Dendam Salah Sasaran

Dendam Salah Sasaran
Menyelinap Diam-Diam


__ADS_3

Sagi dan Anchil beranjak dari posisinya, secara bersamaan. Mata mereka bertatapan sebentar, sampai akhirnya berpaling. Keduanya menoleh ke arah pintu, karena terdengar ketukan dari luar.


"Anchil, kenapa kamu berteriak?" tanya Raniwe.


"Hanya mimpi kok Ma." jawab Anchil.


"Apa boleh Mama masuk ke dalam, untuk memastikan keadaan kamu." ucap Raniwe.


"Iya Ma, silahkan." Anchil segera menutup selimut, hingga tubuh Sagi tidak terlihat.


Raniwe melihat selimut, yang tampak mengembung. Dia terus menatapnya, sambil berjalan mendekat.


"Apa itu di balik selimut?" tanya Raniwe.


"Itu hanya selimut menutupi bantal Ma." jawab Anchil.


Raniwe hanya manggut-manggut, sedangkan Anchil cemas tak terkira. Tubuhnya sekarang sudah panas dingin, bagaikan orang yang akan tampil di panggung saja.


"Kalau gitu, Mama kembali ke kamar." ujar Raniwe.


Anchil tersenyum lega. "Iya Ma, dengan senang hati."

__ADS_1


"Kok hati kamu senang?" canda Raniwe.


"Karena aku mengantuk Ma." Anchil menguap, sambil menutupi mulutnya.


Raniwe manggut-manggut, lalu keluar kamar. Hanya tersisa Anchil dan Sagi, yang langsung beranjak dari posisi masing-masing.


"Kamu tidak mungkin, melihat tikus. Pasti kamu mau macam-macam 'kan." Anchil memukul lengannya.


"Terserah kamu deh Anchil, yang jelas aku tidak ada maksud apapun." jawab Sagi.


Sagi segera melangkahkan kakinya, keluar dari kamar Anchil. Lalu gadis tersebut tidur kembali, karena matanya masih terasa berat. Ingin segera terpejam lagi, agar tertidur pulas.


Keesokan harinya, Anchil dan Sagi berangkat bersama. Keduanya telah usai sarapan pagi, karena sudah peraturan rumah Anchil seperti itu.


"Karena Mama ingin kita pergi bersama. Kamu dan aku sama-sama anaknya." jawab Anchil.


"Aku hanya anak angkatnya." ujar Sagi.


"Intinya, kamu tetap anaknya. Mau anak angkat kek, anak kandung kek, anak tiri kek, semuanya sama aja." jawab Anchil.


Anchil masih fokus menyetir mobil, sedangkan Sagi memperhatikan pohon yang berlarian seiring laju kendaraannya. Beberapa menit kemudian, keduanya sudah sampai.

__ADS_1


”Hih, aku gak paham dengan gerak tari-tarian. Kenapa hari ini, harus ada pelajaran tersebut.” batinnya.


Amran, Rudit, dan Keke menghampiri Anchil. Mereka dari tadi sudah menunggu, namun Anchil tidak datang juga.


"Kenapa kamu lambat, datang ke sekolah tidak sepagi biasanya." ujar Amran.


"Aku menunggu Sagi." jawab Anchil.


"Itu pelayan kok santai banget, dia tidak sadar diri. Sudah tahu menumpang, masih saja bersiap kayak keong." ejek Rudit.


"Sudahlah, jangan diperpanjang. Aku juga gak apa-apa kok." jawab Anchil.


Mereka melangkahkan kaki menuju kelas, karena pelajaran IPA akan segera dimulai. Ternyata benar saja, saat Anchil masuk kelas bersamaan dengan pak Husan.


"Anak-anak, hari ini kita akan belajar mengenai tumbuhan vegetatif." ujar Husan.


"Iya Pak." jawab semuanya.


Mereka membuka buku masing-masing, dan mulai menulis satu persatu soal yang ada pada papan tulis. Anchil yang paling selesai duluan, sehingga sudah boleh keluar kelas.


"Aku lebih baik ke kantin sebentar, sambil menunggu mereka keluar kelas. Rasanya tenggorokan ini kering, butuh air untuk membasahi kerongkongan." monolog Anchil.

__ADS_1


Saat sedang berjalan, Anchil melihat Sagi mengobrol dengan seorang perempuan. Namun, Anchil kurang begitu familiar. Hanya sedikit yang dia tahu, bahwa anak itu pendiam dan juga jarang keluar kelas. Ada urusan apa mereka, pikir Anchil.


__ADS_2