
Mereka sudah sampai rumah, Anchil dan Sagi melangkahkan kaki masing-masing. Keduanya masih diam-diaman, karena sama-sama gengsi. Padahal di dalam hati, sama-sama memiliki simpati.
”Kalau kamu gak mau menegur aku lagi, gak apa-apa kok. Lagian, ini kesalahan kamu juga. Ngapain kamu harus menyudutkan aku, disaat acara tunangan diselenggarakan. Jelas-jelas, Amran yang bersalah dalam hal tersebut.” batin Sagi.
Raniwe menghentikan langkah mereka, yang hendak memasuki kamar masing-masing. Raniwe menepuk kedua pundak Anchil, dengan raut wajah semringah.
"Anchil, Sagi, kalian tidak apa-apa 'kan di rumah berdua. Mama dan Papa akan pergi ke China, kami ada perjalanan bisnis." ujar Raniwe.
"Bibi Noni di rumah juga Ma." jawab Anchil.
"Bibi Noni ikut kami, karena dia yang akan memasak di sana. Membereskan barang Mama yang berantakan, menyiapkan keperluan sehari-hari, dan membersihkan barang Mama yang berdebu." ucap Raniwe.
"Lagipula, asisten Jean 'kan ada di rumah." jawab Anchil.
"Dia pergi sayang, tidak ada di rumah." ujar Raniwe.
"Oh gitu iya." jawab Anchil.
"Kok semuanya pergi si Ma?" tanya Sagi.
"Karena asisten Jean, akan menjadi supir untuk Mama dan Papa. Kamu tahu sendiri 'kan, kalau kondisi Papa belum begitu pulih." jelas Raniwe.
__ADS_1
”Pasti Mama sengaja, meninggalkan aku dan Sagi berdua.” batin Anchil.
Keesokan harinya, asisten Jean membukakan pintu mobil. Raniwe dan Darto berdiri di depan pintu, melihat Anchil dan Sagi terlebih dulu.
"Kalian gak apa-apa 'kan ditinggal?" Raniwe memastikan sekali lagi.
"Iya Ma, gak apa-apa kok." jawab Sagi.
"Anchil, kenapa kamu diam saja?" Darto melihat putrinya, bergelayut pada gagang pintu.
"Aku sebenarnya malas ditinggal, namun tidak bisa egois dalam hal ini. Kalian 'kan pergi ada perlu, tidak mungkin aku bisa mencegahnya." jawab Anchil.
"Sagi, jaga Anchil iya." ujar Darto.
Noni sudah selesai memasukkan barang-barang, ke dalam bagasi mobil. Darto dan Raniwe segera masuk ke dalam, lalu kendaraan roda empat itu melaju meninggalkan rumah.
"Anchil, kamu tidak usah sedih. Masih ada aku di sini." Sagi menepuk pundaknya.
"Iya Sagi, biasa ajalah. Dulu juga sering ditinggal sendiri." jawab Anchil.
”Hih, tumben mau menegur duluan. Biasanya juga menunggu aku yang menyapa.” batin Anchil.
__ADS_1
Anchil melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah. Setelah mengambil tas sekolah, dia keluar rumah lagi.
"Anchil, kita makan dulu yuk!" ajak Sagi.
"Ngapain si kamu, baik-baik sama aku." jawab Anchil.
"Lah, kita 'kan pasangan." ujar Sagi.
"Pasangan bo'ongan, bukan sungguhan." jawab Anchil.
"Anchil, kejadian waktu di acara bukan salahku. Amran yang memulai duluan." ucap Sagi.
"Terserah kamu deh, aku capek berdebat tau gak." jawab Anchil.
Seketika Gaga muncul, dengan membawa setangkai bunga. Tidak ada angin, tidak ada hujan, langsung saja membukakan bungkus coklat.
"Anchil, sekarang aku mengerti bahwa kamu tidak mencintainya. Izinkan aku untuk berada di sisimu, kembali mendampingi kamu." Gaga tersenyum penuh arti.
"Gaga, kamu tidak usah duduk berlutut seperti itu. Sungguh memalukan tau, banyak orang yang melihat." Anchil melirik ke orang-orang, yang melewati depan gerbang rumahnya.
"Aku tidak peduli dengan mereka, aku cuma peduli dengan jawaban kamu." ujar Gaga.
__ADS_1
"Jawabanku adalah tidak, aku tidak akan balikan." jawab Anchil.