseorang.
Tunggu dulu, apa tadi yang dia katakan? Aku pulang bersamanya? Tidakk…aku tidak mau lama-lama berdekatan dengannya. Tiba-tiba bayangan adegan panas kami dan bayangan Bian menghajar Mas Bagas kembali berputar di kepalaku. Aku menggelengkan kepala mencoba menghilangkan bayangan itu di pikiranku.
“Ines sama Devan kemana?” tanyaku yang mengalihkan pembicaraan.
Aku kira Bian akan membuka pintu untuk keluar memanggil Ines dan Devan, ternyata dia malah menguncinya dan langsung menyingkap selimutku.
“kamu mau ngapain?” tanyaku panik melihat Bian akan melepas celana yang kukenakan. Aku mencoba menahan tangannya agar tidak kembali menyentuh diriku namun kalah dengan tenaganya.
Aku memejamkan mata ketika area intiku kembali terlihat olehnya. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang dingin menempel di area intiku. Ternyata Bian mengoleskan salep di seluruh area intiku.
“maafin aku yang kalap sampai membuatmu seperti ini” ucapnya sedih sambil mengoleskan salep. Aku menatap Bian yang fokus mengobati area intiku dengan tatapan bersalahnya.
Aku hanya diam tidak menanggapi ucapannya. Rasa sesak itu kembali hadir dalam diriku. Sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak keluar.
“abis ini tolong panggilin Ines dan Devan” kataku datar setelah Bian kembali merapikan pakaianku.
Akhirnya Ines dan Devan masuk ke dalam kamar diikuti dengan Bian, Alfi, dan Jihan.
“Dev…kunci mobil gue dimana?” tanyaku setelah Devan dan Ines duduk di samping ranjang. Sama seperti Bian, aku sempat bergidik ngeri saat melihat Devan. Sulit bagiku untuk meyakini cerita Ines sebelumnya. Dibalik tampang ramahnya, ternyata Devan juga memiliki sisi mengerikan.
“eh...ada di Bian kan?” jawabnya ragu sambil melihat ke arah Bian.
“lo ambil kuncinya, setelah itu ayo kita siap-siap pulang. Gue tadi udah bilang ke Ines. Lo udah tau kan?” Devan hanya menggaruk tengkuknya melihatku yang menatap tajam ke arahnya.
“u-udah sih…cuman…” jawabnya menggantung, “cuman apa??” tanyaku tajam.
“cuman kamu hanya boleh pulang bersamaku. Tidak dengan yang lain” ucap Bian datar yang membuatku menatap tajam dirinya.
“kamu gaada hak buat memaksa aku pulang sama kamu. Aku mau Devan yang nyetir mobilku” aku dan Bian akhirnya saling menatap tajam satu sama lain.
“aku ada hak…karena kamu adalah milikku. Aku tidak akan melepasmu begitu saja setelah apa yang terjadi” ucap Bian santai yang langsung memantik emosiku.
“aku bukan barang yang bisa kamu klaim seenaknya” balasku dengan nada yang mulai meninggi. Ines yang melihatku dan Bian saling mempertahankan ego masing-masing mencoba menenangkan kami.
“udah Bian, Demi…tenangkan diri kalian” kata Ines sambil mengusap lenganku dan memandangku dan Bian bergantian.
“mmm gini Dem…sorry ya kalau ini buat lo tersinggung, tapi tadi kita udah diskusi kalau lo lebih safe jika pulang bersama Bian. Lo tau sendiri kan kondisi lo sekarang gimana…nanti kalau ada apa-apa dijalan, kalau lo sama Bian kan bisa langsung ditangani sama Bian gitu” ucap Alfi pelan yang berusaha tidak menyinggungku.
“apa karena gue udah tidur sama Bian makannya Bian jadi berhak atas diri gue dan kalian jadi sungkan kalau berdekatan dengan gue? Wow benar-benar teman sekali kalian” sinisku, “satu hal yang perlu kalian ketahui…gue gak minta Bian buat menolong gue. Gue masih ingat kalau lo berdua yang nyuruh Bian buat ngelakuin kan? Thanks Al, Dev” lanjutku sambil menunjuk Devan dan Alfi bergantian.
