Dendam Salah Sasaran

Dendam Salah Sasaran
Kegaduhan Di Sekolah


__ADS_3

Buku sudah terkumpul penuh di atas meja, lalu semuanya keluar dari kelas. Sudah saatnya untuk istirahat, karena mereka sudah lelah.


"Ayo kita makan di kantin, karena sudah terasa capek." ajak Keke.


"Aku nitip aja di kamu, karena aku mau pergi ke perpustakaan." jawab Anchil.


"Ah payah, kamu selalu ke perpustakaan." ucap Keke.


"Namanya juga hobi, kayak kamu yang hobi ke kantin." jawab Anchil.


Anchil berjalan santai menuju ke perpustakaan, sedangkan mereka segera melangkahkan kaki ke kantin. Saat ingin mengambil buku, tiba-tiba saja ada yang menimpanya dari atas rak.


"Aduh!" Anchil kesakitan.


Buku-buku berjatuhan menimpa Anchil, sampai dirinya tergeletak di lantai. Sagi sengaja mendorong rak buku, hingga menimpa tubuh Anchil. Beberapa menit kemudian, Amran, Rudit, dan Keke menghampiri Anchil.


"Haduh, gimana ini Amran. Rak buku ini sangat besar." ujar Keke.


"Kamu tenang iya Keke, biar aku yang menyingkirkannya." jawab Amran.


Amran dan Rudit bekerjasama, untuk menyingkirkan lemari. Lama kelamaan, akhirnya teratasi juga.


"Ayo, segera bawa Anchil ke rumah sakit." ajak Rudit.


"Iya, sepertinya dia kehabisan oksigen." jawab Amran.


"Oh iya, ayo kita bawa sekarang." ajak Keke.

__ADS_1


Mereka segera menggotong tubuh Anchil, sampai ke mobil ambulans. Mereka akhirnya sampai, setelah beberapa menit dalam perjalanan.


Beberapa menit kemudian, Anchil sudah sadar dari pingsannya. Raniwe menggenggam erat, kedua tangan Anchil.


"Sayang, kamu telah membuat panik Mama aja." ujar Raniwe.


"Maafkan aku Ma." jawab Anchil.


"Sagi mana Anchil?" tanya Raniwe.


"Mungkin, dia masih berada di sekolah." jawab Anchil.


"Tante, Anchil tadi terkurung dalam toilet." ujar Amran.


"Kok bisa si sayang." Raniwe mengusap kepala putrinya.


"Berani-beraninya, ada yang menindas keluarga kita. Selama ini, bukankah semua orang enggan padamu." Raniwe menatapnya sambil tersenyum.


"Sudahlah Ma, tidak perlu dipikirkan. Lagipula aku baik-baik saja kok." jawab Anchil.


”Sebenarnya, aku tahu bahwa ini perbuatan Sagi. Tapi, aku tidak ingin Mama mengetahuinya. Kalau sampai Sagi terusir dari rumah itu karena aku, dia pasti lebih dendam padaku.” batin Anchil.


Di sekolah SMA 09, Sagi ditindas oleh murid satu sekolahan. Kakak kelas menyuruhnya, untuk membelikan makanan.


"Hei anak pindahan, beraninya kamu melawan pada kami." ujarnya.


"Maaf Kakak kelas genius, aku tidak melihat kalian." jawab Sagi, sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


"Berani sekali iya kamu melawan, belum tahu siapa kami." Membenarkan kerah bajunya sendiri.


"Lalu, apa aku harus tahu kalian siapa. Itu benar-benar sangat tidak penting." jawab Sagi.


Mereka hendak meninju Sagi, namun ditangkis oleh tangannya. Sagi ditinju oleh dua orang, yang membela temannya tadi. Akibat kegaduhan di sekolah, mereka dipanggil ke kantor.


"Sagi, kenapa kamu bertinju dengan ketiga Kakak kelas tersebut?" tanya Didit.


"Pak, mereka yang mulai." jawab Sagi.


"Apa benar begitu?" tanya Didit.


"Tidak Pak, kami hanya meminta tolong belikan makanan." jawab Amro, selaku ketua geng.


"Benar Pak, tapi dianya gak bisa digauli." timpal Hekoy.


"Pak, jangan percaya sama mereka. Pernyataan yang keluar dari mulut mereka adalah dusta, sebenarnya mereka memaksa untuk membelikannya. Tentu saja aku tidak mau, mereka pikir aku pembantu." Sagi menatap tajam, ke arah mereka berdua.


"Kalian dengar sendiri 'kan, bahwa kalian memaksa. Maka dari itu, kalian semuanya Bapak hukum." ujar pak Didit.


"Pak, kok aku juga dihukum, padahal 'kan salah mereka." Sagi protes.


"Ini memang salah mereka, tapi kamu juga salah. Kenapa tidak menahan emosi, dan memilih untuk meladeninya." ucap Didit spontan.


"Aku juga terpaksa Pak." jawab Sagi.


"Tidak ada alasan ini dan itu, sekarang juga kalian bersihkan lahan pertanian. Setelah itu kalian harus menanam sayuran, sampai senja terlihat depan mata." ujar Didit.

__ADS_1


"Baik Pak." jawab semuanya serentak.


__ADS_2