
Lalu Sherly memelukku dan mencium bibirku singkat. Karena aku sudah lama tidak menciumnya lebih dulu.
Ketika Sherly pulang aku melanjutkan pekerjaan ku. Lalu aku menelpon Nindy karena ntah kenapa aku sangat ingin menelponnya.
(Tut.....Tut....Tut....)
"Ya pak, ada apa?" Jawab Nindy
"Kami dimana? Apa masih di kantor?" Tanya ku.
"Saya sudah di rumah, apa jangan-jangan bapak masih di kantor?" Tanya Nindy lagi.
"Aku memang masih di kantor, aku lapar, aku merindukan masakan mu." Balas ku.
"Kalau bapak lapar ya makan saja di luar atau pesan makanan! Saya bukan serketaris bapak lagi." Ujar Nindy jutek.
"Apa kamu bisa masak untuk yang terakhir kalinya? Karena kamu akan menikah dengan adikku, aku pasti akan sangat merindukanmu." Balas ku.
"Tidak. Sudah, saya tutup ya pak." Ujar Nindy jutek.
"Aku akan terus menunggu kamu datang, jika tidak aku tidak akan makan, apalagi pulang ke rumah!" Balas ku.
Tanpa berkata apapun Nindy menutup telponnya.
Aku yang galau sudah tidak konsentrasi dengan pekerjaan ku, lalu aku ke balkon gedung kantor dan menenang kan pikiran ku yang sedang kacau. Aku sedih karena Nindy sudah tidak peduli pada ku lagi.
Aku yang termenung dengan perasaan ku yang di lema ini berharap jika Nindy datang menemui ku. Dua jam kemudian aku masih ada di balkon. Lalu...
"Jadi bapak ada di sini?" Tanya Nindy.
__ADS_1
Lalu aku menoleh ke belakang ternyata Nindy yang datang. Aku tanpa berfikir apapun langsung melangkah ke arahnya dan memeluknya.
Kami pun saling berpelukan dan tak lama kemudian...
"Kamu datang, aku pikir kamu sudah tidak peduli lagi pada ku." Ujar ku haru.
"Apa bapak sudah makan?" Tanyanya lembut.
"Belum, aku menunggumu datang." Jawab ku.
"Jika saya tidak datang bagaimana dengan bapak?" Ujar Nindy.
"Ntahlah, mungkin aku kelaparan." Jawabku santai.
"Dasar bos gila, ayo turun ke ruangan bapak. Saya sudah bawa makanan untuk bapak." Ucap Nindy.
Lalu kami pergi ke ruangan ku, tanpa kami sadar, kami saling menatap satu sama lain dengan senyum.
"Enak sekali.. aku sangat merindukan masakan mu." Ucapku sambil melahap makanan.
"Makanlah yang banyak, saya tidak mau bapak sakit." Ujarnya lembut.
Aku memang sangat lapar, aku berubah menjadi senang karena aku bahagia Nindy datang menemui ku.
Aku pun selesai makan, kami saling mengobrol satu sama lain.
"Apa bapak sudah kenyang?" Ujarnya senyum.
"Kenyang sekali." Jawabku sambil tersenyum manis dengan Nindy.
__ADS_1
"Ya sudah saya pulang dulu." Ujar Nindy.
"Jangan pulang dulu, temani aku di sini sebentar lagi." Balasku.
"Ini sudah malam pak. Saya tidak enak nanti ada gosip tentang kita." Ucap Nindy
"Aku bos di kantor ini. Siapa yang buat gosip tentang kita aku akan memecatnya... Lagian aku akan mengantarmu pulang." Balasku.
"Ya sudah kalau gitu kita pulang saja." Ujar Nindy.
"Baiklah, aku akan antar kamu pulang." Balas ku.
Aku pun mengantar Nindy pulang, ketika Nindy hendak turun.
"Tunggu." Ucapku.
"Ada apa lagi, pak? Apa ada yang kelupaan?" Ucap Nindy.
"Iya ada yang kelupaan." Ucapku.
Lalu aku menatap mata Nindy, memegang pipinya dan mendekati wajahku, lalu aku mencium bibir Nindy mesra. Kami berciuman cukup lama, aku senang karena Nindy membalas ciuman ku.
Lalu tidak lama Nindy keluar mobil dengan wajah tersenyum kepadaku.
Aku pun sangat senang malam ini. Walaupun sesaat yang aku juga tidak tau apa yang akan terjadi besok.
(Di rumah Nindy)
Nindy yang masih berdiri Depan pintunya dan tersenyum malu.
__ADS_1
"Perasaan ku semakin berdebar dengan pak Willy, aku juga makin mencintai pak Willy, bagaimana ini." Ujar Nindy dalam hatinya dengan pipi memerah.