Dendam Salah Sasaran

Dendam Salah Sasaran
Perlombaan Antar Kota


__ADS_3

Sagi memperhatikan topi, yang diberikan oleh Qishi. Anchil hanya melihatnya detail, namun secara diam-diam.


"Lucu juga dia, untuk apa memberiku topi. Aku ini mau lomba cerdas cermat, jadi tidak perlu memberikan ini. Aku juga bukan mau lomba olahraga, yang harus berdiri di lapangan." Sagi bergumam-gumam sendiri.


"Kelihatannya, ada yang punya pengagum rahasia nih." goda Anchil.


"Cuma teman, kamu bilang pengagum rahasia." Sagi geleng-geleng kepala.


"Awalnya juga teman, sebelum semua orang menjalin hubungan serius." ucap Anchil.


"Kamu cemburu iya." Sagi menggoda balik.


"Siapa juga yang cemburu, aku tidak ada rasa sama sekali." ujar Anchil.


"Bagus dong, dengan begitu kamu tidak perlu sakit hati." jawab Sagi.


Keesokan harinya, Sagi dan Anchil sudah berada di SMA 03 Sulawesi Utara. Tanpa Anchil duga, dia bertemu dengan seseorang yang familiar.


"Anchil, kamu ngapain di sini?" tanya Gaga.


"Aku sedang mengikuti lomba cerdas cermat. Apalagi ini perlombaan antar kota, siapa yang tidak ingin memenangkannya." jawab Anchil.


"Aku juga, sedang mengikuti perlombaan tersebut." ujar Gaga.

__ADS_1


"Oh gitu iya." jawab Anchil.


"Iya Anchil." ucap Gaga.


"Kok aku merasa ada yang aneh." Anchil mengetuk dagunya, dengan jari telunjuknya sendiri.


"Apanya yang aneh?" tanya Gaga.


"Kok kamu juga ikut pertandingan, bukankah kamu di luar negeri." jawab Anchil.


"Iya di luar negeri, namun saat pertengahan kelas sebelas aku pindah sekolah." ucap Gaga.


"Oh, wajar saja kamu di sini." jawab Anchil.


Usai mengikuti perlombaan tersebut, Gaga membawakan air minum untuk Anchil. Sagi hanya melihat dari kejauhan, dengan rasa jengkel tidak terkira.


"Terima kasih iya Gaga." jawab Anchil.


"Iya sama-sama." ucap Gaga.


Anchil membuka tutup botol, dan meneguk isi air di dalamnya. Setelah usai minum, dia menutup kembali botol tersebut. Gaga tersenyum melihat Anchil, karena merasa bahagia bisa bertemu. Dari kecil mereka selalu saja berteman, jadi merasa asing ketika berpisah sangat lama.


"Gaga, kamu di Spanyol belajar apa?" tanya Anchil.

__ADS_1


"Terlalu banyak, tidak dapat aku sebutkan satu-persatu." jawab Gaga.


"Kalau gitu, salah satunya aja." ujar Anchil.


"Aku belajar mengenai manajemen, agar saat dewasa nanti bisa berbisnis. Keinginan terbesarku, bisa membuka perusahaan bersama kamu." jawab Gaga, dengan jujur.


"Iya, tapi aku sudah tidak berminat. Sejak kita putus, aku lebih suka pelajaran kesenian. Terkadang, tari bisa mengungkapkan perasaan." ucap Anchil.


"Maafkan aku Anchil, aku tidak berniat pergi meninggalkan kamu." jawab Gaga.


"Sudah berlalu terlalu lama, lupakan saja." ujar Anchil.


Gaga memegang kedua telapak tangan Anchil. "Aku tidak bisa melupakan kamu, aku sebenarnya masih cinta."


"Kalau kamu benar-benar cinta, kamu tidak mungkin meninggalkan aku." ucap Anchil.


"Anchil, aku mempunyai mimpi yang harus aku wujudkan. Aku minta tolong, supaya kamu bersedia mengerti." jawab Gaga.


"Jangan membahas yang sudah berakhir, karena hanya akan membuat canggung dalam berteman." Anchil memperingatkan Gaga.


"Beri aku kesempatan Anchil, sekali ini saja." jawab Gaga.


"Harusnya sebelum pergi kamu bisa menyadari, tidak semua sesuatu yang dilepas bisa diikat kembali. Sebab itulah, dalam hidup ini ada kata penyesalan. Aku juga minta tolong, supaya kamu jangan memaksa." ucap Anchil.

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak akan mengatakannya lagi." jawab Gaga.


”Aku akan mendapatkan kamu Anchil, meski harus mulai dari awal lagi.” batinnya.


__ADS_2