
Nindy yang terdiam sambil menelan ludahnya, dengan wajah memerah dan jantung berdebar kencang karena tidak tau mau berkata apa, Nindy pun langsung pergi dengan wajah malunya itu.
*******
(Di meja makan)
"Sherly tadi pamit tiba tiba ada apa sih Nak?" Tanya mama.
"Iya, papanya Sherly sakit, jadi dia mendadak pergi ke rumah sakit." Jawabku.
"Loh bukannya papanya masih di luar negeri?" Tanya mama lagi.
"Papanya baru datang tadi pagi ma. Soalnya kami kan mau nikah!" Jawabku.
"Oh begitu! Oh ya Nindy, papa kamu gimana sudah baikan?" Tanya mama.
"Oh, sudah kok Tante, papa sudah sehat sekarang." Jawab Nindy sopan.
"Iya pasti papa kamu bangga sekali sama kamu ya, Tante aja salut sama kamu.. kamu itu memang calon menantu idaman." Ujar mama ku dengan senyuman tulusnya.
Nindy pun tersenyum tanpa bisa berkata apa apa lagi, sementara aku dan Hans memandang pada Nindy dengan senyuman juga.
Aku yang sangat ingin berduaan dengan Nindy memikirkan cara bagaimana caranya supaya dia bisa berdua saja dengan ku.
Lalu aku ingat kalau di kamar ku ada obat tidur, ya karena kadang kadang aku susah tidur. Lalu aku mengambil obat itu di kamar dan diam diam memasukkan obat itu di minuman Hans yang sedang asik mengobrol dengan mama dan Nindy.
Ternyata Nindy melihat ku, lalu aku memandangi Nindy dan bilang "ssst!" Dengan mengangkat telunjuk tanganku di bibir ku.
Lalu Nindy pun menurut dan dia hanya diam. Lalu Hans pun meminum tehnya itu. Dan 15 menit kemudian dia menguap dan mengantuk.
__ADS_1
"Kamu mengantuk?" Tanya mama.
"Iya ma, gak tau kok aku ngantuk banget!" Jawab Hans sambil menguap lagi.
"Ya sudah kalau begitu Willy saja nanti yang mengantar Nindy pulang." Balas mama lagi.
"Tidak ma, aku saja." Jawab Hans ngeyel padahal matanya sudah merah karena ngantuk.
"Tidak tidak, mama nggak mau kalian kenapa-kenapa.. mending kamu ke kamar sana." Ujar mama.
"Nggak apa ma, aku bisa!" Balas Hans.
"Tidak, ya sudah mama antar kamu ke kamar! Nindy, Tante antar Hans ke kamar dulu ya." Ujar mama sambil merangkul Hans yang sudah mulai tidak sadarkan diri.
"Iya Tante." Jawab Nindy mengangguk.
Mama pun mengantar Hans ke atas di kamarnya. Sementara aku pindah tempat duduk di sebelah Nindy. Nindy langsung terbelalak dan malu karena ketika aku duduk di sebelahnya langsung merangkulnya.
"Jangan begini pak, saya takut yang lain melihat." Ucapnya menunduk tanpa berani memandang ku.
"Biar saja, paling kita yang akan di nikahkan! Bagaimana kalau kamu jadi selingkuhan ku?" Ujar ku yang masih memandangi wajahnya.
"Tidak, saya tidak mau! Itu akan menyakiti banyak orang!" Jawab Nindy yang masih menunduk.
Lalu aku mendengar langkah kaki dan aku langsung pindah ke posisi semula sambil melihat ponselku.
"Willy, kamu antar Nindy ya, Hans sudah tidur pulas!" Ujar mama.
"Baik ma, aku akan antar dia sampai rumah." Jawab ku dengan wajah senyum.
__ADS_1
Kami pun pamitan dengan mama, aku tidak mengantar Nindy langsung pulang tapi aku mengajaknya ke taman.
"Ini kan taman! Kenapa kita ke sini?" Tanya Nindy.
"Udah ayo, ikut saja!" Ujar ku.
"Nggak ah, saya mau pulang aja!" Balas Nindy gugup.
"Nindy, kamu tenang aja, aku gak bakalan perkosa kamu." Ujar ku santai.
"Idih, siapa juga yang ngebayangin itu. Saya itu gak enak, jadi mau langsung pulang." Jawabnya dengan wajah cetus.
Lalu kami pun jalan jalan ke taman sambil mengobrol.
"Aku senang bisa dekat dengan kamu." Ujar ku.
"Apa bapak tidak ingat mbak Sherly?" Balas Nindy.
"Nggak.. aku juga nggak tau kenapa kalau sama kamu itu beda." Balasku lagi.
"Bapak sadar kan kita ini mau menikah dengan pasangan masing-masing! Jadi bapak nggak boleh jatuh cinta sama saya." Ucap Nindy.
"Cinta itu tidak tau kapan datangnya... Aku juga bingung sama diriku sendiri! Kita selama ini sudah dekat, apa kamu tidak cinta sama aku?" Tanya ku.
"Apa? Kok pak Willy tanya itu." Jawabnya gugup.
Lalu aku memegang bahu Nindy dan melihat matanya. Kami pun saling memandang satu sama lain.
"Lihat mata aku, tanya hati kamu, kamu cinta sama aku apa nggak.. di sini aku bukan seorang bos, tapi Willy lelaki biasa menyukai kamu." Ujar ku lembut dengan menatap mata Nindy.
__ADS_1
"Iya, saya cinta sama bapak! Namun saya bisa apa, saya calon istri pak Hans." Ujar Nindy lembut dan gugup.