Dendam Salah Sasaran

Dendam Salah Sasaran
Kedatangan Ayah Kandung


__ADS_3

Jam pulang sekolah tiba, Sagi heran dengan seseorang yang tiba-tiba menyinggahi mobilnya depan sekolah. Pria paruh baya itu terlihat keren, dengan kacamata yang bertengger di atas kepalanya.


"Sagi, ini Ayah kandung kamu." ujar Ghori.


"What? Aku tidak punya Ayah, dari kecil sudah terbiasa sendiri." jawabnya.


"Sagi, aku tahu kamu menginap di rumah mewah. Namun, itu hanya sementara bisa kamu dapatkan. Ikutlah Ayah, kita akan menjalani kehidupan berdua." ucap Ghori, dengan rayuannya.


"Ayah urus saja selingkuhan Ayah itu. Aku sudah bahagia di keluarga ini, lagipula aku masih sekolah di SMA 09." Sagi memalingkan pandangan ke arah lain.


"Sagi, setelah kelas tiga belas tidak masalah, untuk melanjutkan pelajaran tambahan di luar negeri." Ghori memberanikan diri memberi saran.


"Aku tidak bisa, aku tetap ingin di sini." Sagi heran dengan ayahnya, yang seakan memaksa.


Anchil terdiam, meski sebenarnya tak rela ditinggalkan. Anchil baru saja berbahagia, karena menerima pernyataan cinta. Masa iya harus kandas begitu saja, sungguh tidak lucu pikirnya.


"Ayo kita pulang sekarang, pasti Mama sudah menunggu." Anchil menggandeng tangan Sagi.


"Ya Anchil, aku sudah tidak sabar untuk makan masakan Mama." jawab Sagi.


Anchil dan Sagi masuk ke dalam mobil, lalu kendaraan roda empat itu melaju dengan kekuatan sedang. Sagi dan Anchil saling berhadapan, lalu tersenyum mengembang.

__ADS_1


"Aku cinta sama kamu." ucap Sagi.


"Aku juga cinta sama kamu." jawab Anchil.


"Kamu jangan khawatir, aku akan bertahan semampu aku." Sagi melihat ke arahnya.


Anchil tertunduk lesu. "Kalau kamu merasa tidak mampu, itu artinya aku akan tetap ditinggalkan."


"Jangan berpikir negatif dulu, semoga hal tersebut tidak terjadi. Apa pun masalahnya, tetap Tuhan juga yang menghendaki." Sagi mengingatkannya.


"Baiklah, aku usahakan berpikir positif." Anchil menghentikan mobilnya, lalu mematikan mesin.


"Kalian berdua menerima apa dari guru?" tanya Raniwe, yang ingin tahu.


"Hanya ucapan selamat, tapi sangat berarti." jawab Anchil.


"Anchil, kalau kami berdua pergi, kamu di rumah dengan Sagi. Tidak apa-apa 'kan, kalau ditinggal sebentar juga?" Raniwe memastikan.


"Mau kemana lagi Ma, mengapa sering pergi. Rasanya, kebahagiaan kurang lengkap tanpa kalian." Anchil sedikit keberatan.


"Mama dan Papa mau ikut terapi kesehatan, dan kegiatan ini ada di luar kota. Waktunya sangat terbatas, hanya ada tiga bulan saja." Raniwe memberitahu yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Baiklah Ma." jawab Anchil.


Anchil makan malam bersama dengan keluarganya, sebelum akhirnya saling berjauhan. Darto memberikan amanat pada mereka, agar menjaga diri dengan baik.


"Selama kami tinggal, kalian berdua berhati-hati." ujar Darto.


"Ya Pa, orang jahat tidak selalu kelihatan." jawab Anchil.


"Betul, meski kalian tidak punya musuh, tidak memungkinkan bahwa orang lain ingin bermusuhan." sahut Raniwe.


"Baiklah, kami ingat pesan ini." Anchil mengacungkan dua jempolnya.


Tiba-tiba, sebuah panggilan telepon bertubi-tubi berbunyi. Keke yang masih tidur nyenyak, langsung terbangun sambil menggerutu. Keke meraba-raba meja di samping ranjang tidur, lalu meraih ponsel.


"Halo, siapa si pagi-pagi sudah mengganggu saja." gerutunya.


"Anak muda tolong tenang, ini adalah Anchil yang cantik." jawabnya.


"Hampir aku lempar batu kamu, kalau ternyata laki-laki usil." ucap Keke spontan.


"Aku hanya ingin mengundang kamu datang ke rumah, karena orangtuaku akan pergi ke luar kota. Jangan lupa ajak Amran juga, supaya lebih ramai." jawab Anchil.

__ADS_1


__ADS_2