Dendam Salah Sasaran

Dendam Salah Sasaran
Balon Unik


__ADS_3

Keke sudah berkumpul di ruang tamu, kata orangtuanya ada seseorang yang akan datang. Yang jelas, Keke pasti akan suka.


"Mana Ma orangnya, kok lama banget?" tanya Keke.


"Dia masih di jalan mungkin, sabarlah sebentar. Mama yakin, sebentar lagi datang." jawabnya.


"Bukan soal sabar atau gak, setidaknya kalau dia sudah datang aku bisa ganti baju. Rasanya gerah sekali, mana cuaca panas." ujar Keke.


"Iya sayang, sabar sebentar." jawabnya.


Keke terkejut bukan main, saat melihat Amran yang datang. Beserta dengan kedua orangtua lengkapnya.


"Keke, kenapa kamu kaget gitu?" tanya mamanya, yang ingin tahu.


"Jadi Amran, pria yang Mama maksud. Aku mengenalnya Ma, makanya aku kaget." Keke bingung sendiri.


"Oalah, kamu sudah kenal toh." ujar mamanya.


"Iya, iyalah Ma. Kami 'kan satu sekolahan." jawab Anchil.


Keesokan harinya Sagi dan Anchil memasang sepatu, sambil duduk. Tentu saja mendahulukan yang kanan, baru yang kiri.


"Sagi, sekarang kamu sudah gak marah sama aku?" tanya Anchil.

__ADS_1


"Gak Anchil, lupain aja kejadian waktu di acara tunangan." jawab Sagi.


"Aku minta maaf iya, karena sudah menyalahkan kamu." ujar Anchil.


"Aku juga minta maaf, karena telah berniat balas dendam." jawab Sagi tulus.


Mereka sudah sampai sekolah, setelah cukup lama di perjalanan. Ban mobil terlihat sedikit memancarkan debu, saat direm secara dadakan oleh Anchil.


"Anchil, aku ke kelas dulu iya." Sagi berpamitan.


"Iya, aku juga mau ke kelasku." jawab Anchil.


Darto dan Raniwe tertawa bersama, teringat bagaimana kelakuan Sagi dan Anchil. Apa-apa saling bergantungan, tidak akan cuek satu sama lain.


"Iya dong Pa, siapa dulu." jawab Raniwe, dengan bangga.


"Papa juga bisa mengatur cara, namun hanya merasa belum tepat waktu." ungkap Darto.


"Kurang tepat apanya, kelas tiga belas mereka juga sudah kelulusan." jawab Raniwe.


"Aku pikir-pikir sekolah SMA 09 ini berbeda dengan yang lain. Ada yang namanya tambahan belajar, yaitu empat tahun." ujar Darto.


"Papa tenang saja, itu tidak akan berpengaruh. Mereka juga masih muda, bisalah untuk kejar mimpi." jawab Raniwe.

__ADS_1


Saat jam istirahat tiba, Sagi masuk ke dalam kelas Anchil. Dia membawa sebuah balon, yang tidak tampak seperti balon. Bentuknya yang unik, dengan segala hiasan yang menempel.


"Kamu mau ngapain Sagi?" tanya Keke.


"Menemui tunangan ku dong." jawab Sagi.


Anchil tersenyum mendengar penuturan Sagi, padahal yang ia tahu mereka hanya hubungan palsu. Tunangan juga belum ada pengungkapan rasa, hanya untuk membuat Raniwe dan Darto bahagia. Intinya, benar-benar penuh sandiwara.


"Sekarang, aku ingin mengatakan sesuatu hal. Mungkin ini sudah ke sekian kali, sebuah kalimat yang berasal dari hatiku." Sagi menggenggam erat tangan Anchil.


"Katakan saja, jangan sungkan." Anchil tampak berharap, ada pernyataan yang dia inginkan.


Sagi menusuk balon dengan jarum pentul, lalu keluar serbuk dari lubang tersebut. Anchil awalnya terkejut, lalu menutup kedua telinganya. Terlihat bacaan I Love You, terbang ke atas langit-langit kelas. Semua mata yang memandang terpana, meski Anchil masih sempat kaget. Rasa tak percaya juga menyelimuti, karena Sagi mengungkapkan perasaannya.


"Anchil, aku suka sama kamu." ungkap Sagi.


"Aku gak mau disukai." jawab Anchil.


"Kamu maunya apa?" tanya Sagi serius.


"Aku maunya dicintai dari hati kamu." jawab Anchil.


Sagi memeluk tubuh kecilnya, lalu mencium pipi kanan dan kiri Anchil. Anchil tersenyum, saat Sagi melakukan tindakan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2