
Hatiku terasa gelisah sampai aku pun tidak bisa tidur, baru saja aku tidur satu jam alarm ku pun sudah berbunyi. Aku yang dengan mata panda bergegas mandi dan bersiap pergi ke kantor.
Ketika aku keluar kamar aku sudah melihat Hans yang sudah rapi. Namun kali ini aku tidak menyapa Hans karena aku masih kesal.
******
Setibanya di kantor para karyawan melihat ku sambil berbisik satu sama lain dan aku juga tidak tau kenapa. Namun pada akhirnya aku bertemu dengan si culun yang membuat mood ku semakin buruk. Lalu si culun pun melihat ku dengan tatapan kaget.
"Ya ampun, pak. Ada apa dengan bapak hari ini?" Tanya si culun dengan wajah kaget
" Ada apa? Apa yang salah dengan ku? Aku pun jawab dengan aneh juga kenapa dengan ku.
"Tidak biasa wajah bapak seperti ini?" Tanya Nindy lagi sambil memegang pipiku.
"Ada apa kau jangan terbelit Belit." Buat ku semakin malu dan gugup karena dia memegang pipiku.
Lalu Nindy memberikan ku kaca dan aku pun melihat diriku di cermin ternyata mataku sudah seperti panda, ini akibat kurang tidur pikirku.
"Gimana? Gimana ini? Apa yang harus ku lakukan?" Tanya ku pada Nindy dengan gelisah.
"Ya simple aja pak. Bapak sekarang pulang dan tidur. Kayaknya bapak kurang istirahat deh." Jawab Nindy
"Iya ini semua gara gara kamu. Kamu penyebabnya." Balas ku marah dan pergi dan pulang.
__ADS_1
******
" Ada apa dengan dia? Kenapa jadi aku yang di salahkan? Dasar bos gila!"
Kata Nindy selepas bos nya pergi dengan kesal.
*****
Jam istirahat pun tiba, namun Nindy merasa cemas dengan bos nya itu dan pergi ke rumah Willy. Ketika dia hendak pergi ada Hans yang menyapanya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Hans pada Nindy.
"Mau ke rumah pak Willy, pak! Dia hari ini kelihatan tidak baik, jadi tadi pagi dia pulang lagi." Balas Nindy.
"Tidak merepotkan ya pak? Saya pergi sendiri aja." Balas Nindy.
"Tidak, udah ayo.. nanti bos kamu malah mati lagi." Ujar Hans santai dan datar.
Sontak Nindy heran, karena mereka kakak adik tapi tidak kompak sama sekali.
Lalu mereka pun pergi berdua ke rumah Willy dan Hans. Ketika sampai Hans menunjukkan kamar Willy kepada Nindy dan Hans pun pergi ke kamarnya.
*****
__ADS_1
Ketika di kamar Willy ternyata Willy sedang tidur. Namun Nindy tidak tega untuk membangunkan bos nya itu, namun Nindy hanya memandangi Willy yang sedang tidur.
"Ya ampun, pak Willy kalau tidur manis sekali. Coba kalau sadar, menyebar sekali... Apa pak Willy baik baik saja ya?" Ucap Nindy dalam hatinya.
Lalu ketika hendak keluar kamar aku terbangun. Sebenarnya aku sudah tau dia memandangi ku.
"Kau, mau kemana?" Ucapku ku.
"E...e.. bapak sudah bangun?" Ucapnya gugup.
"Iya hawa badanku panas, jadi aku terbangun dan ternyata kau yang membuat ku panas..." Ucapku jutek.
"Ya.. semua salahku pak.. karena aku salah memilih bos.." balasnya kesal.
"Ya sudah cari saja bos lain." Balasku jutek lagi.
"Oh iya, sudah ada kok... Tinggal tunggu persetujuan bapak aja." Jawabnya.
Aku terdiam sebentar dan berharap dia tidak serius.. "mana ada yang betah dengan mu.." ucap ku lagi dengan jutek.
"Terus kenapa bapak masih mau saya jadi serketaris bapak?" Jawab Nindy.
Aku bingung dan diam sejenak sambil berfikir.. " ya karena aku kasihan padamu." Jawabku jutek lagi.
__ADS_1
"Apa? Baiklah.. saya tidak butuh di kasihani. Saya mau pindah jadi serketaris pak Hans... Pak Hans selalu baik ke saya. Dia selalu berkata lembut ke saya...." Ucapnya dengan wajah sedih dan meneteskan air mata.