
Para raja dari kerajaan kecil yang Arka pilih untuk bergabung dengan kerajaannya dana menjadi kekaisaran telah setuju dan telah menanda tangani surat perjanjian yang telah dibuat jika salah satu dari mereka melanggar mereka akan dicabut jabatan sebagai seorang pemimpin dan dihukum mati.
Para raja tidak bisa melakukan apa-apa, jika mereka menolak Arka dan Harry akan menyerangnya. Bagi keduanya menyerang kerajaan kecil yang seperti dukedom itu mudah hanya saja Arka yakin pasti mereka akan bersatu dan itu jauh lebih sulit dari yang dibayangkan walau hasilnya tetap Arka yang menang karena bantuan dari para monster tapi pasti akan banyak korban jiwa yang berjatuhan dan itu dapat dimanfaatkan oleh kerajaan lain itu menjatuhkan dirinya.
Raja-raja dari kerajaan kecil juga berfikir akan berguna jika mereka bergabung dengan Arka dan Harry terlebih kerajaan Arka dan Harry merupakan kerajaan yang maju walau masih ditingkat tengah tapi Arka dan Harry bisa menghancurkan kerajaan angin yang merupakan kerajaan tingkat besar dan dengan mereka bergabung dengan Arka dan Harry mendapat pelindungan sehingga tidak mudah ditekan oleh kerajaan tingkat menengah lainnya.
Warga kota telah berkumpul dihalaman istana menunggu pengumuman yang akan diberikan oleh Arka.
"Warga kota yang aku cintai, dengan ini aku mengganti nama kerajaan kabut menjadi kekaisaran sunrise, agar kekaisaran selalu memberikan harapan bagi penduduknya seperti matahari terbit yang selalu memberikan harapan kepada semua orang dan dengan ini juga aku sebagai Kaisar sunrise pertama mengizinkan seluruh ras untuk bermukim dan tinggal di seluruh wilayah kekaisaran" ucap Arka.
"Hidup kaisar Arka!"
"Hidup
"Hidup raja Harry!"
"Hidup
Suara tepuk tangan dan teriakan yang menagung-agungkan nama Arka dan Harry terdengar. Para penduduk telah mengetahui semua berita kerajaan dan mereka setuju dan mendukung rencana Arka.
"Bagaimana kau bisa membuat ribuan orang ini menagung-agungkan namamu?" tanya Harry
"Itu hanya pekerjaan mudah, orang bodoh sepertimu mana mungkin bisa seperti diriku" ejek Arka.
"Apa katamu?!" Harry memiting kepala Arka di ketiak miliknya.
Adegan itu terus berlanjut hingga mereka beruda terus beguling-guling. Sosok pemimpin dengan wibawanya hilang digantikan oleh anak kecil yang bertengkar karena memperebutkan permen.
Aliaska yang sudah lelah melihat tingkah kedua kakanya itu segera menghampiri mereka dengan tangan berada dipinggang, Arka dan Harry yang sedang sibuk berkelahi tidak menyadari ada bahaya yang datang ke arah mereka. Aliska dengan marah menarik telinga keduany hingga mereka berteriak kesakitan.
__ADS_1
"Aduh aduh, ampun ampun" ucap Harry memohon kepada Aliska.
"Aduh Aliska ini sakit, tolong lepaskan" ucap Arka dengan muka memelas.
Aliska yang mendengar permohonan dari kakak-kakaknya segera melepaskan telinga Arka dan Harry yang telah memerah akibat ditarik olehnya.
"Jika kakak berkelahi lagi, aku tidak akan mengampuni kalian" omel Aliska kepada kedua kakaknya itu.
"Baiklah, kami berjanji tidak akan mengulanginya" ucap Harry mengelus telinganya yang sakit.
"Benar kami berjanji" balas Arka menyetujui perkataan Harry.
"Mengapa orang dewasa selalu merepotkan" gerutu Aliska sembari berjalan.
Aris dan Zin terkekeh melihat kakak mereka yang habis diomelin oleh Aliska, itu membuat Aliska menatap ke arah mereka dengan tajam. Segera mereka berdua melihat ke arah lain, sementara raja dan ratu dari 8 kerajaan bingung melihat Arka dan Harry yang langsung tunduk kepada gadis kecil. Bagi yang sudah mempunyai seoarng putri memandang kasian ke arah Arka dan Harry karena mereka pernah mengalami hal yang sama.
...---------...
Peningkatan itu tentu dapat dirasakan oleh Xena, ia merasa lebih kuat dari sebelumnya meski hanya bertambah sedikit tapi itu mampu membuatnya semakin semangat.
