
Malam hari, pukul 19.05.
Anchil mengenakan baju berwarna hijau tosca, serasi dengan baju yang dikenakan Sagi. Raniwe telah menyiapkan cincin pasangan, yang akan dipakai oleh mereka.
Keke melihat Anchil, yang keluar dari ruangan kamar. "Anchil, kamu cantik sekali."
"Terima kasih Keke." jawab Anchil.
"Siapa, yang telah rias wajahmu?" tanya Keke penasaran.
"Tukang rias yang disuruh oleh Mama." jawab Anchil.
"Aku juga ingin dong, dirias kayak kamu." ujar Keke.
"Iya sudah, kamu langsung masuk ke kamar saja. Masih ada kok tukang riasnya, bilang saja kalau Anchil yang suruh rias kamu." jawab Anchil.
Keke memang suka sekali, untuk mencoba apa yang Anchil coba. Bukan hal aneh lagi untuk Anchil, melihat sifat blak-blakan sahabatnya. Namun dia memiliki hati yang tulus, dalam berteman dengan Anchil.
"Mbak, tolong rias aku juga dong. Tadi, nona Anchil yang suruh." ujar Keke.
__ADS_1
"Iya nona." jawabnya.
Keke mulai duduk menghadap cermin, lalu wajahnya dirias dengan hati-hati. Perias itu tidak ingin, bila eyeliner kemana-mana.
Anchil berjalan ke ruangan pesta, untuk melihat teman-temannya yang sudah datang. Anchil menyambut mereka dengan senyuman ramah, begitupun dengan Sagi yang tersenyum. Dia tidak menyangka, dapat menerima perjodohan ini. Meski awalnya, Sagi sangat menolak rata.
”Anchil, aku harap gak ada yang akan mendekati kamu lagi.” batin Sagi.
"Anchil, Sagi, selamat iya." ujar Qishi.
"Iya, terima kasih." jawabnya.
Amran dan Rudit bersulang air minum bersama, ada rasa malas saat menyaksikan acara tersebut. Namun Amran tidak ingin memperlihatkan pada Anchil, bahwa dia sangat tidak menyukai Sagi.
"Sekarang, anak-anak SMA 09 pada enggan dengan dia. Lihatlah pangeran angsa jelek itu, bersandar pada putri angsa cantik." jawab Rudit.
"Aku gak mau tahu, bagaimana pun caranya buat dia tersiksa." ucap Amran.
"Baiklah, kita berjuang bersama saja." jawab Rudit.
__ADS_1
"Kamu tahu 'kan bro, dulu aku sudah menahan diri untuk memilikinya. Sekarang, aku gak mau seperti itu lagi. Cukup Gaga yang mempunyai kekuasaan, untuk merebut Anchil dari aku." ucap Amran.
"Iya bro, aku tahu perasaanmu. Aku akan membantumu, untuk dapat perhatian dari Anchil." jawab Rudit.
Lampu temaram dekat kolam renang di pesta itu, menambah kesan romantis dengan dekorasi sederhana. Anchil tidak tahu, apa dia bahagia atau sedih. Yang dirinya tahu, Raniwe dan Darto bahagia.
"Sekarang saatnya untuk pemasangan cincin, pada jari masing-masing." ujar Keke.
Plok! Plok! Plok! Plok!
Belum dimulai apa-apa, sudah pada tepuk tangan duluan. Sagi memasangkan cincin pada jari manis Anchil, begitupun sebaliknya. Mereka berdua tersenyum, seraya mengangkat telapak tangan di atas udara.
Cekrak! Cekrek!
Beberapa bidikan mengenai keduanya, sebagai kenangan momen terindah dalam hidup. Tentu saja, hanya untuk membahagiakan Raniwe dan Darto. Sisanya hanya kebimbangan di hati Anchil. Masa si aku menyukai Sagi, begitulah pertanyaan dalam benaknya.
"Kepada para tamu undangan, silahkan dinikmati jamuan nya." ujar Anchil.
"Kami habisi serta mejanya iya Anchil." teriak Rudit.
__ADS_1
Anchil tersenyum sambil geleng-geleng kepala, mendengar kalimat canda temannya. Meski terdengar berisik bagi sebagian orang, namun bagi Anchil hal tersebut bermakna kebersamaan.
”Hal seperti ini tidak akan terulang lagi, bila sudah menikah nanti. Jadi nikmati saja, sebelum masa muda ini berakhir.” batin Anchil.