Dendam Salah Sasaran

Dendam Salah Sasaran
Dansa


__ADS_3

Pementasan drama akhirnya usai, setelah mereka memerankan bagian drama satu persatu. Semua pemeran turun dari panggung, dan meneguk air putih dalam gelas minuman.


"Penampilan kalian tadi luar biasa." ujar Hu Din.


"Terima kasih Pak." jawab Anchil.


"Bapak bangga, punya murid seperti kalian." ucap Hu Din.


"Kami juga bangga, punya guru seperti Bapak." jawab Amran.


Sagi diam saja, melihat mereka kumpul bersama. Dia tidak ingin ikut bergabung, karena masih memiliki dendam pada Anchil. Ingin rasanya dia menjatuhkan gadis itu, tapi tidak memiliki cara jitu.


"Kalian boleh pulang, acara sudah selesai." ucap Didit.


"Terima kasih Pak." jawab Anchil.


Mereka segera pergi dari hadapan guru tersebut, lalu pulang ke rumah masing-masing. Sampai ke rumah, Anchil melihat Raniwe sedang duduk bersama papanya.


"Papa sudah boleh pulang Ma?" tanya Anchil.


"Iya sayang." jawab Raniwe.


"Pa, Anchil rindu sekali dengan Papa. Papa sudah lama, tidak pulang ke rumah." ucap Anchil.


"Iya sayang, kamu tahu 'kan kalau Papa punya penyakit ginjal." jawab Darto.


Raniwe menyuruh Sagi untuk mendekat, karena dia juga sudah seperti anaknya. Darto langsung memeluk Sagi, supaya dia merasa nyaman. Darto mengerti, bahwa Sagi butuh kehangatan sebuah keluarga.

__ADS_1


"Mulai hari ini, kita akan melakukan hal bersama. Jangan pernah sungkan, untuk meminta pertolongan." ujar Darto.


"Benar Sagi, yang diucapkan oleh Papa." timpal Raniwe.


”Iya Ma, Pa." jawab Sagi.


”Aku tidak yakin kalian akan sebaik ini, bila tahu aku berniat untuk membalas dendam. Aku ingin keluarga kalian menderita, sama seperti yang aku rasakan.” batin Sagi.


"Sagi, apa uang sekolahmu habis?" tanya Darto.


"Tidak Pa, masih ada." jawabnya.


"Jangan sungkan untuk meminta, keperluan kamu pasti banyak." ucap Darto.


"Pasti Pa." jawab Sagi.


"Belum Ma, Anchil tidak mau mengajari aku." jawab Sagi.


Raniwe melirik Anchil. "Apa benar begitu?"


"Tidak Ma, dia yang tidak mau." jawab Anchil.


"Sekarang juga, cepat belajar bersama." titah Darto.


"Baik Pa." jawab Anchil dan Sagi, secara bersamaan.


Mereka segera melangkahkan kaki, meninggalkan ruang tamu. Anchil menarik tangan Sagi, supaya dia masuk ke kamarnya. Anchil meletakkan buku tebal, di atas tangan Sagi.

__ADS_1


"Bukankah kamu ingin mencuri buku ini, agar bisa belajar sendirian. Jadi sekarang silahkan belajar, dan jangan banyak alasan ini dan itu." ucap Anchil.


Sagi menggenggam buku tersebut. "Iya, kamu tahu aku mencuri tidak ingin ketahuan. Bila sudah ketahuan, sekarang ajari saja aku."


"Tidak mau." Anchil menolak mentah-mentah.


"Harus mau." Sagi memaksa Anchil.


Anchil segera membuka pintu kamar, lalu hendak menutupnya. Sagi sengaja mendorong pintu, sebelum sempat tertutup rapat.


"Kamu ngapain si kayak gini, mengganggu tau gak." gerutu Anchil.


"Aku ingin diajari menari olehmu." jawab Sagi.


Dengan sangat terpaksa, Anchil akhirnya mengajari Sagi. Padahal tadinya, benar-benar sangat menolak.


"Gerakan kaki dan tanganmu kaku harus dilemaskan lebih dulu." ujar Anchil.


"Iya, iya, aku bisa." jawab Sagi.


Sagi bergerak, berdasarkan tarian yang diketahui olehnya. Sagi hendak terjatuh, lalu Anchil menarik tangannya. Mata mereka kini bertatapan sebentar, sebelum pada akhirnya membuang muka masing-masing.


"Kamu mau mengajari aku menari, atau modal dusta." ujar Sagi spontan.


"Kalau kamu menuduh aku seperti itu, kenapa gak belajar sendiri aja." jawab Anchil.


"Cepat menari dong!" titah Sagi.

__ADS_1


"Apa hak kamu memerintah diriku." Anchil melawannya.


__ADS_2