"Aku tidak sangka kau dapat menempuh jarak 100 meter hanya dalam hitungan hari, kau memang muridku yang berbakat." ucap Rain.
"Aku bisa seperti ini karena dirimu, guru" sahut Xena dengan senyum manisnya.
"Aku yakin hanya dengan beberapa tahun kau akan bisa melampaui kedua temanmu, itupun jika semangatmu yang sekarang tidak pudar. Kau harus ingat mereka juga berlatih dengan giat jika kau bersantai-santai kau tidak akan bisa sejajar dengan mereka" ucap Rain menasihati Xena.
"Aku baru menyadari kau datang sendirian, dimana guru Lily dan guru Izzy? Sejak tadi pagi aku tidak melihatnya" tanya Xena yang penasaran kemana pergi kedua gurunya itu.
"Mereka sedang mengunjungi keluarga mereka masing-masing" jawab Rain.
__ADS_1
"Apakah aku boleh mengunjungi keluargaku?" tanya Xena penuh harap.
"Tentu saja boleh tapi tidak sekarang, kau akam mengunjungi mereka ketika sudah cukup kuat. Jadi tetaplah berusaha dengan keras agar bisa bertemu dengan keluargamu" ucap Rain dengan perasaan tidak enak hati karena itu pasti membuat Xena kecewa tapi yang Rain lakukan demi Xena, agar kosentrasi Xena tidak terganggu.
"Baiklah" ucap Xena dengan nada sedikit kecewa.
"Tidak perlu kecewa seperti itu, ini untukmu karena kau telah giat beelatih selama ini" ucap Rain sembari menyerahkan pedang dengan gagang berwarna putih ditengah gagang terdapat ukiran terkorak sedangkan bilah pedang itu berwarna hitam legam dengan ukiran huruf kuno yang tidak bisa dimengerti.
"Sebuah pedang?" tanya Xena melihat pedang itu.
"Ya, ini adalah pedang murasame, pedang yang telah mengambil ratusan ribuan nyawa. Pedang ini memiliki jiwanya sendiri jika kau tidak bisa mengendalikan jiwa dari pedang ini maka kau akan dilahap olehnya secara perlahan-lahan" ucap Rain.
"Apa kau yakin aku sanggup menggunakan pedang murasame ini, guru?" tanya Xena bergidik ngeri ketika mendengar penjelasaan dari Rain, dirinya dapat membayangkan sangat berbahayanya pedang murasame itu.
"Aku sangat yakin kau sanggup menggunakan pedang ini dan mengendalikan jiwa yang ada didalamnya" balas Rain dengan senyum tulus.
"Baiklah, jika guru sudah yakin aku akan menerimanya" ucap Xena menghela nafas panjang dan membuang jauh-jauh pikiran jeleknya tentang pedang itu.
"Pedang ini juga selalu meminta darah dan kau akan terus terlibat dalam pertempuran besar jika bersama pedang ini. Apa kau yakin akn menerimanya?"
"Kenapa kau jadi ragu guru? Tadi kau yakin sekali aku mampu menggunakan pedang itu dengan baik" ucap Xena bingung dengan sikap Rain.
"Tidak ada keraguan dalam diriku, aku yakin kau bisa menggunakan pedang murasame lebih baik dariku. Tapi di dalam dirimu masih terdapat keraguan, aku tidak akan memaksamu jika kau tidak menginginkan pedang ini biar aku cari gantinya" jawab Rain
"Tidak guru, aku yakin aku mampu menggunakan pedang itu dengan baik seperti yang kau katakan" ucap Xena tanpa keraguan, meski ia tau pedang itu berbahaya tapi ia yakin pedang itu akan membuatnya lebih kuat lagi.
"Baiklah jika kau ingin pedang murasame ini ambil lah, aku titipkan pedang ini kepadamu. Jaga pedang ini baik-baik jangan sampai jatuh ke orang yang salah" ucap Rain menasehati sembari menyerakan pedang murasame kepada Xena.
"Aku berjanji akan menjaga pedang ini dengan sepenuh jiwaku" ucap Xena sembari mengambil pedang itu, pedang yang terlihat ringan itu ternyata berat ketika Xena memegangnya.
__ADS_1
"Kau harus menyesuaikan dirimu dengan pedang itu terlebih dahulu, jika kau sudah menyesuaikan aku akan mengajarkan jurus khusus pedang murasame" ucap Rain terkekeh melihat Xena yang kesulitan memegang pedang murasame miliknya.