Dendam Salah Sasaran

Dendam Salah Sasaran
Cemburu Tersembunyi


__ADS_3

Anchil malas berdebat lebih panjang lagi, dia segera menarik tangan Keke agar menjauh. Kini mereka duduk di kursi masing-masing.


"Besok, kau harus pergi ke kota Sulawesi. Semangat iya Anchil!" ujar Keke.


"Iya mulut ember." jawab Anchil ketus.


Keke melompat-lompat sambil memeluknya. "Kau cocok jadi anak manis, tidak boleh ketus begitu. Nanti cantikmu mendadak terbang, menghilang ke angkasa tertinggi." Keke memukul lembut pundaknya.


Anchil tersenyum, sambil manggut-manggut. "Rayuan macam apa ini, benar-benar memuakkan."


"Rayuan yang akan membuatmu tertidur, karena telah disertakan ramuan apel Nenek sihir." Keke mengangkat telapak tangan, sejajar dengan kedua pelipisnya. Jari-jarinya bergoyang, menggoda temannya tersebut.


"Bagaimana, apakah kamu betah?" tanya Anchil.


"Selalu betah, meski harus keliling dinding tower." jawab Keke.


"Maka lakukanlah, aku beri kebebasan." Anchil menahan tawa.


Keke mendorong pundaknya. "Kau jahat sekali, aku ini menghiburmu. Malah kau tidak punya hati, dasar rubah busuk.


Didit masuk ke dalam kelas, untuk mengajar bahasa Inggris. Dia akan menyampaikan amanah dari Hu Din.


"Anak-anak semuanya, kalian dengarkan aku. Hari ini Pak Hu tidak masuk, dia sedang sakit perut. Kalian semua akan belajar di perpustakaan, bersamaan dengan kelas B juga." ujar Didit.

__ADS_1


"Yah, kok digabungin si Pak." Amran protes.


"Bagi yang tidak mau, sangat gampang sekali aturannya. Aku tinggal melapor ke Pak Hu, supaya nilai kalian dikurangi." ucap Didit.


"Tidak Pak, kami mau kok. Biarkan saja nilai Amran sendiri yang dikurangi." jawab Anchil.


"Jangan Pak, aku setuju belajar bersama kelas B." ujar Amran.


"Baiklah, ayo keluar kelas sekarang. Bawa semua buku kalian." jawab Didit.


Mereka segera berjalan ke arah luar kelas, lalu masuk ke dalam perpustakaan. Sagi dan Qishi sedang mengobrol berdua. Mereka membicarakan tentang perlombaan antar kota.


"Apa hanya kamu dan anak kelas A saja. Tidak ada lagi yang mengikuti perlombaan?" tanya Qishi.


"Tidak ada, cukup kami saja." jawab Sagi.


"Semua orang juga tahu, bahwa hanya Anchil yang sering ikut perlombaan. Aku ini hanya belajar untuk ikut." jawab Sagi.


Semua siswa dan siswi duduk di karpet, sedangkan guru Didit berdiri untuk menjelaskan. Mereka melihat ke arah depan, meski tidak sepenuhnya fokus.


"Anak-anak semua, Pak Hu Din hanya menitipkan tugas latihan. Kalian kerjakan halaman 213, dan setelah itu kumpul di meja." ujar Didit.


"Baik Pak." jawab semuanya.

__ADS_1


Detik dan menit berlalu, semakin menghabiskan waktu. Terus saja berganti, ke hari berikutnya lagi. Sagi dan Anchil bersiap-siap, untuk pergi ke luar kota.


"Kalian berdua ingat iya, harus hati-hati di Sulawesi." ucap Raniwe.


"Iya Ma." jawab Anchil dan Sagi, hampir bersamaan.


"Kalian berdua jauh dari kami, jadi jangan banyak tingkah." sahut Darto.


"Iya Pa." jawab keduanya, secara bersamaan lagi.


Usai sarapan bersama, mereka pergi ke sekolah. Keduanya sudah ditunggu oleh Hu Din dan Didit.


"Apa kabar Pak?" tanya Anchil.


"Masih sedikit sakit Anchil." jawab Hu Din.


"Kalau gitu, biar Pak Didit saja yang mengantar kami." ucap Anchil.


"Apa kalian tidak lihat, aku sudah bersiap untuk menemani kalian." jawab Hu Din.


"Iya sudah, ayo ikut pergi sekarang." ajak Didit.


"Iya Pak, biar anak-anak naik mobil duluan." jawab Didit.

__ADS_1


Mereka segera naik ke dalam mobil, lalu melaju ke bandara. Anchil melihat Sagi memegang topi, yang diberikan oleh Qishi.


”Kelihatannya Qishi yang memberikan barang tersebut ke Sagi, buktinya ada bacaan bertuliskan namanya sendiri.” Anchil berbicara di dalam batin.


__ADS_2