Di Antara Dua Wanita Berbeda

Di Antara Dua Wanita Berbeda
Dia Bukan Serketaris ku lagi


__ADS_3

Lalu Nindy menghapus air matanya dan keluar dari kamar ku.


"Ya ampun, kenapa mulut ku ini selalu kasar dengan dia.. aku harus mengejarnya." Ucapku dan aku berdiri dari tempat tidur ku.


Saat aku membuka pintu, aku sudah melihat Hans memeluk Nindy yang sedang menangis. Wajahku langsung berubah murung dan kembali masuk ke kamar ku.


*****


"Sudah kamu jangan menangis lagi ya, mulai besok kamu jadi serketarisku." Ucap Hans yang memeluk Nindy.


"Gimana bisa pak, saya kan harus izin pak Willy dulu." Ucap Nindy sambil melepas pelukan.


"Izin atau atau tanpa izin dari dia, kamu akan tetap jadi serketarisku." Ujar Hans.


****


Lalu Hans dan Nindy pun makan siang di meja makan rumah Willy dan Hans. Karena makan siang sudah siap.


(Ketika Hans dan Nindy sedang makan)


"Maaf, tuan. Apa tuan Willy di panggil makan juga?" Tanya pembantu Hans dan Willy.

__ADS_1


"Tidak bi, antar saja makanannya di kamar Willy, dia sedang sakit." Balas Hans.


"Baik tuan." Jawab pembantu mereka.


Bibi pun menyiapkan makanan untuk Willy. Lalu Nindy menawarkan diri untuk mengantarnya, namun Hans mencegah Nindy.


"Biar saya saja, bi." Ucap Nindy dan mengambil nampan makanan.


"Kasih ke Bibi lagi, ini bukan tugasmu." Ucap Hans datar.


"Tidak apa pak, saya mau mengantarkan makanan ini. Saya tadi juga ada bicara yang tidak baik pada pak Willy." Balas Nindy.


Lalu Nindy pun memberikan nampan itu lagi pada Bibi. Mereka pun kembali ke kantor.


*****


Waktu pun berlalu, ketika Nindy sampai di rumahnya dia kaget karena ada aku di rumahnya yang sedang bicara dengan ayahnya.


"Sedang apa bapak di rumah saya?" Tanya Nindy kepada ku.


"Aku hanya mampir. Kamu pulang sendiri?" Tanya ku.

__ADS_1


"Iya saya naik ojek tadi." Jawab Nindy datar.


"Ya sudah, ayah tinggal dulu ya kalian." Ucap ayahnya Nindy.


Lalu aku pun mulai mengobrol dengan Nindy dengan nada lembut dan sedikit tegas tentunya.


"Saya mungkin sudah menyinggung kamu, saya tidak akan menyakiti kamu lagi. Mulai besok kamu jadi serketaris Hans, bukan serketaris saya lagi." Ucapku agak sedih.


" Apa? Jadi bapak menyetujui itu." Ucap Nindy.


"Iya, semoga kamu nyaman dengan Hans ya." Ujar ku dan pergi.


Aku sebenarnya sedih, namun aku juga tidak mau menyakiti apalagi membuat dia nangis seperti tadi. Tanpa menoleh ke belakang aku pun pergi.


Besok harinya aku tidak ke kantor, aku merasa tidak enak badan jadi tidak ke kantor, dan aku pun menelpon Sherly agar aku terhibur pikirku.


Sherly memang merawat ku dia juga menyuapi ku bubur yang sudah di masak pembantu ku, namun ntah kenapa hatiku masih sedih dan kurang semangat sampai akhirnya Sherly pun memelukku untuk membuat ku semangat namun tetap tidak, tapi aku tidak mau membuat Sherly cemas namun aku memaksakan diriku untuk semangat.


Sherly menemaniku sampai malam, karena Hans belum juga pulang padahal sudah malam jam 9, karena aku tidak tega dengan Sherly yang sampai malam begini. Aku menyuruhnya untuk kembali ke rumah agar dia bisa istirahat, namun ternyata Hendry yang menjemput Sherly.


Pada saat jam 10 aku mendengar suara pintu dari luar, sepertinya Hans sudah pulang. Aku yakin pasti Hans dari rumah Nindy. Namun aku memaksa cuek, karena itu bukan urusan ku lagi. Karena Nindy bukan serketaris ku lagi.

__ADS_1


__ADS_2