
Hoek…hoek…hoek…
Saat ini aku sedang berada di kamar mandi karena aku merasakan gejolak mual yang menyerang perutku. Sekuat tenaga aku memuntahkannya, namun yang keluar hanya cairan bening saja. Setelah memastikan bahwa aku tidak merasakan mual, aku membuka medicine cabinet untuk mengambil barang yang kubeli kemarin.
“aishhh benar-benar kamu mas…” gerutuku setelah menggunakan barang tersebut.
Dengan langkah lemas aku berjalan keluar kamar mandi dan memandang kesal kepada orang yang sedang tertidur lelap di atas ranjangku. Aku memandang wajahnya yang tampak kelelahan karena harus lembur beberapa hari terakhir. Aku menghela napas panjang setelah beberapa saat memandangnya dalam diam.
Sepertinya cita-citamu tercapai mas, gumamku dalam hati.
Kulihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 3 dini hari, namun aku tidak ingin kembali tidur. Kuputuskan untuk pergi menuju dapur dan membuat wedang jahe untuk menghangatkan perut. Setelah minum wedang jahe dan merasa lebih baik, aku memulai aktivitas rumah tangga lebih awal sembari menunggu Bian dan anak-anak bangun.
“loh, nyonya udah bangun?” tanya Mbok Ani, wanita paruh baya yang menjadi ART-ku sejak aku kembali ke rumah membawa Rico dan Zio.
“iya mbok...tadi mual-mual saya. Trus gabisa tidur lagi” jawabku sambil membilas pakaian terakhir sebelum dimasukkan ke mesin cuci.
“oh nyonya…” tanya Mbok Ani sambil memeragakan bentuk perut buncit.
“alhamdulillah mbok…” jawabku dengan tersenyum.
“yah nyonya…harusnya nyonya bangunin saya biar gak ngerjain sendiri. Kan kalo lagi awal-awal masih rentan” kata bibi merasa tidak enak padaku.
__ADS_1
“yaampun simbok, gapapa kok. Lagian itung-itung sekalian olahraga ringan. Ini juga saya ngerjainnya pelan-pelan” Mbok Ani segera membantuku memasukkan pakaian bilasan ke dalam mesin cuci.
“pekerjaan tetap seperti biasa aja ya mbok…kalau misal saya lagi lemas, baru saya minta tolong simbok” kataku setelah menghidupkan mesin cuci.
“oiya mbok, nanti tolong handle dedek setelah sarapan dan antar dia sekolah nanti ya. Setelah Mas Bian berangkat kerja dan kembar sekolah, saya mau istirahat lagi”
“baik nyonya…nanti si dedek biar diurus sama saya dulu gapapa” aku mengangguk mendengar jawaban Mbok Ani dan bergegas menuju kamar untuk membangunkan anak-anak dan Bian sekalian solat subuh.
*****
“dedek nanti siap-siap sama berangkat sekolahnya sama simbok ya…trus nanti dijemput sama nenek, gapapa kan?” tanyaku kepada Dita, putriku dan Bian satu-satunya yang saat ini berusia 4 tahun dan sudah mulai sekolah di taman kanak-kanak.
“gapapa ma…” jawabnya kemudian lanjut menghabiskan susunya. Untung Dita bukan anak manja meskipun dia merupakan anak bungsu yang selalu dimanja papa dan kakak-kakaknya.
“gapapa kok ma” jawab Rico dan Zio kompak. “tapi tumben mama gabisa jemput kita bertiga?” tanya Rico penasaran. Rico memang anak yang paling peka dengan kondisi sekitar.
“iya yang…tumben?” tanya Bian yang menatapku heran. “kamu sakit yang?” tanya Bian lagi saat menyadari kondisiku tidak seperti biasanya.
“cuman gaenak badan biasa aja kok…makannya aku mau nitipin anak-anak sama Mama Hera dulu” lirihku. “gapapa kan kids hari ini sama nenek?” tanyaku kembali pada anak-anak untuk memastikan.
“gapapa ma” jawab mereka bertiga. “mama istirahat dulu aja kalau lagi sakit. Kita gaakan nakal kok…nanti Zio sama Rico bakal jagain dedek juga” lanjut Zio menambahkan.
__ADS_1
Bian terlihat tidak rela meninggalkanku sendiri dengan kondisiku saat ini, tetapi dia tetap harus berangkat kerja karena sudah terlanjur janji melakukan beberapa meeting hari ini. Mungkin setelah kepergian mereka aku akan pergi memeriksakan kondisiku dan memastikan usia kandunganku karena kebetulan Bian sedang sibuk di kantor, jadi nanti malam aku bisa memberi kejutan untuknya.
*****
“sayang??? Ini…” ucapan Bian menggantung ketika membaca hasil pemeriksaanku tadi pagi beserta foto usg di tangannya. Bian langsung memelukku erat dan memberi ciuman di seluruh wajahku.
“Mas Bian curang…mentang-mentang aku lepas KB langsung dimanfaatin. Padahal kan cukup 3 aja mas…” gerutuku saat Bian memelukku.
“kan lebih bagus genap sayang…lebih adil, trus dedek juga ada teman ceweknya” jawab Bian sambil menangkup wajahku yang menatapnya cemberut.
“kalau yang ini nanti cowok gimana?”
“ya tinggal kita bikin lagi”
“maaasssss…”
“iya iya sayang…mas yakin kali ini cewek kok. Makasih ya sayang, udah melengkapi hidup mas dan menjadikan mas lelaki sempurna sebagai seorang suami dan papa bagi keluarga kita. Semoga kita akan tetap seperti ini sampai maut memisahkan kita” kata Bian kemudian mengecup bibirku singkat.
Makasih juga kamu sudah menjadi penutup kisah cintaku yang berakhir bahagia, jawabku dalam hati.
-THE END-
__ADS_1
...****************...