
Hari yang ditunggu akhirnya tiba, hari ini pementasan teater akan dimulai. Anchil dan Amran yang maju, ke atas panggung terlebih dulu. Mereka menebarkan senyuman, pada semua orang.
"Halo semuanya, kali ini kami akan menampilkan sebuah teater. Drama kali ini berjudul, Mengejar Cinta Monyet." ujar Anchil mewakili.
Plok! Plok!
Terdengar suara tepuk tangan riuh, dari teman-teman Anchil. Begitu pun dengan bapak kepala sekolah, yang mendengarkan penuturannya.
"Kali ini, aku yakin tampilannya akan bagus." ujar bapak departemen pendidikan.
"Iya Pak, mari kita lihat saja. Aku tidak memilih yang sudah terbiasa, namun berdasarkan nomor kupon saja." jawab Hu Din.
"Kenapa begitu Pak?" tanyanya lagi.
"Karena, terlalu banyak yang ingin menjadi pemeran utama. Mereka lupa dengan cerita yang sesungguhnya. Tanpa pemeran pembantu dan pemeran pendukung, pementasan seni teater tidak akan menjadi drama memukau." jelas Hu Din.
Amran berjalan di belakang Anchil, lalu bersembunyi di balik lemari. Anchil menoleh ke belakang, dengan raut wajah sesuai perannya.
"Aku merasa, seperti ada yang mengikuti aku." monolog Anchil.
Amran keluar dari persembunyiannya. "Wahai Ibu guru, sebenarnya aku yang mengikuti kamu."
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Anchil.
__ADS_1
"Karena aku sangat mencintai Ibu guru." Amran memberikan bunga.
Plok! Plok! Plok!
Terdengar suara riuh tepuk tangan penonton, bahkan ada yang tertawa kecil. Ada juga yang sekadar membunyikan bibirnya untuk bersiul.
Anchil hendak mengambil bunga tersebut, namun Sagi menyambarnya. Dia menjatuhkannya, lalu menginjak bunga tersebut.
"Kau tidak boleh menerima apapun darinya." ujar Sagi.
"Oh, ternyata kau ingin bersaing denganku." Amran tersenyum jahat.
"Tentu saja, karena aku juga suka dengan Ibu guru." ucap Sagi.
"Baik, aku setuju." Sagi mengangkat lengan bajunya.
"Akhirnya menerima tantangan juga." jawab Amran.
"Tidak bisa, tunjukkan kekuatan otak. Jangan menunjukkan kekuatan dengan otot." sahut Anchil.
Mereka berdua mengangguk setuju, lalu Anchil menulis soal pada papan tulis. Keduanya tentu sudah tahu, hal apa yang harus dilakukan. Sebenarnya soal matematika, bukanlah hal sulit untuk Sagi. Namun dia harus pura-pura tidak tahu, karena Amran adalah pemeran utama.
"Bagaimana Amran, apa kau bisa mengisinya?" tanya Anchil.
__ADS_1
"Tentu saja Bu guru, aku sudah terbiasa belajar." jawab Amran.
Amran menulis semua jawaban yang benar, sedangkan Sagi menulis jawaban yang salah. Anchil tersenyum ke arah Amran, sesuai dengan perannya dalam drama teater.
"Aku sudah menentukan pemenangnya, yaitu Lindong." ujar Anchil.
"Terima kasih Bu guru, aku bersedia menjadi pacarmu." jawab Amran.
"Siapa yang ingin menjadi pacarmu, kita berteman saja." ujar Anchil.
"Bu guru, bercanda ini tidak lucu. Bukankah, tadi Ibu menerima bunga dariku." jawab Amran.
"Menerima bunga, bukan berarti menerima cinta. Kita bisa berteman, sampai kamu menyelesaikan pendidikan terlebih dulu." ucap Anchil.
"Tidak masalah Bu, setelahnya kita bisa menikah." Amran mengikuti Anchil, sambil senyum sana, senyum sini.
Anchil dan Amran duduk di kursi, yang telah disiapkan pada panggung pementasan drama teater.
"Lindong, kenapa kamu berani jatuh cinta pada guru sendiri?" tanya Anchil.
"Karena Ibu guru adalah motivasi, maka bisa menyalurkan ilmu padaku. Dengan cinta, akan lebih mudah masuk ke otak. Karena menyerap pelajaran itu lebih sulit, ketika hati tidak merasa senang." jelas Amran, panjang dan lebar.
Anchil hanya tersenyum, bersamaan tepuk tangan para penonton.
__ADS_1