
Anchil memakan somay yang sempat dibelinya. Seketika, Sagi merampas tusuk lidi di tangan Anchil.
"Makan sendirian aja, gak tawar-menawar lagi." ujar Sagi.
"Aku kira kamu sudah kenyang." jawab Anchil.
"Kenyang makan angin gitu." ucap Sagi.
Anchil masih tetap cuek. "Siapa suruh untuk gak beli makanan. Persiapin kek, buat bekal dalam pesawat."
Keesokan harinya, Sagi dan Anchil sudah bangun. Mereka yang paling terlambat bangun, karena kecapekan baru pulang kemarin.
"Aduh, lelah sekali rasanya. Ingin aku digendong, oleh pangeran berkuda." Anchil menepuk mulutnya, yang masih mangap-mangap.
Gadis itu merasa hanya sedang bermimpi, lalu tertawa saat menghadap cermin. Dia menepuk-nepuk pipi sendiri, melihat bayangannya yang begitu nyata.
"Anchil, Anchil, mikir apa to kamu."
__ADS_1
Sagi mematikan sambungan teleponnya, setelah berbicara dengan orang suruhannya. Sagi sudah menemukan penyebab kecelakaan ibunya, karena ditabrak suami ibu RT. Sedangkan dalang dari semua hal, yakni selingkuhan ayahnya sendiri. Sagi baru menyadari, bahwa Anchil tidak bersalah.
"Hampir saja, aku membunuh Om Darto. Kurang ajar kamu perempuan sialan, sudah membunuh Ibu. Kamu yang menyuruh Pak RT, untuk menabrak Ibuku. Kamu juga yang sengaja menyuruh Ibu RT, memesan ayam saat itu. Kamu iblis yang tersesat di dunia, keluar dari lembah neraka. Aku akan mencari kamu, sampai ke ujung dunia." Sagi mengepalkan kedua tangannya.
Sagi keluar dari kamarnya, usai mengenakan baju santai. Hari itu mereka sudah mendapat izin, untuk tidak masuk ke sekolah.
"Sagi, Anchil, ingatlah nanti malam acara tunangan kalian." ucap Raniwe.
"Mama kelihatan tidak sabar, padahal kami juga masih sekolah." jawab Anchil.
"Kamu gak boleh terpaksa, harusnya kamu ikut senang." ujar Raniwe.
Anchil mengiris daging dengan pisau tipis, lalu menusuk daging dengan sendok garpu. Anchil memasukkan ke mulutnya, dan mengunyah tanpa ragu. Anchil merasa kelaparan, karena semalam tidak makan.
"Pelan-pelan sayang makannya, jangan takut dihabisi dengan yang lain." ujar Raniwe.
"Bukan takut dihabisi heheh... Perutku gak bisa diajak kompromi Ma." jawab Anchil, dengan terkekeh.
__ADS_1
"Kalian dapat juara berapa, dalam perlombaan antar kota?" tanya Raniwe penasaran.
"Dapat juara satu Ma." jawab Anchil.
"Pasti kalian senang di sana, sekalian jalan-jalan berdua." ucap Raniwe.
"Tidak juga Ma, kami malah sibuk mengulang pelajaran. Lagipula, di sana aku bertemu dengan Gaga." Anchil menjawab, dengan raut wajah lesu.
"Oh, pria yang telah meninggalkan kamu itu. Dia belajar manajemen, lalu tidak memberi kabar padamu. Membuatmu menangis semalaman, setelah memberikan harapan palsu. Padahal dulu Mama menganggapnya, seperti anak sendiri. Setiap pulang sekolah, pasti dia datang ke rumah." jawab Raniwe, dengan sedikit ketus.
"Mama tidak perlu mengingatnya terus, semuanya sudah berlalu juga." ujar Anchil.
"Iya sudah berlalu, tapi dia tetap hidup di hati kamu. Mama tahu, kamu masih menyukainya. Raut wajahmu langsung tidak bersemangat, saat membicarakan dia." jawab Raniwe.
"Tidak perlu sedih Anchil, membuka lembaran baru jauh lebih baik." sahut Sagi.
"Maksudnya, kamu menyuruh aku buka hati buat orang lain gitu." jawab Anchil.
__ADS_1
”Tumben baik dan peduli padaku, biasanya hanya diam saja. Seolah kamu suka, kalau aku mati sengsara. Tidak tahu disambet apa dia, bisa menganggap aku keluarga. Hih dia hanya menasehati, bukan benar-benar menganggap aku saudaranya.” batin Anchil bergumam.