
Gaga semakin tidak suka, ketika mengetahui Sagi mengungkapkan perasaannya. Dia berencana akan mendekati Anchil, dengan cara yang lebih halus. Bila marah-marah spontan, akan membuatnya kehilangan kesempatan.
”Aku pasti akan mengungkapkan perasaan juga, awas saja kamu Sagi. Kita lihat, siapa yang akan menang.” batin Gaga.
Sagi dan Anchil keluar kelas sambil berlari, menerbangkan balon unik ke atas angkasa. Tulisan I Love You, terlihat menari karena terpaan angin. Mereka berdua tersenyum, sambil menatap langit penuh cinta. Tiba-tiba saja, Gaga mengagetkan mereka.
"Selamat iya, untuk kalian berdua." ujarnya, dengan tidak tulus.
"Iya, terima kasih." jawab Anchil.
"Aku lega, sekarang kamu sudah tidak sedih lagi. Semoga kedepannya, Sagi memang bisa membahagiakanmu." ujar Gaga.
"Aku pasti membahagiakan Anchil, kamu tidak perlu khawatir." Sagi yang menjawab.
Pak Husan dan Ibu Ana memberikan selamat, untuk acara tunangan Amran dan Keke. Keduanya tersenyum dengan pandangan mata berbinar-binar.
__ADS_1
"Kalian berdua harus tetap semangat memikirkan ujian sekolah. Jangan mentang-mentang ada pasangan, lalu melupakan kewajiban belajar." ujar pak Husan.
"Ya Pak, kami mengerti kok." jawab Keke.
"Kalau Keke lebih baik nilainya, Amran juga harus bisa mengejar." sahut Ibu Ana.
"Jangan dibandingkan Bu, harus disamakan dong. Kami berdua itu seperti pinang dibelah dua, begitulah kemiripan sikap sepasang kekasih." jawab Amran.
"Tidak, selagi pernikahan belum dilaksanakan, kalian tetap orang lain." Pak Husan tersenyum, sambil meledek Amran.
Ada orang yang tidak jauh dari gerbang sekolah, sedang menatap dengan jeli. Tangan kanannya mulai menurunkan kacamata, sambil menatap ke arah yang dituju. Perempuan itu adalah selingkuhan ayah Sagi, yang telah menjadi sebab ibu kandungnya meninggal.
"Ternyata, anak ini berada di SMA 09. Sekolahan elite, dengan manusia yang rata-rata ekonomi tak sulit. Kamu harus menderita, tidak akan aku biarkan kebahagiaan kamu bertahan lama. Ini semua karena kamu Sagi, anakku jadi tidak mendapatkan warisan. Bisa-bisanya, Ayah kamu pilih kasih." Menggerutu, lalu memasang kacamatanya kembali.
Anchil, Keke, dan Sagi memilih pergi ke perpustakaan. Di sana mereka bisa membaca buku, sambil menambah wawasan untuk ujian sekolah.
__ADS_1
"Kebayang gak si, kalau misalnya kamu ujian susulan tidak ada temannya." ujar Keke.
"Kalau aku mending ditemani seekor kumbang, daripada sendirian di tempat ramai. Secara, aku terbiasa dengan adanya banyak orang." jelas Anchil.
Qishi masuk ke perpustakaan, lalu ikut bergabung karena diajak duluan. Amran dan Rudit ikut kumpul juga, bersamaan dengan Gaga yang nimbrung dadakan.
"Ada penambahan belajar empat tahun, setelah kelas tiga belas berakhir. Kalian pasti belum begitu paham 'kan, dengan apa yang harus kita lakukan?" tanya Gaga.
"Kami tahu kok, karena Anchil juga pintar." jawab Keke, dengan bangga menuding teman karibnya.
"Anchil memang pintar, namun tambahan belajar tahunan mungkin tak paham. Aku sukarela jika harus mengajarinya, ditambah membimbing tunangan polosnya." Gaga tersenyum menyebalkan.
Anchil tersenyum mengejek ke arahnya. "Jangan menyombongkan diri, bagaimana pun aku anak dari seorang pemegang saham. Aku sudah biasa mendengar ilmu pengetahuan, yang diberikan guru pada SMA 09."
"Oh tidak begitu, santai saja. Aku hanya menawarkan dengan tulus." ujar Gaga.
__ADS_1
"Baiklah, kami Terima tawaranmu." Sagi yang menjawab, sengaja berniat mengerjai pada hari selanjutnya.