
Pada malam harinya, Anchil keluar kamar sebentar. Dia ingin menatap bintang sambil duduk di kursi, yang ada pada balkon. Dimasa lalu, dia pernah bersama dengan Gaga.
”Aku teringat, menangis di bawah langit berbintang. Cuma dia yang menjadi sinar, saat kamu pergi meninggalkan aku. Kebetulan, saat itu hari mendung kelam.” batin Anchil.
"Anchil, kemana pacar kamu? Kenapa di sini sendirian?" tanya Sagi, ingin tahu.
"Siapa yang punya pacar." jawab Anchil ketus.
"Iya kamulah, lalu siapa lagi." ujar Sagi.
"Aku juga tahu, kamu bicara sama aku. Memangnya, di sini ada orang lain selain kita berdua." jawab Anchil.
"Kamu punya pacar?" tanya Sagi.
Anchil tersenyum dalam rasa jengkel, sulit sekali membuat pria di sampingnya mengerti. "Aku gak punya pacar, harus berapa kali aku ulangi."
"Jangan marah-marah, nanti cepat tua." ucap Sagi.
"Gak marah. Cuma malas mengulangi kalimat, yang sudah aku ucapin." jawab Anchil datar.
"Lihat deh, bulan itu sudah membulat dengan sempurna." Sagi menunjuk bulan, yang ada pada langit.
"Memangnya siapa, yang bilang bulan itu bengkok." jawab Anchil datar.
__ADS_1
Sagi tersenyum samar, dalam diamnya yang tersembunyi. Tindakan Anchil barusan, telah membuatnya sedikit terhibur. Sagi berhenti memandangnya, saat Anchil menoleh ke arah samping. Lebih tepatnya, dia menghadap Sagi.
"Perasaan, tadi kau tersenyum." Anchil menunjuknya.
"Siapa yang tersenyum, aku dari tadi lihat bulan. Mungkin, hanya perasaanmu saja yang banyak berharap." jawab Sagi.
"Jawaban tidak berkelas, menyebalkan, tidak ada etika." ucap Anchil.
"Oooh..." jawab Sagi.
Anchil segera meninggalkannya seorang diri, malas untuk meladeni Sagi yang sibuk. Karena terlelap dalam tidur, akhirnya waktu tanpa terasa pagi. Anchil masih mangap-mangap, sambil menutup mulutnya sendiri.
"Haduh, tidak terasa sudah pagi saja. Masih harus datang ke sekolah, untuk melanjutkan perlombaan yang belum selesai." monolog Anchil.
Anchil segera bersiap-siap, setelah usai membersihkan diri. Hari ini, dia harus datang lebih pagi. Saat sampai area sekolah, Gaga sudah menghampiri Anchil.
"Hai juga." jawabnya datar.
"Kamu ke sini dengan siapa?" tanya Gaga.
"Aku ke sini..." ucapan Anchil sudah terpotong, oleh seseorang yang berada di belakangnya.
"Anchil ke sini bareng sama aku." sahut Sagi.
__ADS_1
"Oh, kamu pasti pelayannya." jawab Gaga.
"Pelayan kok tinggal di rumah majikan, seharusnya si lebih bisa dikatakan sebagai tunangan." ucap Sagi.
"Oh gitu, tapi kalian tidak mengenakan cincin serupa." jawab Gaga.
”Apaan si dia, ngaku-ngakuin aku sebagai tunangannya. Dasar manusia tidak tahu diri, membuat diriku semakin jengkel.” batin Anchil.
"Cincinnya tertinggal di rumah, tidak enak dipakai di tempat umum. Menunggu Mama Raniwe, membuat acara tunangan untuk kami berdua. Lalu setelah itu, kami pasti akan kompak mengenakannya." ujar Sagi.
"Kalau gitu, aku akan menunggu saat itu terjadi. Lalu aku akan datang, pada waktu yang tepat." jawab Gaga.
Anchil segera melangkahkan kaki duluan, malas melihat pembahasan seputar tunagan. Padahal sebenarnya, yang diucapkan Sagi tidak benar adanya.
Tiba-tiba ponsel Anchil berbunyi, ternyata panggilan video dari Keke. Dia menggeser tanda berwarna hijau, untuk menerima panggilan darinya.
Hai Anchil, apa kabar?" tanya orang di seberang telepon.
"Baik kok." jawab Anchil.
"Syukurlah kalau gitu. Aku sedang mempersiapkan, acara tunangan kamu." Keke memperlihatkan dekorasi di rumahnya.
"Kenapa harus repot-repot, aku juga gak keburu." jawab Anchil.
__ADS_1
"Mama kamu yang menginginkan aku membantunya." ujar Keke.
"Oh iya." jawab Anchil cuek.