
Qishi terbangun, saat mendengar ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Sagi, telah mengganggu tidur nyenyak nya.
"Ada apa si Sagi, kok kamu sibuk menghubungi aku pagi-pagi sekali." gerutunya.
"Ajak Amran ke sini, aku sekarang sedang di rumah bersama Anchil." jawab Sagi.
"Orangtua Anchil memangnya kemana?" tanya Qishi.
"Pergi ke luar kota." Sagi menjawab dengan lirih.
Amro, Hekoy, dan Rifky melihat rumah Anchil yang sedang ramai. Ketiga orang itu, ingin mengacaukan acara makan-makan santai tersebut.
"Mereka melakukan acara perayaan, tanpa mengajak kita lagi." ujar Hekoy.
"Itu yang membuatku murka, ingin mengobrak-abrik apa pun yang ada." jawab Rifky.
"Sagi musuh kita itu belagu, padahal dia hanya anak pungut." sahut Amro.
"Ya, aku juga tidak habis pikir. Bisa-bisanya dia berani melawan kita, jelas-jelas sekolah di SMA Diamond karena orangtua Anchil." jawab Rifky.
__ADS_1
"Kalau aku jadi Anchil, sudah aku usir dari rumah mewah ini. Tidak sudi menghidupi farasit, yang hanya makan tidur." umpat Hekoy.
"Bagaimana mau diusir, kalau hatinya terlanjur budak cinta. Lebih baik kita pengaruhi Gaga saja, untuk merebut Anchil kembali." jawab Rifky.
Amran datang bersama Qishi, dan dengan Keke juga. Anchil menyambut kedatangan mereka, sampai disuruh masuk ke dalam.
"Anchil, kamu mau mengajak kami minum alkohol tidak?" tanya Amran.
"Kalau Mama dan Papa tahu, aku bisa dimarahi habis-habisan." jawab Anchil.
"Tidak apa-apa, hanya sesekali juga." Amran mendesaknya, dengan kalimat rayuan.
Daging diiris tipis-tipis oleh Keke, dan ada Qishi yang menghaluskan bumbu. Mereka berdua memilih menggunakan tangan untuk mengerjakan sesuatu, daripada sibuk ikut berdebat. Tidak penting juga pembahasan mengenai minuman, intinya hanya ingin menikmati kebersamaan dengan teman-teman.
"Waduh, aromanya sudah tercium meski masakan belum dimulai." ujar Amran.
"Makanya, kalian bertiga sudahi saja berdebatnya." jawab Qishi.
Sagi, Anchil, dan Amran mengangguk sambil tersenyum. Mereka membereskan rumah yang tampak berantakan, lalu menyusun kursi menjadi lebih rapi.
__ADS_1
"Mari kita bantu mereka memasak makanan pedas." ujar Anchil.
"Kamu lakukan dengan Keke saja, karena aku akan menyiapkan lalapan khas pedesaan. Kalian yang mencoba akan ketagihan." jelas Sagi, dengan mata berbinar-binar.
Sagi memetik batang kangkung, lalu merebusnya di atas kompor gas. Panci besar sudah bertengger, dengan api yang dinyalakan tidak terlalu besar.
"Mau kamu buat apa?" Amran jadi penasaran.
"Ini mau aku buat lalapan, bisa juga dicampur dengan timun untuk menjadi acar kacang." jawab Sagi, seraya tangannya mematikan kompor gas.
Raniwe setia menemani Darto, melakukan gerakan terapi kesehatan. Darto yang kesusahan mengikuti pemandu, dibantu Raniwe ketika ingin membungkuk.
"Pelan-pelan Papa, bagaimana pun juga perutmu bekas operasi." ujar Raniewe.
"Tidak apa-apa, Papa tidak lemah. Papa tidak boleh kalah kuat, dari perempuan yang menampung bayi dalam perutnya." jawab Darto.
Darto bergerak dengan perlahan-lahan, sambil menahan sakit di bagian kakinya. Tidak luput juga bagian pinggul, yang terasa nyeri karena banyak bergerak.
"Hah...!" Darto menghela nafas panjang, lalu melanjutkan ucapannya. "Terasa seperti digelitik, diinjak, diputer, ditusuk, ditampar dan dilempar." ucapnya.
__ADS_1
"Benarkah? Sampai segitunya Papa memberikan pendapat. Tempat ini merupakan rekomendasi, dari teman-teman sosialita Mama." jawab Raniwe, dengan heran.