“bukan gitu maksud kita Dem…” ucap Alfi yang berusaha meluruskan kesalahpahaman ini. Aku langsung memotong ucapan Alfi.
“gapapa kok…lagian udah kejadian juga. Cuman gue kecewa aja sih kalian jadi gini sama gue. Gue aja sampai merasa asing sama kalian. Bahkan sekarang kalian suka diskusi dibelakang gue dan memutuskan sepihak tanpa menanyakan persetujuan gue” lirihku kecewa, “oke nanti gue balik sama Bian kalau itu keputusan kalian. Ikut aja gue” putusku akhirnya dan kemudian beranjak bangun dari ranjang untuk menuju kamar mandi. Entah mengapa aku merasa lebih sensitif semenjak kejadian itu.
__ADS_1
“gue bisa sendiri kok, thanks” tolakku halus ketika Ines dan Jihan mencoba membantuku. Aku melihat tatapan sedih dari mereka tapi aku menghiraukannya.
Aku mencoba berjalan pelan dengan tertatih-tatih, menuju kamar mandi. Untung rasa sakitnya mulai berkurang. Aku kembali melakukan ritual mandi untuk meredakan emosiku.
Sesuai dengan kesepakatan awal, kami mulai bersiap-siap selepas solat maghrib. Bian melarangku untuk memasukkan barang-barang ke bagasi sehingga aku hanya duduk sambil mengamati yang lain. Masih terlihat jelas raut sedih Bu Rima yang berharap bisa bernegosiasi kembali denganku terkait dengan tindakan kriminal Mas Bagas. Aku hanya tersenyum sedih membalasnya karena aku juga berharap Bu Rima memahami kondisiku.
Setelah masuk ke dalam mobil, aku mulai merebahkan kursi dan menyalakan musik. Aku memang akan mendiamkan Bian selama perjalanan. Bian juga sepertinya tidak berminat untuk membuka obrolan denganku.
Setelah melaksanakan solat isya di masjid Kota Tegal, mobilku berpisah dengan mobilnya Alfi karena Bian mampir ke McD untuk drive thru. Aku yang sedang tidak mood makan hanya memesan cheeseburger satu. Tadinya Bian sempat ingin menambah pesananku, tapi aku menolaknya.
Mulai memasuki tol, aku langsung menghabiskan cheeseburger tersebut agar bisa tidur setelahnya. Saat memasuki area Jawa Barat, aku yang sedang terlelap tiba-tiba terbangun karena merasakan gejolak dalam perutku. Aku menyuruh Bian untuk berhenti di pinggir jalan dan langsung memuntahkan cheeseburger yang tadi kumakan. Bian dengan telaten memijat tengkukku dan membersihkan mulutku selesai muntah.
“better?” tanya Bian yang terlihat tenang namun aku masih bisa melihat raut wajah khawatirnya. Aku hanya menganggukkan kepala menjawabnya.
Setelah kembali masuk ke dalam mobil, Bian langsung mengambil kotak p3k di laci dashboard dan mengeluarkan minyak angin di dalamnya. Rambutku yang kucepol asal setelah muntah memudahkan Bian untuk mengoleskan minyak angin di leher dan tengkukku.
“nih dipakai maskernya biar gak mual lagi” ucap Bian yang menyodorkan masker kearahku yang diambil dari kotak p3k.
“iya makasih” aku mengambil masker di tangannya dan langsung memakainya, “aku tidur dulu ya, nanti kamu bangunin aku kalau udah sampai Jakarta” tanpa menunggu jawabannya aku langsung memejamkan mata.
Aku terbangun dan melihat ke sekelilingku, rasanya aku seperti tidak asing dengan tempat ini. Aku tersadar jika saat ini aku berada di dalam kamar yang ada di cake shop. Aku merasa ada sesuatu yang menimpa perutku. Kugerakkan badan ke samping dan langsung bertatapan dengan wajah Bian yang tertidur dengan damai. Lama aku memandangi wajahnya yang tetap terlihat tampan meskipun sedang tidur. Aku mendengar dengkuran halus darinya. Pasti dia sangat lelah, gumamku dalam hati.
