
Aku sangat senang dan tersenyum pada Nindy sambil menatap matanya dan memegang bahunya, lalu aku mendekatkan wajahku lalu aku mencium bibir Nindy mesra.
Aku senang ternyata kami saling mencintai, aku dan Nindy pun resmi pacaran di belakang Sherly dan Hans.
Setelah itu aku pun mengantar Nindy pulang ke rumahnya. Sampai di depan rumahnya kami saling tersenyum malu-malu.
"Good night culun sayang." Ujarku malu.
"Good night bos sayang!" Balas Nindy senyum malu.
Aku pun memeluknya dan mencium pipinya, lalu Nindy masuk ke rumahnya.
Aku juga masuk ke mobil sambil senyum-senyum sendiri karena saking bahagianya.
Waktu pun berlalu aku yang bangun di pagi hari masih senang memikirkan kalau aku dan Nindy sudah pacaran sekarang. Aku yang segera bersiap berangkat ke kantor untuk menemui si culun sayang.
Ya aku dan Nindy memang diam diam menjalin hubungan, tapi bagiku itu sudah membuatku senang.
*******
Ketika jam makan siang, Nindy diam diam datang ke ruanganku dengan membawakan aku makanan.
"Siang, pak! Ini saya bawakan makanan." Ujar Nindy sambil berjalan ke mejaku.
"Sayang, formal sekali... Kan gak ada siapapun di sini... Hanya kita berdua."
Balasku sambil berdiri dan mendekatkan wajahku dengan memegang kedua pinggangnya yang langsing.
"Ini kan kantor, jadi saya harus formal." Ujarnya senyum malu.
"Jangan malu begitu, dengar ya.. kamu itu kekasihku sekarang jangan panggil pak kalau kita lagi berdua saja." Ujarku lagi.
__ADS_1
"Iya baiklah, pak.. eh, sayang." Balasnya malu.
Lalu aku memeluknya dan mencium kening Nindy lanjut mencium pipi kanan dan kirinya, ketika aku ingin mencium bibirnya, ponsel Nindy berbunyi ternyata Hans yang menelpon.
"Pak Hans menelpon.. soalnya tadi saya izin ke kamar mandi padanya.. saya pamit dulu." Ujarnya buru Buru.
Namun aku tetap tersenyum senang, lalu aku pun memakan masakan si culun sayang ku. Ketika aku sedang enak makan, Hendry menelpon.
"Hallo, siapa ini?" Tanya ku.
"Ini aku Hendry, pacar macam apa kau ini? Calon ayah mertua kau ada di rumah sakit tapi sampai sekarang kau tidak datang.." ujar Hendry marah.
"Iya aku ingin ke sana, nanti sepulang dari kantor aku ke rumah sakit." Balas ku.
"Sesibuk itu kah kau? Sherly sedih di sini." Ujar Hendry kesal.
"Iya baiklah, aku akan segera ke sana." Jawabku.
Setiba di rumah sakit, aku melihat Sherly yang sedang menangis di bahu Hendry. Aku menyadari ternyata Hendry begitu peduli pada Sherly.
Lalu aku mendekati Sherly dan Hendry.
"Sayang." Ujar ku.
"Kamu di sini." Balas Sherly dan memeluk ku.
"Maaf ya aku baru datang. Aku masih sibuk." Ujar ku sedih.
Lalu Sherly hanya menangis di pelukan ku, aku pun berusaha menenangkan kekasihku ini. Ternyata ayah Sherly terserang sakit jantung, dari yang aku tahu perusahaan ayah Sherly terancam bangkrut.
Aku sangat prihatin dengan kondisi Sherly saat ini, aku sadar selama ini aku terlalu sibuk dengan Nindy si culun ku. Lalu aku memutuskan untuk menemani Sherly dan mamanya Sherly.
__ADS_1
Saat tengah malam, Nindy mengirim pesan pada ku.
Nindy
12.02 a.m
Kok kamu gak angkat telpon? Apa kamu masih di rumah sakit?
Aku
12.05 a.m
Iya sayang, aku masih bersama Sherly, aku gak tega dia menangis terus.. kamu kenapa belum tidur?
Nindy
12.07 a.m
Aku juga prihatin ya sayang.. iya aku belum bisa tidur, tadi pak Hans baru selesai menelpon.
Apa kamu akan menginap?
Aku
12.09 a.m
Tidak sayang, nanti jam 1 aku pulang kok, soalnya besok aku kan harus ke kantor, kamu tidur ya..
Nindy
12.11 a.m
__ADS_1
Iya ini aku mau tidur, bye."