
Aku pun berada di butiknya sampai butiknya tutup lalu kami makan malam bersama.
"Sayang, kita selalu makan di luar.. kapan dong kamu masak untuk aku?" Tanya ku.
"Sayang, aku mana bisa masak. Aku belum pernah masak sebelumnya." Jawab Sherly santai.
Aku baru tau kalau Sherly tidak bisa memasak, jujur aku ntah kenapa kecewa Sherly tidak bisa memasak.
"Ya tapi kan kamu bisa belajar sayang." Kata ku.
" Aku gak mau masak. Nanti kuku aku rusak. Terus kulit aku kena minyak gimana?.. lagian kan ada pembantu sayang.." jawab Sherly
Aku pun sontak kecewa karena Sherly tidak mau berusaha belajar untuk membuat hati ku senang. Lalu ntah kenapa aku memikirkan si culun yang sangat berbeda sekali dengan kekasihku.
Tapi aku berfikir lagi, aku tidak boleh egois dan memaksa kekasihku untuk menjadi apa yang aku mau.
Lalu aku pun mengantar Sherly pulang ke rumahnya, dan lagi lagi hanya sampai depan pintu. Lalu aku pun bertanya kapan orang tua Sherly kembali.
"Sayang kapan orang tua kamu kembali?" Tanya ku
"Mungkin sebulan lagi. Kenapa sayang?" Jawab Sherly
"Ya aku selalu Depan pintu, kamu gak pernah persilahkan aku masuk ke dalam. Padahal kita sudah pacaran dua bulan." Ucapku
"Iya nanti ya, lagian ini dah malam. Aku lelah dan mau tidur aja." Jawabnya
" Ya sudah kalau begitu, selamat malam sayang." Ujarku.
__ADS_1
"Selamat malam juga sayang." Jawabnya.
Kami pun saling berpelukan dan aku mencium bibir Sherly.
Aku pun pergi untuk pulang ke rumah. Ya, memang sudah dua bulan berlalu kami pacaran, tidak terasa aku ingin sekali menemui keluarga Sherly dan bilang ingin melamarnya.
Seperti biasanya aku berangkat ke kantor dan melakukan aktivitas seperti biasa, lalu aku pun mulai curhat kepada serketaris culunku. Ntah kenapa aku merasa nyaman saja menceritakan masalahku padanya.
"Jadi sampai saat ini bapak belum bertemu orang tuanya?" Ujar serketaris ku.
"Iya, dia bilang orang tuanya sebulan lagi baru kembali, yang aku bingung kenapa aku gak pernah di ajak masuk ke rumahnya." Tanya ku.
"Ya mungkin dia memang lelah pak. Coba bapak datang pas hari libur, dan itu pun siang hari." Jawabnya
"Baiklah. Aku coba.. biasanya kalau hari libur dia cuma setengah hari di butik." Balas ku.
Aku pun mulai kembali semangat lagi. Lalu aku menanyakan dia masak apa hari ini.
"Kamu masak apa hari ini?" Tanya ku.
"Saya tidak bawa bekal hari ini pak, karena saya bangun kesiangan! Lagian bapak gak suruh saya bawa makanan?" Ucapnya.
"Mulai besok bawa saja makan siang untuk saya. Masa saya harus minta dulu..." Balasku dengan cetus.
"Iya pak.. iya.. marah terus." Balasnya lagi.
"Apa kamu bilang? Marah terus?" Balas ku karena mendengar dia yang bilang aku pemarah.
__ADS_1
"Tidak pak, bukan begitu... Saya cuma gak mau bapak marah terus ke saya! Nanti saya jantungan pak." Ucapnya dengan sedikit takut pada ku.
Melihatnya sedikit gugup seperti itu membuat ku senang, ntah kenapa aku suka sekali mengganggunya. Apalagi melihat Tingkah bodohnya yang kadang membuat ku tertawa.
Lalu jam makan siang pun tiba, karena aku tau hari ini serketaris ku tidak membawa bekal aku pun mengajaknya makan siang di luar. Lalu dia pun tidak menolak.
Lalu kami makan di cafe dekat kantor dan memesan makanan pilihan kami masing-masing dan ternyata makanan kesukaan kami sama yaitu nasi ayam Hainan.
"Pesan apa?" Kata waiter kepada kami berdua.
"Nasi ayam hainan" ucap ku dan Nindy serentak.
Lalu kami berdua melihat satu sama lain dan tertawa karena kami serentak.
Setelah memesan makanan kami pun mengobrol.
"Kamu suka nasi ayam hainan juga ya." Tanyaku
"Iya, pak. Dulu ibu saya sering masak itu untuk saya." Jawab Nindy
"Wah, sama dong.. ibu juga sering memasak itu untuk saya. Cuma sekarang sudah jarang." Balas ku.
"Kenapa jarang pak?" Tanya dia.
"Iya saya sudah jarang makan di rumah, saya selalu pulang malam karena sibuk dengan Sherly." Jawab ku dengan agak sedih.
"Ya harusnya bapak juga meluangkan waktu untuk ibu bapak." Ucap Nindy
__ADS_1
"Iya kamu bener juga, baiklah nanti malam saya makan malam di rumah." Jawab ku.