
"Baiklah pak, saya tantang bapak untuk mengambil kacamata Nindy." Tantang karyawan ku yang bernama Anto.
"Apa? Oh.. yang lain saja." Ucapku.
"Bapak tidak perlu mengambilnya, aku akan membukanya dan berikan ke bapak." Sambung Nindy.
"Tidak usah, nggak asik. Ini kan tantangan Nindy." Ucap karyawan ku Mira.
"Ya sudah putar lagi botolnya." Ucap Anto karyawan ku
Lalu botol pun di putar, dan ujung nya menunjuk ke arah Nindy.
"Aku tantang Nindy untuk dandan." Ucap Hilda karyawan ku.
"Aduh saya gak bisa dandan." Ucap Nindy.
"Justru itu kami tantang kamu nin, aku penasaran kamu kalau dandan kayak apa." Ucap Fuad karyawan ku.
"Aku gak punya alat make up." Ujar Nindy lagi.
"Aku punya. Udah ayok.. aku temenin." Kata Hilda
Lalu Hilda membawa Nindy ke dalam dan mendandaninya, jujur aku juga penasaran kalau si culun dandan kayak apa.
Lalu tidak lama kemudian Hilda keluar.
"Semuanya, inilah dia Nindy si udik.." kata Hilda
Lalu Nindy pun keluar dengan menggunakan gaun dan melepas kacamatanya. Aku sontak terpesona melihatnya dan tidak percaya Nindy bisa juga secantik itu. Aku pun hanya duduk diam sambil memandang Nindy terus.
__ADS_1
"Wow, Nindy! Kamu cantik sekali.. aku jadi terpesona lihat kamu." Ucap Fuad sambil berjalan ke arahnya.
"Masa sih." Ucap Nindy malu malu sambil curi pandang ke aku.
Lalu Fuad merangkul Nindy, melihat itu aku jadi tidak senang rasanya.
"Ah, biasa saja, sudah Nindy ganti pakaian kamu itu dan hapus make up kamu... Semuanya ayo tidur lagi. Besok kita ke bandara...." Ucapku cetus.
Aku pun masuk ke dalam menuju ke kamar ku, sementara karyawan ku yang lain membereskan taman. Lalu Nindy juga ke kamarnya.
"Duh, aku kenapa sih. Gak seharusnya aku berkata seperti itu tadi..." Ucapku kesal
Aku juga bingung dengan sikap ku tadi, padahal memang Nindy cantik tadi sekali tadi.
*****
Keesokan harinya, kami pun berkemas dan bersiap untuk pergi ke bandara, namun Nindy hanya cuek kepadaku, aku berfikir pasti dia marah pada ku dengan kejadian kemarin malam.
*****
Pada akhirnya kami pun sampai, aku kaget karena Sherly datang menjemput ku, ya sebelumnya Sherly sudah aku beri tahu tentang keberangkatan ku. Aku pun senang dan memeluk Sherly yang datang menjemput.
"Hai sayang, aku gak tau kalau kamu mau jemput." Ujarku.
"Daripada kamu naik taksi, mending aku jemput kan." Balas Sherly.
"Nin, kamu pulang sama aku ya." Ucap Fuad.
"Tidak Nindy biar pulang sama saya dan Sherly." Sambung ku.
__ADS_1
"Saya pulang sama Fuad saja pak, lagian saya senang dekat dengan Fuad." Jawab Nindy.
Lalu Fuad dan Nindy pun pergi. Ntah kenapa aku jadi tidak senang. Lalu aku dan Sherly pun ke parkiran dan aku yang menyetir.
(Di dalam mobil)
"Sayang.." ucap Sherly.
"Hm. Kenapa?" Balasku dengan nada lembut.
"Kenapa tadi kamu tawari Nindy pulang bareng sama kita?" Tanya Sherly.
"Ya kita kan tau rumahnya, jadi apa salahnya." Jawabku.
"Ya kita kan gak searah sama dia, dan aku lihat kamu seperti gak suka kalau dia pulang sama orang lain." Tanya Sherly lagi.
"Gaklah. Biasa aja kok sayang.. eh tunggu dulu, cie... Kamu cemburu ya." Balas ku.
"Idih, siapa yang cemburu... Aku sama serketaris kamu beda jauh sayang..." Ucap Sherly
"Ya... Memang beda jauh sih, dia gak pandai dandan, kamu modis, dia pintar kamu juga pintar, dia bisa masak tapi kamu nggak bisa." Ucapku
"Loh kok jadi bandingi aku sama dia sih... Kamu tau dari mana dia bisa masak?" Tanya Sherly.
" Ya aku sering di masakkin sama dia dan masakannya enak banget." Ucapku yang baru sadar kalau aku keceplosan...
" Oh berarti dia udah berani deketin kamu ya.." balas Sherly kesal.
" Bukan gitu loh sayang... Tuh kan ujung ujungnya kita jadi ribut." Balas ku.
__ADS_1
"Ya sudah, aku bisa pahami. Yang penting kamu kan cintanya sama aku." Ujar Sherly
"Iya aku cintanya sama kamu sayang, dia itu serketaris aku gak lebih." Balasku sambil mencium tangan Sherly.