Dendam Salah Sasaran

Dendam Salah Sasaran
Sagi VS Amran


__ADS_3

Sagi sedang mengambil makanan, di atas meja. Amran segera menyiram air jus pada bajunya, saat Anchil sedang sibuk berbincang bersama Keke. Amran tersenyum mengejek, lalu melangkahkan kaki menjauh.


”Awas kamu Amran, bakalan aku balas.” batin Sagi.


Sagi melangkahkan kakinya, lalu menyenggol pundak Amran. Pria itu terjatuh ke dalam kolam, karena dorongan Sagi lumayan kuat.


"Eh, Amran masuk ke dalam kolam renang." ujar Rudit.


"Apa? Kita harus segera menolongnya." jawab Keke.


Anchil juga ikut berlari di belakang Rudit dan Keke. Mereka menolong Amran yang terjatuh, karena pria itu tidak dapat berenang.


"Siapa yang telah mendorongnya, tidak mungkin 'kan Amran tiba-tiba jatuh?" tanya Keke.


"Aku melihat, Sagi yang telah mendorongnya." jawab Rudit.


Anchil segera menghampiri Sagi, yang sedang makan dengan santai. Wajah Anchil terlihat merah padam, menahan amarahnya.


"Sagi, kamu sengaja iya ingin membuat orangtuaku malu. Kalau kamu gak suka, kamu gak perlu mencelakai orang lain." gerutu Anchil.

__ADS_1


"Jadi, seperti ini iya cara kamu menghargai aku. Dia telah kurang ajar, berani-beraninya menyiram air jus padaku." jawab Sagi, dengan lantang.


"Apa kamu tahu, kalau Amran itu tidak bisa berenang." ucap Anchil, dengan membentak.


"Aku tidak ingin tahu, karena itu bukan urusanku." jawab Sagi.


Sagi merasa kesal, karena terus disudutkan oleh Anchil. Dia segera masuk ke dalam rumah, lalu berjalan menuju kamar. Sagi melemparkan semua barang, yang tidak mudah rusak bila terhempas.


"Kamu kenapa si Anchil, masih saja bersikap seperti ini. Aku lelah bertengkar denganmu, orang yang paling aku cintai. Namun, kamu tidak merasa sama sekali. Aku tahu ini salahku, karena aku telah melakukan dendam salah sasaran." Sagi mengacak rambutnya frustasi.


Keesokan harinya, Sagi dan Anchil pergi ke sekolah. Hari itu kelas A dan B sangat heboh, membicarakan siswa baru pindahan dari Sulawesi.


"Eh, katanya ada murid baru loh yang bakalan masuk ke SMA 09 ini." ucap Keke.


"Bukan ikut orangtuanya pindah, tapi karena benar-benar ingin sekolah di sini." ujar Keke, dengan raut wajah serius.


"Wajar sajalah, sekolah ini 'kan memang terkenal. Belum lama ini, sekolah kita memenangkan perlombaan antar kota." jawab Anchil.


"Bukan hanya itu Anchil, dia memang siswa dari Sulawesi. Katanya, pernah juga sekolah di sini sebentar." ucap Keke.

__ADS_1


Deg!


Tiba-tiba saja, Anchil teringat dengan Gaga. Ada rasa sesak tersendiri, mengingat awal sekolah ditinggalkan.


"Siapa orangnya?" sahut Amran.


"Gak tahu si namanya, aku 'kan gak kenal." jawab Keke.


”Jangan-jangan, siswa itu adalah Gaga.” batin Anchil.


Beberapa menit setelah perbincangan, ternyata muncul seorang pria bersama guru. Dugaan hatinya memang benar, Anchil sangat familiar dengan sosok manusia tersebut.


”Gaga, ngapain dia sekolah di sini. Aku gak mau ketemu dia, apalagi harus sekelas.” batin Anchil.


"Anak-anak, perkenalkan ini adalah Gaga. Dia akan menjadi teman sekelas kalian, semoga kalian membuat dia betah." ujar Hu Din.


"Iya Pak." jawab semuanya senang, tak terkecuali Anchil.


Nasib tidak dapat terelakan lagi, Gaga disuruh Hu Din duduk di sebelah Anchil. Keke tersenyum ke arah Amran, karena dia mendapat saingan baru.

__ADS_1


"Rasain lu, ada saingan tuh." ledek Keke lirih.


"Diam kamu, nanti aku sumpal dengan kertas bulat." jawabnya, dengan ketus.


__ADS_2