Dendam Salah Sasaran

Dendam Salah Sasaran
Buat Onar


__ADS_3

Saat menunggu air rebusan bumbu mendidih, Anchil dan teman-temannya dikejutkan dengan kehadiran Amro, Hekoy, dan Rifky. Anchil sedang memegang baskom berisi daging, lalu ditumpahkan oleh Hekoy.


"Kami ini teman kalian juga, mengapa pesta tidak mengajak lagi." ujar Rifky.


"Kalian bukan teman dekat kami." jawab Anchil.


Amran mendorong Hekoy, marah besar karena daging tertumpah. "Kamu jangan membuat onar di sini."


Hekoy balik mendorong Amran. "Suka-suka dong, aku ingin melakukannya. Siapa pun tidak bisa menghentikan aku, termasuk kamu ini."


Sagi menarik paksa lengan Hekoy, untuk membawanya keluar dari rumah. Hekoy tidak terima, lalu menyeranh Sagi dengan pukulan bertubi-tubi. Amran mengatasi tindakan Rifky, yang hendak membantu temannya.


Bugh!


Sebuah tendangan mengenai paha Rifky, lalu perlawanan mulai dilakukan. Anchil dan Keke memukul Amro menggunakan spatula panas, hingga laki-laki itu berlari karena melihat darah pada jari telunjuknya. Amro seperti anak ayam kebingungan, karena takut dikejar oleh Anchil dan Keke.


"Hayo, mau lari kemana kamu." ujar Keke.


"Aku akan mencincang halus tubuhmu, karena telah ikut andil dalam pembuatan onar." timpal Anchil.


"Ampun Anchil, aku sekarang akan mengajarimu satu ilmu penting." jawab Amro.

__ADS_1


Anchil mendekat, "Apa itu?"


"Teknik mengait hati orang yang dicintai." Amro tersenyum imut.


"Kalau hanya itu aku tidak mau, aku juga bisa belajar dari tempat lain. Lagipula aku bukan budak polos, soal percintaan aku sudah berpengalaman." ucap Anchil.


"Ya terserah deh, aku ikut saja apa mau kamu Anchil." jawab Amro.


Spatula tetap mendarat, ke tempat yang diarahkan Keke. Amro sudah menjerit histeris saja, padahal tidak terasa panas. Tiba-tiba muncul Amran yang membelanya, saat ingin menyerang Keke.


"Jangan pukul Keke, dia calon istri masa depanku." Amran membelanya.


"Sudahlah, damai saja!" sahut Qishi.


"Aku mau berdamai, namun mereka masih menyerang." jawab Amro.


Sagi menjewer telinga Hekoy dan juga menarik kerah baju Rifky dari belakang. Anchil tercengang melihat hal tersebut, bisa-bisanya dua orang kalah.


"Kamu memang keren Sagi." puji Anchil.


"Terima kasih tunangan aku." jawab Sagi.

__ADS_1


Akhirnya mereka makan bersama, dengan hidangan setengah gosong. Akibat ingin masak, malah diganggu dengan keonaran. Anchil dan Sagi mulai memasak ulang, agar hidangan lebih lezat layak untuk disantap. Hidangan diletakkan pada atas meja, lalu Sagi mengibaskan dengan kipas yang terbuat dari karton tebal.


"Ini masih panas, hati-hati lidah kalian terbakar." ucap Sagi.


"Kalau aku tidak terburu-buru, ." jawab Anchil, dengan lirih.


Amro ingin mencubit daging ayam, lalu tangannya dihempaskan oleh Keke. Matanya yang melotot tajam membuat ngeri, mengurungkan niat Amro yang pecicilan. Tapi tidak dengan Hekoy dan Rifky, yang langsung serabutan tidak sabar untuk memakannya.


"Ya Tuhan, lezat sekali makanan ini." ungkap Rifky.


"Eh, kalian anak nyasar main sosor saja sambal lezat ini." Amran langsung mengangkat nampan tinggi-tinggi.


Mereka malah berebut, sambil main kejar-kejaran. Berkeliling di meja pun tak dapat meraih makanan, karena Amran terus menjunjung tinggi di atas udara.


"Cepat berikan padaku, letakkan di sini." pinta Keke.


"Kalau tunangan aku tentu boleh." jawab Amran.


"Wooo...!" Qishi dan Anchil bersorak-sorai.


Amro, Hekoy, dan Rifky berusaha merebut makanan dari tangan Amran. Mereka mencabik-cabik daging, bagaikan tangan zombie saja.

__ADS_1


__ADS_2