Dendam Salah Sasaran

Dendam Salah Sasaran
Bertengkar


__ADS_3

Anchil segera beranjak dari posisinya, begitu juga dengan Sagi. Mereka pulang ke rumah, dengan keadaan kotor.


"Sagi, kamu kenapa masih di sekolah?" tanya Raniwe.


"Ceritanya panjang, tadi ada kendala lalu terjebak hujan." jawab Sagi beralasan.


”Kayaknya, dia sedang bohong sama Mama.” batin Anchil.


"Iya sudah, sekarang lebih baik kamu mandi." ujar Raniwe.


"Iya Ma." jawab Sagi.


Sagi segera melangkahkan kakinya menuju kamar, tangannya meraih handuk yang tergantung pada gantungan. Dia masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri. Setelah itu dia keluar, untuk makan malam bersama. Sekaligus memperlihatkan buku hasil belajar, pada hari itu.


"Sagi, nilai kamu pada seni tari sangat buruk. Cobalah belajar dengan Anchil, pasti akan mendapatkan nilai lebih bagus lagi. Mama tidak mengatakan Anchil jauh lebih baik, tapi Mama ingin kamu juga menjadi yang terbaik." ujar Raniwe jujur.

__ADS_1


"Iya Ma, aku mengerti dengan maksud Mama." jawab Sagi.


"Baguslah, kalau kamu mengerti. Kalau gitu Mama ke kamar dulu, kalian mengobrol lah berdua. Sebagai tunangan kalian perlu menghabiskan waktu berdua. Mama sudah merasa kenyang, dan ingin membaca majalah." ucap Raniwe, panjang dan lebar.


Raniwe segera melangkahkan kakinya, meninggalkan ruang makan. Sagi segera melemparkan sendok, pada piring di meja makan.


Sagi menunjuk Anchil. "Kamu pasti sengaja 'kan, ingin menunjukkan kalau kamu yang hebat."


"Kamu gak jelas banget si, kalau memang ada kekurangan akui aja. Kamu itu bukan Mr. Perpect yang ahli segalanya." jawab Anchil spontan.


Plak!


Anchil menamparnya. "Sudah cukup iya, aku sabar menghadapi kamu. Selalu saja keluarga aku yang salah, padahal itu murni kecelakaan. Bisa gak si, gak usah bahas yang udah berlalu."


Sagi beranjak dari duduknya, lalu meninggalkan Anchil sendirian. Dia sungguh malas, untuk meladeni Anchil. Gadis pembawa sial, yang tidak ada baiknya.

__ADS_1


”Aku tidak akan luluh, meski kamu tadi sudah menolong diriku. Awas saja kamu, aku akan mencuri buku kursus tari milikmu. Mentang-mentang anak orang kaya, selalu dimanja orangtuanya.” batin Sagi.


Sagi merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidur, begitupun dengan Anchil yang melakukan hal serupa. Mereka berdua saling Memikirkan satu sama lain, sama-sama kesal bila berdekatan.


Keesokan harinya, Anchil bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Begitupun dengan Sagi, yang sudah rapi. Raniwe memberikan uang pada Sagi dan Anchil.


"Kalian berdua belajar yang benar, selalu pergi dan pulang bersama. Jangan ada yang melanggar aturan ku, apa kalian berdua paham?" Raniwe tersenyum ceria.


"Iya Ma." jawab keduanya.


"Bagus, kalian berdua memang anak pintar." puji Raniwe.


Anchil tersenyum. "Aku pergi dulu iya Ma."


Mereka segera pergi, dengan menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan, Sagi terus membuang muka. Anchil tidak menghiraukan, karena fokus terhadap jalanan. Langkah demi langkah ban mobil, membelah jalanan ibukota. Akhirnya mereka sudah sampai, di sekolah SMA 09.

__ADS_1


__ADS_2