Dendam Salah Sasaran

Dendam Salah Sasaran
Berdua Saja


__ADS_3

Anchil melajukan mobilnya, setelah Sagi masuk ke dalam juga. Gaga mengejar mobil Anchil, yang sudah melesat dengan kencang. Tak berselang lama, Anchil sudah sampai di sekolah.


"Hai Anchil!" sapa Keke.


"Hai juga." jawab Anchil.


"Kok wajahmu lesu begitu, kamu kenapa?" tanya Keke.


"Aku gak apa-apa." jawab Anchil.


Keke dan Anchil melangkahkan kaki, hampir secara bersamaan. Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka sudah di kelas.


"Keke, kamu mau menginap di rumahku tidak? Mama dan Papaku sedang tidak ada di rumah." Anchil memberi penawaran.


Keke menggaruk kepalanya, yang tidak gatal. "Haduh, bukannya gak mau Anchil. Aku lagi ada acara keluarga."


"Oh iya, gak apa-apa kok." ujar Anchil.


"Malam besoknya lagi bagaimana? Aku gak akan ingkar kok." jawab Keke.


"Baiklah, itu hak kamu untuk memilih." ucap Anchil.


"Iya sahabatku." jawab Keke.

__ADS_1


Malam hari yang gelap, akhirnya datang bertamu. Menyapa dunia yang leluasa, dengan bunyi suara makhluk hidup. Anchil memasak sendiri di rumah, dan Sagi membantu perempuan tersebut.


"Kamu tunggu saja di ruang makan, kenapa ikut-ikutan ke dapur." ucap Anchil.


"Karena aku melihat, kamu sangat kesusahan." jawab Sagi.


"Aku sudah biasa melakukannya sendiri." ujar Anchil.


"Kalau gitu, rubahlah kebiasaan menjadi berdua." jawab Sagi.


Anchil tersenyum sipu, sambil mengaduk adonan tepung dengan sendok. Kini dia memasukkan ceker crispy, ke dalam minyak penggorengan. Suara gemuruh terdengar dari kuali, karena minyak telah mendidih.


"Biar aku yang menggiling cabainya di cobek iya." ujar Sagi.


"Heheh... blender ada kok, kenapa tidak dimanfaatkan." jawab Anchil.


"Oh oke." jawab Anchil.


Beberapa menit kemudian, Anchil sudah mematikan kompor gas. Dia berjalan mendekat ke arah Sagi, untuk melihat hasil gilingannya.


"Wow, bagaimana mungkin bisa selembut ini." Anchil berdecak kagum, sambil menunjuk cabai merah.


"Ini adalah kebiasaan memasak Ibu, jadi aku bisa meniru. Aku sangat menyukai teksturnya yang lembut." jawab Sagi.

__ADS_1


Sagi menghidupkan kompor gas, untuk memasak cabai merah tersebut. Dia sudah seperti bapak rumah tangga, tanpa memiliki istri. Sibuk mengoseng-ngoseng saat Anchil tinggalkan. Anchil pergi ke toilet, karena sudah tidak tahan lagi.


Makanan siap dihidangkan, dan disantap bersama. Anchil dan Sagi saling menuangkan lauk, untuk satu sama lain. Sudah seperti pasangan suami istri saja.


"Kamu jangan makan cekernya saja, tapi makan sayur jagung juga." ujar Sagi.


Anchil memanyunkan bibirnya. "Sayangnya, aku kurang begitu suka sayur."


Sagi menuangkan sayur ke piring Anchil, membuatnya merasa kesal. Anchil beranjak dari duduknya, dan menuang sambal satu sendok penuh ke piring Sagi.


"Kamu tuh kalau balas dendam jangan tanggung." ucap Anchil.


"Apanya yang tanggung, hal itu sudah aku hentikan. Aku sudah mengetahui, bahwa kamu tidak bersalah. Ada yang sengaja merekayasa, kejadian hari itu." jawab Sagi.


"Maksudnya, kamu sudah menemukan pelaku yang menabrak Ibumu?" tanya Anchil, ingin tahu.


"Iya, aku telah menemukannya." jawab Sagi.


"Siapa yang tega melakukan hal tersebut?" tanyanya lagi.


"Sepertinya, kamu ingin tahu tentang almarhum mertuamu." Sagi tersenyum mengembang.


"Itupun, kalau kamu bersedia memberitahu. Kalau gak mau, juga gak apa-apa." Anchil melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


"Ibuku meninggal karena selingkuhan Ayah, menyuruh Pak RT menabrak Ibuku." jawab Sagi.


Sagi tertunduk sedih, mengingat kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya. Anchil mengusap-usap punggung laki-laki tersebut.


__ADS_2