
Tidak lama kemudian aku pun pulang, dan pamit dengan Sherly. Aku sudah lega sudah bertemu dengan ibunya Sherly, karena dari awal aku juga memang mau serius dengan kekasihku.
Saat aku sampai di rumah, aku kaget ternyata ada adikku yang dari Australia, aku sangat bahagia dan langsung memeluk adikku anak kedua dari orang tuaku.
"Kapan kau datang? Kan nanti bisa ku jemput." Ucapku.
"No problem, brother! I am so happy can meet you again." Balas adikku.
Adikku yang anak kedua dari orang tuaku dia bernama Hans, dia tinggi tampan sepertiku namun rambutnya berwarna kecoklatan karena kelamaan tinggal di Australia.
Hans bekerja di perusahaan papa, ya sebenarnya yang di sini juga perusahaan papa, cuma cabang yang di Indonesia aku yang handle. Hans punya sifat yang lebih dewasa dari pada aku. Aku bisa di bilang lebih manja daripada Adikku, ya karena aku yang lebih dekat dengan mama.
******
"Aku sangat terkejut kau datang, apa mama ikut dengan mu?" Tanya ku pada Hans.
"No. Our Mom still in Australia... Aku di sini untuk bekerja, papa tidak menelepon mu?" Tanya Hans.
"Hp ku mati, memangnya ada apa?" Tanyaku lagi.
" Aku pindah tugas di sini. Ya aku sebagai wakil direktur tetap jadi bawahanmu." Jawab Hans.
__ADS_1
"Oh begitu, ya memang wakil direktur sudah ku pecat, ternyata kamu penggantinya." Ucapku.
"Kamar ku tidak di ubahkan?" Tanyanya dengan dingin.
"Iya tidak di ubah sama sekali, mama selalu membersihkan kamarmu." Jawab ku cetus.
Tanpa berkata apa apa lagi Hans pun langsung ke kamarnya, ya dia memang dingin orangnya, jika bicara pasti yang penting penting saja.
*******
Keesokan harinya....
Seperti biasa aku pergi ke kantor, aku dan Hans naik mobil masing-masing karena kami memang kurang akrab.
Sewaktu Nindy datang ntah ada apa dengan Nindy dia menumpahkan kopi kepada adikku yang dingin itu. Aku sontak kaget takut dia marah pada Nindy.
"Duh, maaf...maaf! Ujarnya sambil mengambil tisu mengusapkan pada kopi yg tumpah di celana adikku sambil ketakutan.
"What the hell, ish!, Apa kau bisa bekerja?! Dengan nada marah lalu melihat ke arah Nindy.
Saat adikku melihat ke arah Nindy tiba-tiba marahnya hilang. Aku jadi heran kok dia gak jadi marah.
__ADS_1
"Sudah tidak apa apa, aku bisa membereskan nodanya." Ujar adikku dengan lembut.
"Sekali lagi maaf ya pak. Saya benar-benar tidak sengaja." Balasnya dengan wajah yang sangat menyesal.
Aku heran adikku berubah seratus derajat ketika melihat si culun. Dan aku jadi berfikir apa adikku suka dengan si culun.
"Sudah, kamu boleh pergi!" Ucapku.
Selangkah Nindy untuk keluar Adikku memanggil Nindy lagi.
"Tunggu, buat kan saja saya teh." Pinta adikku.
"Iya, pak. Saya akan kembali untuk buatkan." Jawab Nindy.
Setelah itu Nindy pun keluar dari ruanganku.
"Ternyata kau masih tidak tau apa yang aku suka." Ucap adikku.
"Hah? Apa? Memang nya apa?" Jawabku dengan bingung.
"Aku tidak suka kopi, tapi aku suka teh." Balas adikku dengan wajah tengik nya yang dingin.
__ADS_1
"Oh, aku lupa. Kita kan sudah lama tidak ketemu." Jawabku santai.