
Mereka melangkahkan kaki keluar kantor. Mereka tidak menyangka, bahwa akan diberikan hukuman kampungan.
"Eh, kita buat bocah itu tidak dapat menyelesaikan tugasnya saja." bisik Amro.
"Kamu benar, biar dia kapok untuk melawan kita." jawab Hekoy.
"Eh, kalian punya rencana apa?" bisik Rifky.
"Kami akan menghancurkan cocok tanamnya." jawab Hekoy.
Sagi sudah berhasil membersihkan lahan pertanian dengan cepat. Setelah itu, dia menanam tumbuhan sayur katu. Tiba-tiba saja Amro mencabutnya. Sagi merasa tidak terima, lalu memukulnya duluan.
"Ayo balas dia." ujar Hekoy.
"Benar, biar dia tau rasa." timpal Rifky.
Bugh!
Sebuah tendangan melayang pada perut Amro. Sagi tidak terima, mereka menghancurkan kerja kerasnya. Amro membalas memukul Sagi juga, hingga terjadi balas membalas terus.
"Hentikan, kenapa kalian berkelahi lagi." tegur pak Didit.
"Sagi yang mulai Pak, karena dia tidak terima dihukum." jawab Amro.
__ADS_1
"Kamu selalu saja pembuat onar Sagi." ujar pak Didit.
"Apa karena saya tidak memiliki saksi, jadi tidak layak untuk mendapat kepercayaan. Semesta juga tahu Pak, tanpa saya harus berkoar-koar." jawab Sagi.
"Karena kamu membantah, maka hukuman kamu bertambah." ujar pak Didit.
"Baiklah, saya terima dengan lapang dada." jawab Sagi.
Sagi menerima hukuman bercocok tanam sampai malam, sedangkan semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing. Anchil duduk di ruang makan, bersama dengan Raniwe.
"Anchil, Sagi kok belum terlihat juga." ujar Raniwe.
"Aku juga gak tau Ma." jawab Anchil.
"Kalau gitu, Mama lihat dulu dia di kamarnya." ucap Raniwe.
Bersamaan dengan itu, Noni yang disebut namanya muncul. Dia sedang membawa jus kelapa, lalu meletakkannya di atas meja.
"Nyonya, ini jusnya." ujar Noni.
"Iya Bi, duduk sebentar." Menjawab, sambil menawarkan.
Noni duduk di kursi, lalu Raniwe tersenyum ke arahnya. Noni merasa mereka akan menanyakan hal penting.
__ADS_1
"Apa Sagi tadi pulang ke rumah?" tanya Noni.
"Belum nyonya, bahkan asisten Jean pun belum pulang." jawab Noni.
"Apa Sagi masih di sekolah?" tanya Raniwe.
"Aku juga tidak tahu Ma, biar aku lihat ke sekolah dulu." jawab Anchil.
"Jangan, kamu baru saja sembuh." Raniwe melarangnya.
Anchil melihat tetesan air hujan, yang mengenai jendela. "Biar aku susul, aku gak apa-apa kok."
Anchil berjalan ke lahan pertanian, dengan menggunakan senter. Awalnya ingin melengos, namun melihat bayangan manusia di sana. hal tersebut telah mengurungkan niatnya, dan memicu langkah kaki untuk terus berjalan. Benar saja, itu memang manusia.
"Sagi, kamu ngapain di sini malam-malam? Mama mencari kamu, kenapa tidak memberi kabar bila tidak pulang." ujar Anchil.
"Kamu tidak usah pura-pura perhatian sama aku. Keluarga kalian itu orang jahat, yang tega mengambil organ tubuh Ibuku. Apa kalian tahu, dia sudah kecelakaan parah. Lalu saat menghempaskan nafas terakhir, aku malah bertemu denganmu." jelas Sagi, panjang dan lebar.
"Bila pertemuan kita sangat mengganggu, kamu juga bisa anggap tidak ada. Aku tahu, Mamaku telah bersalah dalam hal ini. Namun Mama kamu yang setuju, untuk mendatangani surat perjanjian transfusi ginjal." ucap Anchil jujur.
"Sampai sekarang, aku masih tidak percaya bila Mamaku setuju." jawab Sagi.
Anchil memayungi Sagi yang sudah terlanjur basah, hal tersebut membuat Sagi merasa risih. Dia segera mengibas payung, bersamaan angin kencang. Tangan Anchil berusaha meraih payung, hingga langkah kakinya tidak seimbang. Anchil tidak sengaja terpeleset, dan jatuh menimpa tubuh Sagi. Akhirnya mereka berdua terjatuh pada tanah kotor, secara bersamaan.
__ADS_1
"Lihatlah, aku sudah mandi. Kenapa si kamu melakukan ini." ujar Anchil.
"Eh bocil, kamu duluan yang mendorong aku." jawab Sagi.