Tanganku mulai bergerak menyentuh wajahnya. Kulitnya yang sawo matang tapi terlihat sangat mulus dan bersih, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, bibir yang standar (tidak tebal maupun tipis) berwarna merah muda karena Bian bukan seorang perokok. Aku tersenyum lemah mengingat peristiwa tadi pagi. Aku masih tidak menyangka jika hari ini merupakan hari yang bersejarah bagiku dimana aku menyerahkan kehormatanku pada orang yang berhasil memporak-porandakan perasaanku selama 4 tahun ini.
Air mataku tiba-tiba menetes. Aku merasa sedih dan hancur dimana kami melakukannya karena terpaksa di waktu yang salah. Belum saatnya aku memberikan mahkotaku kepada orang yang bukan suamiku. Menyesal? Tentu saja. Apalagi aku harus merelakannya karena ambisi gila seseorang yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Tiba-tiba aku teringat dengan perempuan yang bernama Sarah yang menjadi salah satu pemicu dari semua masalah yang terjadi. Bagaimana kalau dia mengetahui apa yang telah kulakukan dengan Bian dibelakangnya? Apa dia akan melabrakku dan mengecapku sebagai pelakor karena merebut Bian darinya? Aku tidak ingin seperti itu.
“aku mencintaimu Bian…akan selalu mencintaimu” lirihku pelan kemudian mencium bibirnya lembut. Untunglah Bian tidur terlalu lelap sehingga tidak terbangun dengan apa yang terjadi saat ini.
Aku memindahkan pelan tangannya dari atas perutku, kemudian bangun dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar.
“eh…Bian tau alamat cake shop darimana? Aku kan belum memberitahu lokasi spesifiknya” gumamku yang bermonolog sendiri.
Setelah aku berganti pakaian dan melakukan bersih-bersih, aku langsung mengambil HP-ku dan membukanya. Aku harus tanya seseorang.
“halo mbak…ada apa telepon tengah malam gini?” sapa seseorang disana dengan suara parau.
“Lun, kamu yang ngasitau Bian alamat cake shop ya?” tanyaku to the point.
“hmmm” gumamnya kemudian terdengar suara menguap dari sana.
“kamu kok ember banget sih Lun…gimana kalau nanti dia sering kesini coba…” aku kesal dengan tindakan asistenku yang satu ini.
“hhhh gini ya mbak…masih mending aku ngasitau alamat cake shop. Tadinya dia mau minta alamat apartemen Mbak Demi. Mau pilih mana? Apartemen apa cake shop?” tanya Luna setelah sadar sepenuhnya.
“awas aja kamu kalau ngasitau alamat apartemen. Gaada yang boleh tau kecuali kamu dan Tisha” ancamku, “trus…berarti kamu tadi kesini dong? Kan kuncinya sama kamu?” tanyaku penasaran.
“iyalah…oiya besok mbak harus cerita sedetail-detailnya ya mbak tentang apa yang terjadi antara mbak dan Mas Bian…aku mencium sesuatu yang gak beres ini” ucap Luna dengan nada selidik.
__ADS_1
“hmmm…” sahutku malas dan langsung menutup panggilan kami. Aku langsung keluar kamar mandi setelah selesai melakukan panggilan dengan Luna.
“Demi??” panggil Bian yang terbangun tanpa sadar, “kamu dimana?” lanjutnya.
“ssshhh…I’m here” ucapku yang mulai mengusap kepalanya untuk menenangkannya.
“jangan tinggalin aku Dem…aku gamau kehilangan kamu lagi” gumamnya kemudian terdengar dengkuran halus dari Bian yang kembali terlelap.
Aku terdiam mendengar ucapan Bian. Apa Bian juga sama menderitanya seperti aku selama ini? Mengapa dia mengatakan hal seperti itu? Aku menggelengkan kepala pelan. Mungkin dia hanya berhalusinasi biasa. Aku kembali berbaring di sampingnya dan memeluknya untuk memanfaatkan momen-momen berharaga sebelum aku melepasnya. Aku langsung terlelap ketika mencium aroma Bian yang sangat khas.
