
Pada saat pulang sekolah, Anchil memperhatikan sekeliling. Dia mencari Sagi, namun tidak menemukannya. Hingga pria itu berdiri di belakangnya, lalu berhasil mengejutkan Anchil.
Duar!
"Sagi, kamu kemana aja si. Dari tadi dicariin gak tahu rimbanya. Ayo pulang sekarang, nanti aku tinggal." ujar Anchil.
"Tinggal aja, aku masih ada urusan." jawab Sagi.
"Oh gitu iya, aku pergi dulu." ucap Anchil.
"Silahkan." Sagi tersenyum jahat.
Anchil melangkahkan kakinya, ke arah parkiran. Dia segera masuk ke dalam mobil, lalu menghidupkan mesinnya. Anchil asyik mendengarkan musik, namun tiba-tiba mobil itu terasa aneh. Laju bannya sangat lambat, padahal kekuatannya normal.
”Apa mobil ini kempes iya, kok gak enak pembawaannya.” batin Anchil.
Anchil membuka pintu mobilnya, lalu keluar dari sana. Dia memeriksa ban kendaraannya, yang ternyata kehabisan angin. Anchil melihat sekitarnya, yang tidak ada bengkel. Anchil membuka tas, lalu mengambil ponselnya.
"Kelihatannya sinyal juga tidak ada, karena di sini mati lampu. Hah, bagaimana mau menghubungi supir pribadi di rumah." Anchil berkeluh kesah sendiri.
Dengan sangat terpaksa, memilih menyinggahi taksi. Tanpa diduga, mobil taksi malah mengebut. Hal tersebut terus berulang, sampai beberapa kali.
"Loh, kok mobilnya aneh banget. Tumben mereka menolak penumpang, itu artinya menolak uang. kalau sudah menolak uang, artinya menolak rezeki." Anchil bergumam-gumam.
Sagi sudah sampai rumah duluan, dan Raniwe segera menghampirinya. Dia masih menoleh ke belakang Sagi, berharap ada Anchil juga.
__ADS_1
"Sagi, kemana Anchil?" tanya Raniwe.
"Aku gak tahu Ma, dari tadi dia tidak terlihat." jawab Sagi.
"Bukankah, harusnya pulang bersama?" ujar Raniwe.
"Aku kira, Anchil sudah sampai duluan." jawab Sagi.
"Hah, anak itu benar-benar iya. Jangan-jangan, dia bermain ke rumah Keke." Raniwe menduga-duga saja.
"Bisa jadi tuh Ma." jawab Sagi.
"Bukannya pulang dan izin dulu, malah pergi tanpa mengatakan apapun." gerutu Raniwe.
"Benar tuh Ma." Sagi sengaja menyudutkannya.
"Banyak alasan." jawab Sagi.
"Anchil, kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Raniwe.
"Tidak apa-apa kok Ma." jawabnya.
"Sekarang, cepat ganti baju sana." titah Raniwe.
"Iya Ma." jawab Anchil pelan.
__ADS_1
Anchil dan Sagi melangkahkan kaki, menuju ke ruang kamar masing-masing. Mereka membersihkan tubuh, yang terasa pekat keringat.
Setelah selesai mandi, Anchil melihat panggilan video dari Keke. Dia segera menggeser menu berwarna hijau, untuk menerima panggilan darinya.
"Hai Anchil, kamu lagi ngapain?" tanya Keke.
"Lagi duduk aja, di dalam kamar." jawab Anchil.
"Apa cuma sendiri, tidak ada manusia lain." Keke berucap, dengan sorot mata menggodanya.
"Tidak ada, memangnya siapa lagi selain aku." jawab Anchil.
"Siapa tahu orang asing, yang tak dapat disebut wanita." ujar Keke.
"Papaku jarang masuk, ke kamar putrinya. Atau jangan-jangan, yang kamu maksud Sagi. Dia 'kan orang asing, yang tak dapat disebut wanita." jawab Anchil.
"Bukan dia kali, yang aku maksud adalah yang lainnya." ucap Keke.
"Oh gitu." jawab Anchil.
"Kamu sudah makan?" tanya Keke.
"Belum, aku keluar dulu iya. Aku mau ke ruang makan." jawab Anchil.
"Yaelah, baru ingat dengan makan." ujar Keke.
__ADS_1
"Ingat dari tadi si, cuma aku gak sempat aja." jawab Anchil.