Dendam Salah Sasaran

Dendam Salah Sasaran
Lem Perekat


__ADS_3

Anchil mencatat materi, yang diterangkan oleh ibu Ana. Begitu pun dengan yang lainnya, tak terkecuali Amran. Matanya fokus melihat ke arah Anchil.


”Setiap hari aku bersamamu, tapi tidak merasa bosan sama sekali.” batin Amran.


Sagi terlihat kecil di sana, tidak ada yang mau berteman dengannya. Harap maklum, dia pindahan dari sekolah lamanya. Setelah sempat berhenti, karena terhalang biaya.


"Aku harus sekolah dengan sebaik-baiknya, supaya tidak mengecewakan Ibu." monolog Sagi.


Ting! Ting!


Tanpa terasa jam istirahat tiba, Anchil keluar dari kelasnya. Dia tidak sengaja, berpapasan dengan Sagi. Anchil segera melengos saja, karena tidak peduli pada Sagi.


"Eh Anchil, kita ke kantin yuk." ajak Keke.


"Kamu ajak Amran saja." Anchil menggoyangkan tubuhnya, sambil menahan tawa.


"Hih, mana bisa begitu. Dia maunya sama kamu doang." ucap Keke.


"Pasti mau, bilang aja aku yang suruh." jawab Anchil.


Keke mendekati Amran, lalu mengajaknya ke kantin. Amran yang belum menjawab, sudah ditarik langsung oleh Keke. Anchil hanya tersenyum sendiri, ketika menyaksikan tingkah mereka.


Sagi melangkahkan kakinya dengan perlahan, hendak mengerjai si Anchil. Dendam di hatinya masih membara, untuk membuatnya giliran dipermalukan. Sagi memasuki kelas diam-diam, lalu meletakkan lem pelekat pada kursinya.

__ADS_1


”Mampus kamu Anchil, biar tahu rasa. Bagaimana bila semua orang melihat dirimu, yang dipermalukan dengan rok sobek.” batin Sagi berbicara.


Beberapa jam kemudian, murid SMA 09 sudah boleh pulang. Waktu belajar telah usai, sedangkan Anchil tidak keluar kelas. Keke berusaha membantunya, karena melihat Sagi menunggu di luar.


"Ini tuh lekat banget Anchil, aku gak bisa melepasnya." ujar Keke.


"Sepertinya ada yang sengaja melakukan ini." jawab Anchil.


"Iya kamu benar, padahal mana ada yang berani sama kamu. Secara ketua OSIS, masak ditindas. Mana statusmu perempuan terpopuler, dengan pemilik saham terbesar. Orangtua kaya raya, cabang perusahaan dimana-mana." Keke mengoceh kemana-mana.


"Kamu kenapa jadi ngelantur gitu, ini tuh tidak berhubungan dengan yang kamu maksud." jawab Anchil.


Keke menarik paksa Anchil, dan berhasil lepas. Namun roknya malah sobek besar, sungguh malu Anchil mau keluar kelas.


"Iya, cepat sana." jawab Anchil.


Keke segera berlari ke arah luar, dan melihat hanya ada Sagi saja.


"Sagi, pinjam jaket dong buat nona Anchil." ucap Keke.


"Itu bukan tugasku, aku tunggu di mobil." Sagi melambaikan tangannya, sambil berjalan mengacuhkan Keke.


Keke mengayunkan tangannya ke arah Anchil, menyuruh dia segera keluar kelas. Anchil merasa lega, karena siswa dan siswi sepi.

__ADS_1


"Kamu sepertinya harus menghukum pelayan kurang ajar itu." ujar Keke.


"Biarin aja, dia juga temanku." jawab Anchil.


"Kok kamu bilang begitu, bukankah dia itu pelayan." ucap Keke.


"Kamu juga bisa anggap dua-duanya." jawab Anchil.


”Wow, ternyata status Sagi adalah teman sekaligus pelayan di rumah kamu.” batin Keke.


Keesokan harinya, Sagi mengunci Anchil dalam toilet. Keke sedang mengerjakan pekerjaan rumah di sekolah, sambil meladeni para penggemarnya di sosial media.


"Aduh, aku sampai lupa tugas pelajar karena mikir cara untuk tampil cantik." monolognya.


Keke sudah celingak-celinguk, tapi tetap tidak melihat Anchil masuk ke dalam kelas. Anchil sibuk menggerakkan gagang pintu, karena tidak dapat dibuka.


"Hih, siapa si yang mengunci pintu dari luar." Anchil emosi, sampai menendang-nendang pintu.


Pada pukul 08.30. pelajaran dimulai, lalu Anchil menghirup udara segar. Masih terasa sesak, karena terkunci lama dalam toilet. Setelah beberapa menit kemudian, guru menyuruh mengumpulkan tugas.


"Anak-anak, kumpulkan tugas latihannya di depan ya." ujar Husan.


"Iya Pak." jawab semuanya.

__ADS_1


__ADS_2