
Anchil memutuskan sambungan panggilan video, setelah berpamitan seraya melambaikan tangan. Anchil segera keluar kamar, lalu duduk di kursi ruang makan.
"Anchil, kamu ngapain aja?" tanya Raniwe.
"Biasalah Ma, sedang berbicara sama Keke." jawab Anchil.
"Suruh dia ke rumah, aku sudah merindukannya." ucap Raniwe.
"Iya Ma, besok aku ajak dia." jawab Anchil.
"Mama dengar-dengar, ada perlombaan antar kota di SMA 09." ujar Raniwe.
"Iya Ma, aku berencana untuk ikut partisipasi." jawab Anchil.
"Bagaimana dengan kamu Sagi?" tanya Raniwe.
"Iya Ma, aku juga berencana ikut." jawab Sagi.
Keesokan paginya, mereka bersiap kembali ke sekolah. Kali ini keduanya diantar Raniwe, karena mobil Anchil masuk bengkel. Mereka berdua bersalaman, setelah sampai ke sekolah.
"Sagi!" panggil Qishi.
"Iya." jawabnya.
Qishi memberikan paper bag. "Terima kasih, sudah meminjamkan jaketnya. Sudah aku cuci bersih iya."
"Sama-sama." jawab Sagi.
__ADS_1
Anchil hanya melihat saja, lalu berjalan duluan menuju ke kelas. Keke dan Amran berjalan mendekat, karena melihat Anchil sudah datang.
"Keke, kebetulan sekali kamu muncul. Aku ingin bilang, kalau Mama menyuruh kamu ke rumah." ujar Anchil.
"Kamu tenang saja Anchil, nanti aku akan datang." jawab Keke.
"Yang benar loh, aku pegang ucapan kamu." ujar Anchil.
"Iya Anchil, gak usah khawatir dong." jawab Keke.
Keke dan Anchil masuk ke dalam kelas, dan mulai membuka buku pelajaran. Pak Hu Din membawakan kertas, penilaian kelas B.
"Anak-anak semuanya, Bapak ingin memberikan sedikit informasi. Ada salah satu siswa kelas B, yang nilainya sangat bagus. Bapak akan memberinya kesempatan, untuk mengikuti seleksi perlombaan antar kota. Dia adalah Sagi, seorang siswa yang sempat berhenti sekolah." ujar Hu Din.
"Oh, pria remaja kampungan itu." jawab Amran.
"Dia pelayan di rumah Anchil 'kan." timpal Rudit.
"Iya Pak Hu." jawab Amran dan Rudit bersamaan.
Jam istirahat tiba, Sagi masuk ke dalam ruangan rapat. Qishi menyemangati Sagi dari luar, dan Anchil melihat keakraban mereka. Dari cara Sagi tersenyum manis, dan juga melambaikan tangannya.
”Kok aku gak suka iya, lihat kedekatan mereka.” batin Anchil.
Amran melambaikan tangannya pada Anchil, sambil mengucapkan kata-kata penyemangat. Sagi melirik ke arah Amran, dengan tatapan tidak suka. Ada rasa muak, ketika menyaksikan tindakan Amran.
”Apa mungkin, dia juga suka sama Anchil. Apa kamu bilang, kamu mengatakan juga Sagi. Itu artinya ada orang yang menyukai Anchil, selain si Amran gendeng itu. Dan harus menerima kenyataan, bahwa orang itu adalah kamu sendiri. Tidak, tidak mungkin, aku pasti sudah gila.” batin Sagi, memaki dirinya sendiri.
__ADS_1
"Anchil maju ke depan, untuk menjawab pertanyaan." ujar Hu Din.
"Baik Pak Hu." jawab Anchil.
Anchil menulis jawaban, dan bergiliran Amran yang maju ke depan. Kini giliran Sagi yang maju, dan menjawab soal matematika.
"Bagus sekali, Anchil dan Sagi berhasil menjawab dengan dua cara. Maka, kalian terpilih untuk mewakili sekolah." ujar Hu Din.
"Terima kasih Pak." jawab Anchil dan Sagi, secara bersamaan.
Anchil sudah masuk ke kelas, dan mendapat lirikan manis dari teman-teman sekelasnya. Namun tidak semuanya manis, bahkan ada yang ucapannya mengejek.
"Anchil, selamat iya!"
"Anchil diam-diam aja, dengan menyembunyikan status Sagi."
"Kasian banget anak baru itu, tunangan kok dijuluki pelayan."
"Anchil payah, penuh privasi dalam hidupnya."
"Kalian gak usah heboh gitulah, lagipula apa pentingnya memberitahu semua orang. Hubungan adalah tentang dua orang, bukan tentang banyaknya orang yang ikut serta." jelas Anchil.
"Nada bicara macam apa itu, seperti tidak menganggap teman."
"Harusnya si dia sadar, kenapa banyak orang heboh."
"Berisik kalian, pergi sana." Keke mengangkat kaki kirinya, pertanda siap menendang.
__ADS_1
"Eh Keke, ini kelas kami juga. Kelas A bukan hanya milik kamu."
"Benar, berlagak pahlawan."