Dendam Salah Sasaran

Dendam Salah Sasaran
Dansa Part 2


__ADS_3

Anchil menari dengan penghayatan dan pikirannya berusaha fokus, setelah menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya.


"Cepat pegang tanganku, biar aku latih menari." titah Anchil ketus.


"Nah gitu dong, jangan membuatku kesal." Sagi memegang tangan Anchil.


”Anchil cantik juga, kalau dilihat dari dekat. Hih, ingat tujuan awal kamu.” batin Sagi.


Sagi dan Anchil berdansa, hingga Sagi terinjak kaki Anchil. Gadis itu meringis kesakitan, saat jari-jarinya terinjak.


"Aduh sakit sekali!" keluh Anchil.


"Aku tidak sengaja." jawab Sagi.


"Maka dari itu, kamu sekalian injak kakiku dari awal. Daripada menginjak saat aku bergerak, rasanya tuh ketarik tau." gerutu Anchil.


"Iya iya bawel." jawab Sagi.


Sagi memegang pinggang ramping Anchil, lalu mereka menari kembali. Gerakan kali ini lebih lancar, karena Sagi begitu menghayatinya.


"Sudah mulai paham belum?" tanya Anchil.


"Iya, sudah agak lumayan." jawab Sagi.


"Praktik sendiri, tunggu apalagi." ujar Anchil, masih dengan nada ketus.


"Iya, iya, siapa juga yang selalu ingin mengandalkan mu." jawab Sagi.


Sagi menurunkan telapak kakinya dari telapak kaki Anchil, hingga kakinya menyentuh ke lantai. Sagi bergerak ke kanan dan kiri, dengan gerakan yang lebih gesit. Anchil tanpa terasa tersenyum, karena berhasil mengajarinya.


"Aku bisa yeay, terima kasih Anchil." Sagi melompat kegirangan, lalu memeluknya.


"Harus iya, terima kasih sampai memeluk." jawab Anchil.

__ADS_1


Sagi melepaskan pelukannya. "Kamu gak usah kepedean dulu. Aku tadi terlalu senang, jadi seperti ini."


"Oh, oke." Anchil tersenyum.


Keesokan harinya, Sagi dan Anchil pergi ke sekolah bersama. Sagi sudah menyiapkan paku, untuk mencoblos ban Anchil.


”Ini sudah cukup, untuk membalas dendam padamu. Nanti, aku pulang naik taksi aja.” batin Sagi.


Seseorang jalan didekat Sagi, dan tidak sengaja menabraknya. Air minum Sagi tertumpah pada bajunya, lalu perempuan itu mengelap menggunakan bajunya.


"Maaf iya!" ucap Sagi.


"Iya gak apa-apa." jawab Qishi.


Sagi melepaskan jaketnya. "Ini untuk kamu, pakailah untuk sementara."


"Terima kasih." jawab Qishi.


Rudit melihat meja Amran, yang dipenuhi kotak hadiah. Bahkan banyak sekali buket bunga, yang diletakkan di sana.


"Iya, tapi aku berharap Anchil salah satunya." jawab Amran.


"Mana ada Anchil, hanya ada orang lain." ucap Rudit.


"Iya, dia sungguh tega." jawab Amran.


Brak!


Anchil menggebrak meja. "Siapa yang membicarakan aku?"


"Aku yang membicarakan kamu." jawab Amran.


"Apa untungnya, kamu menghibah pagi-pagi?" tanya Anchil.

__ADS_1


"Bukan menghibah Anchil, aku berharap kamu beri hadiah untukku." jawab Amran.


Anchil membuka resleting tasnya, lalu memberikan dasi untuk Amran. Lalu pria itu menerimanya, sambil melemparkan senyuman manis.


"Terima kasih Anchil." ujar Amran.


"Jangan terima kasih padaku, itu adalah pemberian orang lain. Tapi, aku memberikannya juga padamu." jawab Anchil.


"Yah, aku kira memang kamu yang menyiapkannya." Amran cemberut.


"Gak usah banyak protes, bukankah kamu yang memintanya. Jadi terima aja, apapun yang aku beri ke kamu." jawab Anchil.


Anchil duduk di kursinya, lalu Keke menghampirinya. Keke meletakkan buku di atas meja, lalu melemparkannya tepat di depan Anchil.


"Eh Anchil, ada perlombaan sekolah antar kota lagi." ujar Keke.


"Baiklah, aku akan mengikuti kegiatan lomba tersebut." jawab Anchil.


"Semangat!" Keke mengangkat tangannya, di atas udara.


"Semangat!" Anchil juga mengangkat tangannya.


"Eh, kelas kita yang paling utama menang. Tahun ini, harus dapat juara lagi." ucap Keke.


"Benar tuh, kelas B gak ada apa-apanya." timpal Amran.


"Kamu boleh jadi pemenang, tapi gak boleh sombong. Gak usah meremehkan orang lain, mentang-mentang berada di atas." jawab Anchil.


"Maaf Anchil!" ucap Amran.


"Minta maaf sana sama kelas B." jawab Anchil.


"Ogah banget, tadi 'kan cuma bercanda." Amran nyengir, dalam rasa kesalnya.

__ADS_1


"Oh." jawab Anchil singkat.


__ADS_2