Di Antara Dua Wanita Berbeda

Di Antara Dua Wanita Berbeda
Terungkapnya Perasaan


__ADS_3

*******


Setelah aku bermesraan dengan Sherly lalu kami pun makan siang di luar, padahal aku ingin sekali makan masakan Nindy. Aku juga heran kenapa Nindy tidak mengantarkan aku makanan.


Tidak lama kemudian aku dan Sherly pun selesai makan siang, Sherly kembali ke rumah sakit sementara aku kembali ke kantor.


Setiba di kantor aku mengirim pesan kepada Nindy untuk datang ke ruanganku. Lalu tidak lama Nindy pun datang.


"Sayang, kamu kok gak kasih aku makanan hari ini." Ujar ku.


Namun Nindy hanya diam dengan wajah sedihnya.


"Kamu kenapa sayang? Kok sedih trus mata kamu sembab kenapa?" Ujarku lagi dengan nada cemas.


"Saya gapapa, hari ini saya masak untuk pak Hans." Jawabnya datar namun wajahnya masih murung.


"Kenapa Hans? Kenapa bukan untukku?" Balasku cemburu.


"Untuk apa kasih ke bapak? Bukannya ada Sherly." Jawabnya dengan nada tinggi.


Lalu aku tau ada apa dengan nya, ternyata dia cemburu.


"Aku tau kamu kenapa, pasti lagi cemburu ya." Ujarku yang menggoda nya.


"Tidak, saya tidak cemburu.... Sudahlah saya harus kembali ke meja saya takutnya nanti pak Hans mencari saya." Jawabnya cetus dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


Ketika Nindy hendak membuka pintu lalu aku memeluknya dari belakang.


"Maaf ya sayang.. aku tau ini berat! Aku tau kamu cemburu.. maafkan aku ya karena belum bisa menjadi kekasih mu seutuhnya." Ujarku padanya.


Lalu aku membalikkan badannya dan aku melihat dia meneteskan air mata, lalu aku memegang dagunya dan langsung menciumnya dengan mesra.


Setelah berciuman aku membuka kacamatanya dan menghapus air matanya.


"Aku janji gak akan buat kamu nangis lagi.. maafkan aku ya sayang..." Ujarku lembut.


"Apa kita putus saja?" Tanya Nindy.


"No and never.... I really love you... Jangan pernah katakan putus... Paham?" Balas ku.


"Tapi.."


Lalu Nindy terkaku dan wajah yang memerah. Lalu Nindy mengambil kacamata nya yang ada di tangan kiriku lalu dia keluar dari ruangan ku.


*****


Lalu aku pun pulang dari kantor, sebelum pulang ke rumah aku singgah dulu ke rumah sakit. Setiba di rumah sakit lagi lagi aku melihat ada Hendry yang sedang memeluk Sherly namun Sherly tidak menangis melainkan tertawa. Lalu aku mendekati mereka.


"Wah sayang, bahagia sekali." Sapa ku santai.


Nggak tau kenapa aku sudah tidak cemburu lagi. Padahal dulu aku cemburu mereka terlihat dekat.

__ADS_1


"Sayang, kamu salah paham kok. Tadi Hendry hanya menghibur ku." Balas Sherly panik.


"Jangan panik gitu. Aku nggak masalah kok. Lagian kamu kan selalu bilang Hendry best friend kamu." Ujar ku santai dengan senyum.


"Ya setidaknya aku lebih setia menemani Sherly daripada kau." Sambung Hendry.


"Iya, aku akui... Makasih ya, sudah menghibur Sherly." Ucapku senyum.


Hendry heran kenapa Willy sama sekali tidak cemburu malah Terima kasih padanya.


Ternyata papa nya Sherly sudah sadar dan membaik. Aku pun ikut senang.


Namun masih belum bisa di ajak ngobrol. Besok papanya Sherly sudah bisa pulang, jadi aku memutuskan untuk besok saja menemui papanya Sherly.


Saat Sherly dan mamanya ada di ruang papanya. Aku dan Hendry menunggu di luar.


"Hen, aku tau kamu pasti mencintai Sherly?" Ujar ku.


"Kenapa kau bicara seperti itu? Kau tidak takut kalau Sherly mencintai ku?" Balas Hendry.


"Aku tidak takut, tapi aku bahagia dia bersama mu.. aku sadar selama ini aku kurang perhatian padanya." Ucapku lagi.


"Tapi Sherly mencintaimu, dia hanya menganggap aku temannya saja." Balas Hendry.


"Berapa lama kau mencintai Sherly?" Tanya ku.

__ADS_1


"Sejak dulu, sejak kecil... Dari dulu aku selalu menjaganya dari lelaki yang menyakiti hati nya." Ujar Hendry.


"Aku minta dan mohon padamu, jika aku menyakiti Sherly, aku mohon kau ada di sisinya.. aku sadar sebenarnya kaulah yang terbaik untuk Sherly.. aku merasa seperti orang ketiga di antara kalian." Ujarku lagi.


__ADS_2