
Tidak lama kemudian Hendry datang dan kami pun makan siang bersama.
Kami mengobrol yang biasa biasa saja. Setelah makan aku mengajak Hendry ngobrol berdua di taman belakang rumah Sherly, sementara Sherly ke kamarnya gak tau ngapain.
"Aku kalah satu langkah lagi dengan mu." Ujarku.
"Maksud mu?" Tanya Hendry yang bingung.
"Ya, kau tanam modal di perusahaan papa Sherly padahal itu seharusnya tugas ku." Ujarku lagi
"Ya emang.. tapi seperti yang aku lihat kamu sama sekali tidak peduli dan sibuk dengan urusan mu... Jadi aku yang maju satu langkah." Jawab Hendry.
"Gimana kalau kau yang menikahi Sherly?" Ujar ku.
Hendry sontak kaget lalu dia menjawab "aku maunya begitu, kenapa tidak kau tinggalkan saja dia."
"Aku tidak bisa meninggalkan Sherly kalau bukan Sherly yang melepaskan ku.. aku sayang padanya." Ujarku.
"Apa kau sudah menyukai orang lain?" Tanya Hendry penasaran.
__ADS_1
Aku langsung gugup dengan pertanyaan Hendry yang membuat ku terbata bata menjawabnya "em.. aku... Ya.. aku... Nggak mungkin menyukai wanita lain.. kau sudah gila ya."
Tanpa berkata apapun aku langsung kembali ke ruang tamu sambil menunggu Sherly.
(Tanpa Willy dan Hendry tau, ternyata Sherly mengetahui dan mendengar pembicaraan mereka. Karena tau Willy ke ruang tamu Sherly pun menyusul Willy)
"Siapa wanita lain itu?" Tanya Sherly yang tiba tiba datang.
Aku yang kaget dan gugup berusaha tenang dan menjawab "maksud kamu apa sayang.. kok tanya begitu?" Dengan nada lembut dan sedikit tenang.
"Udah deh, aku tadi dengar pembicaraan kamu sama Hendry... Yang aku mau tanya siapa wanita itu?" Ujarnya kesal.
Dengan tatapan manisku Sherly pun langsung melunak dan berkata "yang benar? Kalau kami bohong apa hukumannya?"
Lalu aku memegang bahu Sherly dengan kedua tangan ku lalu aku menjawab "jika aku berbohong kamu boleh marah dan tinggalkan aku." Yang menatap matanya.
Sherly dengan mata yang berkaca-kaca menatap mataku lalu diapun memelukku, aku pun langsung bernafas lega. Aku hanya takut menyakiti hati Sherly.
Waktu berlalu sangat cepat, hari pernikahan ku dan Hans tinggal 5 hari lagi.
__ADS_1
Hari ini aku sudah membuat janji dengan Nindy di cafe biasa.
"Hari pernikahan kita sudah dekat." Ujar Nindy
"Iya sayang, aku tau.. aku juga bingung!" Jawab ku
"Kamu harus tegas dong sama hati kamu, sebenarnya kamu serius gak sih sama aku?" Tanya Nindy serius.
"Aku serius dong sama kamu, aku cuma gak mau nyakitin perasaan Sherly itu aja." Jawabku sambil memegang tangan Nindy.
"Tapi kamu menyakiti aku.. apa lebih baik kita akhiri saja hubungan ini... Sepertinya kamu juga tidak pikirkan hubungan kita." Ujar Nindy sambil melepaskan genggaman tanganku dengan mata yang berkaca-kaca di balik kacamatanya itu.
"Sayang, aku mohon! Aku gak bisa tanpa kamu.. aku gak rela kamu menikah dengan Hans.. kita saling mencintai... Aku cuma butuh waktu." Ucapku yang berusaha memegang tangannya.
*********
(Ternyata saat di cafe Steve mengikuti Willy, karena ketika Willy pergi dari rumah wajahnya begitu serius. Ketika Steve mendengar pembicaraan mereka dia pun kaget ternyata Willy mencintai pacar Hans)
What? Jadi mereka pacaran? Ini membuat ku bingung... Kak Willy juga mencintai wanita culun itu? Hm, sebenarnya apa istimewanya dia sampai-sampai kedua kakakku menyukai dia." Ujarnya dalam hati kaget sekaligus heran.
__ADS_1
Lalu Steve pun punya rencana untuk kedua kakaknya itu.