
15 Tahun Kemudian...
Terlihat seorang remaja perempuan sedang berlari dengan nafas terengah-engah. Tepat di belakang remaja perempuan itu tiga orang remaja laki-laki meneriaki namanya.
"Xena bermainlah denganku sebentar" Salah satu remaja laki-laki berambut pirang meneriakinya.
"Jangan mau dengan dia lebih baik bersama denganku" Ucap remaja laki-laki yang berkepala botak.
"Hei botak,jangan mimpi kau bisa bersama dengan Xenaku yang cantik." Kata remaja laki-laki berbadan gemuk.
Xena tidak memperdulikan mereka. Ia terus berlari berharap para remaja yang mengodanya berhenti mengejar dirinya.
Saat berlari kaki Xena tersandung sebuah batu yang lumayan besar sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan.
Bruuuk...
Tubuh Xena tertahan oleh tubuh seorang remaja laki-laki sehingga membuatnya tidak terjatuh. Mereka saling beradu pandang.
'Cantik sekali gadis ini' Gumam arka. Jantung Arka berdegup kencang karena dapat memeluk gadis secantik Xena.
"Hei beraninya kau mengoda pacarku!" Teriak remaja berkepala botak yang mengejar Xena. Membuat Arka tersadar dari lamunannya
"Pacarmu?" Tanya Arka kepada remaja itu.
"Bukan,Nona cantik itu adalah pacarku" Jawab remaja berambut pirang.
"Hei. Kalian berdua jangan mengaku-ngaku. Dia adalah pacarku" Kata remaja berbadan gemuk.
"Nona,apakah salah satu dari mereka adalah pacarmu?" Arka bertanya pada Xena. Ia tidak peduli pada remaja yang sedang merebutkan Xena.
"Ti...tidak mereka berbohong. Aku bukan pacar mereka." Xena terbata-bata karena takut Arka sama seperti remaja laki-laki yang mengejarnya.
__ADS_1
"Tenang saja nona aku tidak seperti mereka." Arka menggenggam lembut tangan Xena. Ia mencoba memberi ketenangan kepada Xena.
"Hei kau tidak dengar ucapanku. Jangan menggoda pacarku." Remaja laki-laki yang berkepala botak merasa geram karena perkataannya tidak digubris oleh Arka.
"Apakah kalian tuli?. Nona ini tidak sudi menjadi pacar kalian,jadi buat apa kalian masih di sini?." Arka mengusir para remaja laki-laki itu.
"Beraninya kau!" Remaja berambut pirang maju menyerang Arka disusul dengan kedua remaja laki-laki lainnya.
Arka melompat ke samping untuk menghidari serangan dari mereka bertiga. Ketiga remaja itu terus menyerang Arka tanpa henti,tetapi Arka hanya menghidar.
"Kenapa kau hanya menghidar?. Kau takut dengan kami?!." Tanya remaja berambut pirang dengan nada tinggi karena merasa dirinya telah di permainkan oleh Arka.
"Takut dengan kalian?" Arka kembali bertanya seakan-akan meremehkan ketiga remaja laki-laki itu.
"Kalo kau memang tidak takut dengan kami. Jangan hanya menghidar. Lawan kami!" Remaja berkepala botak kesal dengan Arka yang telah menganggap remeh dirinya.
"Baiklah jika itu yang kalian mau. Kali ini aku akan serius." Ucap Arka dingin. Ia mengeluarkan aura pembunuh yang sangat besar sehingga membuat ketiga remaja laki-laki itu jatuh terduduk dihadapan Arka karena tertekan oleh aura pembunuh milik Arka.
Arka baru sadar tentang keadaan Xena. Ia lupa jika Xena juga berada di dekatnya sudah pasti Xena tertekan oleh aura pembunuh miliknya.
"Nona apakah kau baik-baik saja" Tanya arka mengkhwatikan kondisa xena.
"Aku tidak apa-apa,terimakasih telah membantuku" Xena tersenyum pada Arka,membuat jantung Arka serasa ingin lompat.
"Eh iya sama-sama" Arka menjadi salah tingkah.
"Apakah tuan tidak apa-apa?" Xena bertanya karena melihat tingkah aneh dari Arka.
"Tidak aku tidak apa-apa" Jawab Arka. Ia mencoba menetralisir degupan jantungnya.
"Aku harus pergi sekarang" Xena mengakhiri semuanya. Ia sangat tergesa-gesa sampai sapu tangannya terjatuh.
__ADS_1
"Nona sapu tanganmu tejatuh" Arka meneriaki Xena berhapa perempuan itu dapat mendengarnya.
Tapi Xena tidak mendengarnya,Arka memutuskan untuk menyimpan sapu tangan itu dengan harapan dia dapat bertemu dengan xena kembali.
***
"Maaf kakek aku terlambat" Ucap Xena dengan nafas terengah-engah dan keringat bercucuran di pelipisnya.
"Ada Apa denganmu? Mengapa kau terlihat seperti habis di kejar setan? Apa ada yang menyerangmu?" Pria tua itu menghujani Xena dengan berbagai pertanyaan.
"Aku tidak apa-apa kakek" Jawab Xena dengan senyum yang mekar di wajahnya.
"Lalu kenapa kau sampai seperti itu cucuku?" Aman bertanya kembali kepada Xena cucunya.
Xena menceritakan kronologinya dari awal ia dikejar oleh tiga remaja nakal sampai bertemu dengan remaja laki-laki yang baik dan mau menolongnya. Aman hanya ber-oh ria.
"Tapi kenapa kau malah lari. Bukankah kau sanggup menghadapi tiga remaja nakal itu" Aman masih heran dengan kelakuan cucunya padahal sudah jelas kekuatannya lebih tinggi dibandingkan dengan tiga remaja itu.
"Bukankah kakek sendiri yang bilang jika kekuatan bukan untuk di pamerkan tetapi kekuatan harus digunakan untuk membela yang lemah" Ucap Xena.
"Tetapi jika kau dalam keadaan berbahaya kau boleh menggunakan kekuatan kau agar kau tidak mati" Aman menberitahu Xena agar tidak ceroboh lagi.
Xena hanya membalasnya dengan anggukan kecil ditambah dengan senyum yang sangat manis terukir di bibir xena
-------------------------------------------
Duh jadi deg-degan ni
saya berharap teman-teman suka
jangan lupa vote saya ya:)
__ADS_1