
Sagi turun dari mobil, lalu berjalan menuju ke kelasnya. Sedangkan Anchil juga, berjalan menuju ke kelasnya sendiri. Suasana kelas A sangatlah berisik, mereka sedang membahas kegiatan tahunan.
"Eh ada apa, kok kelas seperti pasar?" tanya Anchil, pada Keke.
"Kamu tahu gak, kegiatan tahunan kali ini, adalah menampilkan seni teater. Selaku ketua OSIS, kamu harus menyiapkan yang terbaik." jawab Keke.
"Iya, tidak masalah. Selagi tidak mengganggu fokus belajar, aku masih bisa mempertimbangkan." ujar Anchil.
"Is very god." Keke menggoyangkan jari jempol, secara bergantian.
Pak Hu Din masuk ke kelas Anchil, selaku wali kelas dan guru matematika. Dia kini duduk, memperhatikan semua muridnya.
"Anak-anak, kalian semua sudah tahu 'kan ada info penting. Sekolah kita akan mengadakan kegiatan tahunan, yaitu pementasan seni teater." ucapnya.
"Iya Pak Hu, namun harus memilih beberapa pemeran yang tepat. Jangan seperti tahun lalu, malah memilih pemeran yang gemulai. Tidak sesuai dengan karakter tokoh, yang ada pada cerita sebenarnya." jawab Rudit.
"Iya Pak, kalau bisa aku yang jadi pangerannya. Lalu, Pak Hu pilih Anchil sebagai tuan putri." timpal Amran.
__ADS_1
Terdengar suara renyah, dari teman-teman sekelasnya. Amran memang paling heboh di kelas itu, begitupun dengan Rudit juga.
"Mana bisa begitu Amran, memangnya kamu sutradara film. Kamu bukanlah pengaturnya, tidak bisa menentukan. Apalagi manajemen pendidikan akan datang ke sekolah, jadi harus yang benar-benar berbakat." jawab Hu Din.
"Pak Hu, tidak bisakah meminta penawaran." ujar Amran, tampak mengemis.
"Fokuslah, untuk belajar yang benar Amran. Jangan banyak meminta ini dan itu, patuh iya anak pintar." rayu Hu Din.
Saat jam istirahat tiba, semua siswa dan siswi disuruh berkumpul. Pak Hu Din selaku pembicara akan menyampaikan beberapa hal, terkait dengan kegiatan tahunan sekolah.
"Anak-anak, kali ini akan dipilih pemeran pementasan teater. Ini berdasarkan dengan nomor urut, yang didapat dari nomor undian." ujar Hu Din.
Mereka semua mengambil nomor secara bergantian. Sampai tiba saatnya, untuk Amran. Dia memejamkan mata, sesekali membuka lagi.
"Ayo semuanya, tunjukkan nomor yang kalian dapatkan." titah Hu Din.
"Baik Pak." Semuanya mengangkat kertas undian.
__ADS_1
"Baiklah, kali ini pemeran utama pria diperankan oleh Amran. Pemeran utama wanita diraih oleh Anchil. Pemeran pendamping pria diraih oleh Sagi. Pemeran pendamping perempuan, diraih oleh Keke." jelas Hu Din.
"Iya Pak." jawab semuanya bersemangat.
Plok! Plok!
Terdengar suara tepuk tangan riuh nan heboh, dari semua orang yang ada di lapangan. Anchil malah merasa, dia tidak ingin dengan Amran. Terkadang, matanya melirik ke arah Sagi.
Pelajaran matematika dimulai, setelah membicarakan tentang kegiatan tahunan. Semua siswa dan siswi, fokus ke arah papan tulis.
Pada malam harinya, Sagi menyelinap ke kamar Anchil. Saat semua orang tidur, dia berniat mencuri buku tari miliknya.
"Kalau gak karena nilai, aku gak akan mau melakukan ini." gerutu Sagi, dengan lirih.
Tangan kanan Sagi telah berhasil, meraih buku di atas nakas. Namun tiba-tiba Anchil bergerak, dan mengagetkan dirinya. Buku cetak tersebut jatuh, lalu Anchil terkejut. Dia membuka kedua bola mata, lalu ingin menjerit. Sagi segera menutup mulutnya, supaya dia tidak berteriak.
"Kamu kenapa masuk ke sini?" tanya Anchil.
__ADS_1
"Aku, aku tadi melihat tikus besar. Lalu, aku sengaja untuk mengejarnya." jawab Sagi.