
Sagi sedang berjalan, dan Gaga sengaja menjulurkan kakinya. Sagi sengaja melangkahinya, lalu mengacak rambut kepala Gaga.
"Bocah ingusan tidak tahu diri!" gerutu Gaga.
"Siapa suruh berlagak jadi jagoan." jawab Sagi.
Gaga membenarkan rambutnya, yang berantakan karena ulah Sagi. Gaga tidak membiarkan Sagi pergi, dia segera menarik kerah bajunya.
"Cepat minta maaf lu!" ujar Gaga.
"Kalau aku tidak mau, kamu bisa apa." jawab Sagi menantangnya.
Gaga baru saja ingin meninju Sagi, namun dia melihat Anchil yang sedang berjalan. Gaga berpura-pura membersihkan bajunya, sengaja menepuk-nepuk pundak Sagi.
"Kawan, bajumu tercium bau. Sekali-kali dipakaikan pewangi baju." Gaga tersenyum mengejek.
Sagi tersenyum jahat ke arah Gaga. "Kawan, bajumu terlihat kotor. Lain kali, bila menyikat baju harus lebih lama."
Anchil yang baru berjalan merasa terganggu, dengan aksi mereka yang saling mendorong. Anchil sudah berusaha menghindar, agar tidak ikut campur pada urusan keduanya. Namun tetap saja, nalurinya tidak dapat berbohong. Dia sangat peduli pada Sagi, meskipun semalam memarahinya secara brutal.
"Kenapa si, kalian sibuk di tengah jalan para manusia lewat? Sekolah tempat belajar, bukan saling adu otot." Anchil akhirnya protes.
__ADS_1
"Dia sangat tidak sopan Anchil, berani-beraninya mengatai bajuku tidak bersih." jawab Gaga.
"Dia yang menindas ku duluan, berani-beraninya dia mengganggu jalanku." sahut Sagi.
"Sudahlah, aku tidak ingin mendengarkan perkelahian kalian." jawab Anchil.
Anchil segera mendorong pundak keduanya, lalu berjalan ke arah yang kosong. Tidak ada manusia yang menghadang jalannya, bahkan tidak ada binatang-binatang yang berkeliaran.
"Anchil!"
Anchil celingak-celinguk, mencari sumber suara yang memanggilnya. Ternyata itu Qishi, yang muncul dari balik tembok pembatas.
"Oh iya, ayo duduk sana." Anchil menunjuk ke kursi, yang ada di emperan.
Qishi menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum melihat Anchil. Dia segera duduk di kursi, dan memulai membuka pembicaraan.
"Kapan kamu dan Sagi memiliki hubungan khusus?" tanya Qishi.
"Sejak awal kami bertemu, Mama menjodohkan aku dengan dia." jawab Anchil.
"Bagaimana awal mula, kalian bisa kenal?" tanya Qishi penasaran.
__ADS_1
"Awal mulanya, karena sebuah kecelakaan. Memangnya, hal ini penting iya buat kamu ketahui." jawab Anchil.
"Maaf, aku terlalu banyak bertanya. Sebenarnya aku hanya ingin tahu, karena aku suka sama Sagi. Aku lihat, ada sandiwara dari cara pandang kalian. Saat pemasangan cincin, aku melihat dengan seksama." ucap Qishi.
"Aku benar-benar tunangan dengan Sagi sungguhan, kalau tidak percaya kita lihat saja nanti." jawab Anchil.
Anchil segera beranjak dari duduknya, lalu melangkahkan kakinya menjauh dari Qishi. Dia berlari ke toilet, karena sudah tidak tahan lagi. Dari tadi dia ingin buang air kecil, karena sibuk tertawa bersama Keke di kelas.
Pukul 13.30 Anchil dan Sagi sudah keluar kelas, mereka berjalan menuju parkiran. Keduanya masih diam-diaman, karena kejadian di acara tunangan semalam.
Anchil menyupir mobil, dengan pandangan lurus ke depan. Sagi fokus pada ponselnya, dan membalas pesan dari nomor tak dikenal. Anchil mengendarai mobilnya, dengan kekuatan lebih cepat lagi.
"Anchil, aku turun di sini saja." Sagi menunjuk pinggir jalan.
"Kok di sana, rumah 'kan masih jauh." jawab Anchil.
"Aku ada urusan." ucapnya.
"Baiklah." Anchil menepikan mobilnya, membiarkan Sagi turun.
”Ada yang mengajak aku ketemuan, dan orangnya belum jelas siapa. Sebaiknya, kamu memang tidak ikut.” batinnya.
__ADS_1