*****
Aku terbangun ketika mendengar suara notifikasi panggilan dari HP. Kulihat jam menunjukkan angka 5 di layar HP.
“halo…” sapaku parau karena baru bangun tidur.
“kamu baru bangun ya?” tanya seseorang disana. Aku seperti tidak asing dengan suaranya. Kulihat caller ID di layar HP, ternyata yang menelepon adalah Bian.
“Bian??” aku langsung sadar sepenuhnya, “kok aku gatau kamu udah pergi?” tanyaku yang melihat ranjang disampingku yang ternyata sudah kosong.
“maaf ya aku gak membangunkan kamu…tadi kamu nyenyak banget tidurnya. Aku naik pesawat pagi soalnya, makannya jam 3 tadi aku dijemput teman untuk pergi ke bandara” jelasnya.
“oh…makasih ya udah nganterin aku sampai selamat di toko…safe flight yaa” kataku lembut.
“iyaa…makasih Dem. Kamu juga hati-hati yaa…jangan kerja dulu kalau masih sakit” pesan Bian kepadaku, “nanti aku telepon kamu lagi kalau udah landing ya” lanjutnya.
“mmm Bi…” panggilku ragu, “iya??” jawabnya.
“lebih baik kita gausah berhubungan lagi ya…” kataku pelan dan hati-hati. Bian hanya diam tidak merespon ucapanku.
“aku mau kita introspeksi diri masing-masing tentang apa yang terjadi pada hubungan kita. Mungkin kita terlalu terburu-buru dan belum siap jika harus melangkah lebih jauh lagi. Terlebih dari kejadian ini, aku butuh waktu sendiri untuk memulihkan semua lukaku. Aku harap kamu mengerti ya…kamu baik Bi, aku sayang dan cinta sama kamu, tapi dari semua ini aku pikir lebih baik kita jalan masing-masing. You deserve to get someone better than me. Sekali lagi maaf…” tanpa mendengar jawabanya, aku langsung memtuskan panggilan sepihak dan kembali memblokir nomor Bian. Aku menangis sepuasnya meratapi kehancuranku hari ini.
*****
Luna membangunkanku untuk mengantar sarapan. Aku memang kembali tertidur setelah solat subuh. Dia tidak bertanya apapun mengenai kondisiku saat ini yang sudah pasti terlihat sangat menyedihkan. Dengan sabar Luna menyuapiku dan menungguku bercerita.
“mbak payah ya Lun…pertama kali pacaran ternyata cuman bisa bertahan kurang dari 3 hari. Gak sebanding dengan penantian mbak selama ini” kataku yang membuka pembicaraan.
“tadi Mas Bian telepon aku dan menanyakan kabar mbak. Aku yang tidak tau soal mbak dan Mas Bian bingung gabisa jawab. Trus akhirnya dia pesan ke aku buat jagain mbak dan dia bilang akan menghormati keputusan mbak” jelas Luna yang bingung karena belum mengetahui apapun, “mbak…maaf kalau Luna memaksa Mbak Demi buat cerita, tapi Luna seperti orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa…Mbak Demi mau cerita semuanya kan?” aku hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Luna.
Selesai sarapan, aku mulai bercerita dari awal keberangkatanku bersama Bian sampai perstiwa memilukan itu, Luna yang mendengarnya tidak kuasa menahan air matanya.
“maafin aku ya mbak, udah memaksa Mbak Demi buat cerita. Aku benar-benar gatau kalau ternyata Mbak Demi harus mengalami hal menyakitkan seperti itu” ucap Luna kemudian memelukku dan kami menangis bersama.
“mbak…aku boleh minta satu hal sama mbak?” tanya Luna setelah melepas pelukan kami.
“mbak harus janji ya kalau ini merupakan air mata terakhir yang mbak keluarkan untuk peristiwa ini. Aku yakin Mbak Demi setelah ini pasti bisa menjadi wanita tangguh” aku yang sudah berhenti menangis menganggukkan kepala mendengar permintaan Luna. Aku juga berjanji dalam hati bahwa setelah ini aku harus membuka lembaran baru untuk menjalani hidup yang lebih baik dari sekarang.
__ADS_1
...****************...