Dendam Salah Sasaran

Dendam Salah Sasaran
Kembali Pulang


__ADS_3

Anchil berhasil menjawab dengan cepat, begitupun dengan Sagi yang membantunya. Dalam hal matematika, Sagi yang menguasainya. Dalam pelajaran bahasa Inggris, Anchil lebih duluan menjawab.


Beberapa jam setelahnya, SMA 09 menerima piala. Anchil dan Sagi tersenyum, menghadap semua orang yang melihatnya. Terutama dua guru yang sudah setia, menemaninya ke Sulawesi Utara.


Cekrak! Cekrek!


Suara jepretan kamera, membidik gambar mereka. Sagi dan Anchil saling berpandangan sebentar, sebelum akhirnya turun dari panggung.


"Selamat iya, kalian telah memenangkan perlombaan." ujar Hu Din.


"Iya Pak Hu, terima kasih." jawab keduanya.


"Kalian memang siswa dan siswi berbakat, membuat harum nama SMA 09." Didit merasa bangga.


"Hal yang kami lakukan adalah hal kecil Pak." jawab Anchil.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka, kalau Sagi begitu pintar. Padahal aku sempat menilai, dia sebagai pembuat onar. Gara-gara pernah bertinju di sekolah, lalu aku beri hukuman membersihkan lahan pertanian." Didit mengoceh panjang dan lebar.


"Ini tidak adil untuk Sagi Pak, sebenarnya Amro dan teman-temannya yang pembuat onar. Dia suka menindas orang lain, dan aku tidak punya simpati dalam hal ini. Sebagai ketua OSIS, aku bisa terbilang cuek. Hanya memperhatikan kegiatan sekolah, berjalan lancar atau tidak. Namun tidak pula mengusulkan pada pihak sekolah, untuk membuat komunitas anti bullying." jawab Anchil.


"Ini salah kami juga Anchil, sebagai guru harusnya lebih teliti. Mata harus benar-benar detail, memperhatikan lingkungan sekolah. Jangan mentang-mentang sudah pada besar, kami melalaikan tugas yang menjadi keharusan." ujar Didit.


"Sudah berlalu juga, toh aku gak kenapa-kenapa. Lahan pertanian dapat menambah kreativitas siswa, dalam bercocok tanam yang baik dan benar. Jadi, anggap saja hukuman itu sebagai pelajaran." jawab Sagi.


Dua guru itu terharu, pada anak muridnya yang baik hati. Mereka merasa cukup bersalah pada Sagi, karena dititipi amanah untuk membimbing namun dibiarkan menghadapi semuanya sendiri.


”Kenapa si Anchil, kamu tetap baik sama aku. Padahal, aku sudah membuat kamu kesusahan berkali-kali. Mulai dari cairan pelarut lambung, sampai dengan menimpakan rak buku padamu. Belum lagi membuat ban kamu kempes, lalu menakuti para taksi dengan menuduhmu perampok polos. Jadi saat itu, kamu kesusahan untuk pulang ke rumah.” batin Sagi.


Tok! Tok!


Anchil membuka pintu. "Ada apa kamu ke sini?"

__ADS_1


Gaga memberikan kantong plastik. "Ini ada pecel lele buat kamu."


"Terima kasih iya." ujar Anchil.


"Iya, sama-sama." jawab Gaga.


Setelah kepergian Gaga, Sagi muncul tiba-tiba. Dia memanggil nama Anchil, yang hendak menutup pintu.


"Mau apa kamu?" tanya Anchil ketus.


"Ini, aku bawakan kamu martabak." Sagi memberikan paper bag.


"Sagi, perutku kalau lapar lebih suka makan nasi. Lebih mengenyangkan perut, dan sudah tradisi keluarga." ucap Anchil spontan.


"Bisakah kau menolak secara halus. Kalaupun tidak suka, jangan menolak langsung di depan orangnya. Kau bisa membuang ke tong sampah, tanpa perlu aku ketahui." Sagi menggantung martabaknya, di gagang pintu.

__ADS_1


Setelah itu dia pergi, tanpa mengucapkan apapun lagi. Berpamitan tidak, senyum juga tidak. Anchil mengambil paper bag, yang sempat tergantung.


Keesokan harinya, mereka sudah sampai ke bandara. Pesawat akan lepas landas, kembali ke Jakarta. Urusan mereka di SMA 03 Sulawesi Utara sudah selesai.


__ADS_2